
Di antara desiran ombak
Perahu kertas yang terkena desiran omabak
Memahat kata di pesisir pantai
Di langit malam bersinar si mata biru
Menatap jauh, rahasia dunia terkuak
Nyonya laut menari di dasar samudra,
Pasang surutnya mengalun lagu tak terucap
Di mata biru, cerita terpahat indah
Dalam genggaman rindu, si mata biru menghilang,
Menyatu dengan warna samudra yang dalam
Nyonya laut tetap setia, menari melingkar,
Pasang surutnya, irama kehidupan yang abadi.
Si mata biru, nyonya laut, dan pasang surutnya,
Menyatu dalam puisi, harmoni yang abadi.
Dalam gelombang biru, rahasia terkuak,
Hingga akhirnya, berjumpa di tepi dunia.
Baca juga: Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang
Coretan Takdir
Di antara pepohonan, angin berbisik lembut,
Menyampaikan cerita pada dedaunan yang merayap.
Cinta terbentang dalam sinar matahari,
Sebuah puisi yang terukir di buku alam.
Malam tiba, bintang-bintang berserak,
Menyulam cerita dalam langit yang gelap.
Di sudut gelap hati, kesepian bergema,
Puisi malam mengelilingi ruang kosong.
Dalam riak gelombang, lautan berkisah,
Mengukir puisi tentang kekuatan dan kerapuhan.
Langit biru menari dengan awan putih,
Sebuah lukisan abadi di kanvas waktu.
Takdir mengalun seperti melodi yang tak terduga,
Mengisi keheningan dengan kisah yang beragam.
Puisi ini, sebuah catatan perjalanan,
Dalam setiap baris, menyimpan makna yang mendalam.
Baca juga: Mengantarkan Mereka Pulang
Mimpi di Antara Hening Malam
Di atap rumah tumbuhlah kentang,
Bulir-bulir kata tersusun tak beraturan.
Kucing-kucing berdansa di sekitar piano,
Memainkan simfoni kelucuan tak berujung.
Dari utara matahari bersinar,
Pagi menyapa dengan sinar hangat.
Burung-burung bernyanyi dalam keceriaan,
Sejuknya embun memeluk dedaunan.
Di tengah hari yang panas menggigit,
Bayangan tumbuh merentang di bawah kaki.
Keringat menetes di wajah yang letih,
Namun bunga-bunga tetap berkembang.
Mentega menjadi guru filsafat,
Sedangkan kipas angin berkisah tentang kehidupan.
Saat roda sepeda menyanyikan lagu blues,
Angin malam berbisik puisi-puisi gelap.
Puisi-puisi karya Elisabeth Diahningrum Putri Nuswantara, pelajar Kelas X SMA Negeri 9 Kota Malang
(Editor: Iman Suwongso)
