Sarang (The Nest)

Kikan, gadis itu membawa keranjangnya dengan sukacita. Rambutnya yang ikal terurai nampak seperti gulungan spiral yang menari-nari di punggungnya. Blus yang dikenakan nampak kebesaran, garis lengannya sedikit melorot dari bahu. Usianya delapan tahun, namun lebih mungil dibanding anak seusianya. Bandana kain yang ia kenakan buram warnanya, entah biru atau lila, menutupi sebagian kepala.

Baca juga: Pagi Tak Selalu Tentang Kopi

Ia melenggangkan badan melewati pematang kebun, dengan celana berbahan kanvas menutupi hingga mata kaki. Beberapa langkah ke depan, Beth kakak perempuannya berjalan mendahului. Mata Beth kerap dipicingkan bila menemukan sesuatu yang menarik perhatian. Hari ini mereka ingin mengumpulkan telur burung sebanyak mungkin. Mama senang bila mereka pulang bermain bisa membawa sesuatu yang berharga untuk dimakan.

Pada kesempatan yang lalu, mereka bermain di telaga sebelah timur hutan kecil. Mereka kini masuki lagi dan berhasil membawa tumbuhan semacam ganggang yang sangat lezat saat dimasak Mama, dibumbui sisa lemak ayam yang telah diolah dengan aneka rempah-rempah. Kali lain, mereka mendapat seikat belut dari petani di desa tetangga yang sedang memanen tambaknya. Waktu itu mereka membantu memisahkan belut ke dalam kelompok ukuran. Ya, hanya belut-belut kecil sebagai upah. Tapi Mama selalu dapat mengolah bahan makanan apa saja menjadi sajian istimewa.

“Kikan! Cepatlah kemari, dan hentikan senandung jelek itu,” Kikan yang mulai bernyanyi kecil seirama lenggangan badannya terkesiap. Ia segera mendekati Beth dengan wajah sedikit pias, namun kemudian terpancar rasa penasaran yang sangat jelas. Saat seperti itu, bintik-bintik coklat halus di pipinya semakin terang karena wajahnya merona merah jambu.

Baca juga: Bang

“Sini kupegang keranjangnya, naiklah ke pohon dan ambilah telur-telur di ujung dahan sebelah sana,” demikian lantang perintah Beth seperti biasa. Beth kakak perempuannya, bertubuh gempal. Rambutnya yang kaku diikat ekor kuda. Kikan kadang membayangkan itu seperti cemeti yang digunakan Papa untuk membuat kuda mereka berlari lebih cepat. Walaupun matanya memiliki sorot yang senantiasa waspada diarahkan ke sana ke mari, cara berjalannya kaku, langkahnya panjang-panjang, mirip seperti tentara. Walaupun mereka senang bermain ke hutan, kolam-kolam, sungai kecil maupun kebun, Beth lebih senang kelihatan rapih sepanjang waktu.

Beth lebih tua empat tahun dari Kikan, namun Kikanlah yang selalu lebih sering melakukan apa saja untuk Beth. Kadang ia harus membopong bawaan mereka sepanjang jalan pulang. Namun Beth yang harus menyerahkannya pada Mama. Biasanya sebelum jalan berbelok menuju rumah mereka, Beth akan berkata seperti ini, “Kikan! sini aku yang bawa barang-barang itu, dan cucilah tangan dan wajahmu di pancuran”.

Pancuran itu, sudah lama berada di sana. Biasanya dimanfaatkan para pengendara kuda yang ingin beristirahat dan memberi kuda-kuda mereka minum. Kikan sebenarnya agak muak bila harus mencuci tangan dan wajah di pancuan itu. Bau kotoran kuda dan kadang airnya berpasir. Tapi Beth sering mengatakan, ia ingin Kikan nampak bersih bila tiba di rumah. Dan Kikan selalu percaya, kata-kata Beth selalu benar. Mama memang selalu senang, bila mereka pulang bermain tidak terlalu kotor seperti anak-anak yang bermain liar.

Kikan sudah berada di ujung dahan, hampir bisa meraih telur-telur itu, tiba-tiba terdengar teriakan Beth, “Lekaslah Kikan, ambil telur-telur itu, sebelum lebah-lebah merasa terganggu akan kehadiranmu!”.

Baca juga: PHK

“Di mana?” tanya Kikan dengan suara bergetar. Ia masih ingat ketika pernah lari ketakutan hingga habis nafas dikejar gerombolan lebah saat bersama Beth mengumpulkan keong di kebun Pak Parker. Dan diserang lebah di atas pohon adalah hal terburuk, pikir Kikan. Dari atas, hanya terlihat kepala Beth dan kuncirnya yang kaku berkibas ke sana ke mari. Kikan lebih khawatir suara Beth yang sangat berisik di tengah kesunyian hutan yang akan membuat lebah-lebah itu menyerangnya.

“Di atasmu!” seru Beth. “Ayo, cepatlah! Mereka belum ada yang keluar dari sarang, asal engkau tidak lamban seperti itu!” ketegasan suara Beth selalu berhasil membuat Kikan bertindak efisien. Segera telur-telur dan sarang yang dijalin dari ranting-ranting halus itu berpindah ke tangan Kikan. Kikan membawanya hati-hati. Dahan itu tak terlalu tinggi, ia masih bisa menuruninya dengan berpegangan dengan satu tangan. Ia gunakan gaun atas yang menjurai, untuk membungkus sarang itu hingga aman terdekap di dadanya dengan tangan kiri.

Saat kakinya menyentuh tanah, terdengar lagi suara Beth mengusik kesunyia, “Kikan! Mengapa kau bawa turun sarang itu? Kemana nanti induk burung itu pulang? Kita sudah mengambil telur-telurnya, lalu kau rusak pula rumahnya!” Kikan sejenak termenung. Tapi, ia mulai bisa menguasai lebih baik serangan-serangan Beth yang sudah menjadi sarapannya sehari-hari. Beth segera mengambil telur-telur itu, membungkusnya dengan lap, dan meletakkan di dasar keranjang. “Biar, aku saja yang membawanya. Mama tentu tak ingin engkau memecahkan telur-telur ini sebelum sampai rumah karena jalanmu yang tak pernah bisa lurus,” sentak Beth ketus.

Baca juga: Dahan

Bagi Kikan tak jadi soal. Ia memang senang berjalan seperti itu, setiap ia menginjakkan kaki di rumput-rumput berdaun semanggi yang banyak terdapat di hutan kecil mereka itu. Rasanya selalu ingin menari-nari. Beth dengan tangkas berjalan jauh di depannya. Sekilas Kikan memandang sarang yang ia turunkan dari pohon bersama telur-telur kecil. Ia merasa sayang dengan sarang itu, tapi tak mungkin ia kembalikan ke atas dahan. Sarang lebah nampak bergoyang-goyang diterpa angin. Beberapa lebah di luar sarang masih nampak tak terganggu. Dibawanya dengan hati-hati sarang burung yang kelihatan rapuh, sambil mengikuti langkah Beth dalam jarak secukupnya. Tak perlu Beth mendengar apa yang akan senandungkannya. Kikan berjalan seperti biasa, kali ini hanya bernyanyi dan menari di dalam hati.

FIN sepanjang Jalan Tol Cikampek-Purbaleunyi-Sariwangi (3 Februari 2017)

(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *