PHK

“Aku selesai,” ujar Wanto suatu sore. Kalimat itu meluncur dengan tajam. Menusuk jantung Lisa dan juga Wanto, tanpa bisa ditahan. Hari itu, tiba-tiba saja Wanto menerima kabar bahwa ia dan seluruh teman-temannya kena PHK.

Baca juga: Semut-Semut Budaya

Pemilik perusahaan tempat Wanto bekerja, akan menutup usaha karena dinilai tidak punya masa depan. Bahwa angin lebih kuat, sehingga si konglomerat memilih untuk mendirikan usaha penyewaan (cap) jempol.

Era berganti, dukungan politik bagi si konglomerat tak lagi membutuhkan teriakan massa dalam kampanye. Tak butuh orang berkerumun mengelu-elukan sang calon pemimpin. Dukungan sekarang lebih disenangi berupa pemberian cap jempol. Di sanalah, pemilik perusahaan Wanto mengalihkan usahanya, menjadi penyewaan jempol.

Tidak pernah terbayangkan bagaimana kagetnya Lisa dan Wanto. Tak ada kabar sebelumnya, tak ada kasak-kusuk soal kerugian usaha, bahkan beberapa saat sebelumnya saat bertandang ke Kota Bintang, kota tempat Wanto dan Lisa tinggal, si konglomerat masih pidato di hadapan orang banyak, bahwa usahanya di bidang jual-beli suara masih hidup karena sudah ditopang penyewaan jempol. Eh, rupanya beberapa hari kemudian, dikabarkan bahwa si konglomerat tidak ingin repot, dan memilih mengalihkan semua asetnya membesarkan usaha penyewaan jempol.

Wanto duduk terdiam setelah mendengar kabar itu. Belum ada pernyataan resmi dari orang pusat, tapi hal itu sudah ramai dibicarakan di internal perusahaan. Tak ada lagi celoteh kritis Wanto tentang apa saja hari itu. Tak ada celetukan kritisnya sama sekali. Wajahnya memerah sendu, tak seperti biasanya cengengesan melucu. Diam saja.

Seharian itu, Lisa hanya menemukan Wanto repot memandangi telepon genggamnya. Pandangannya menerawang, lalu berikutnya serius mengetik. Sepertinya terjadi percakapan serius di dalamnya.

Lisa paham benar, pasti banyak hal berputar di otak Wanto. Dua anaknya yang butuh biaya sekolah, cicilan kredit rumah perbulan yang jika dikalkulasi jumlahnya masih puluhan juta, ongkos menggaji pengasuh anak, dan kebutuhan harian keluarganya. Hal itu pasti membuat berat pikiran Wanto, hingga untuk mengangkat kepala saja sudah tak mampu.

“Dua hari lagi akan ada utusan pusat ke sini. Mungkin di sanalah keputusan resmi itu disampaikan,” celetuk Wanto memecah keheningan. Ucapan itu tiba-tiba muncul di tengah keheningan yang Lisa pun tak berani mengganggunya.

Baca juga: Clurit Sakerah

Lisa hanya berpikir, apa si konglomerat sudah sedemikian ruginya ya, hingga memilih menutup usaha jualan suara? Apa ia tak pernah berpikir, untuk menggiring orang mau menyewakan jempol, maka harus ada ‘provokasi’ yang terus dilakukan? Dan provokasi itu efektif dengan mengerahkan massa, dengan teriakan suara.

“Yang aku pikirkan adalah teman-temanku. Mereka semua seperti bergantung padaku, akan langkah selanjutnya yang akan kami lakukan,” ungkap Wanto memecah keheningan. Ya, Wanto selama ini tanpa sadar menjadi tempat bersandar teman-temannya. Untuk urusan rapat kerja saja, mereka harus selalu minta pendapat Wanto. Apa yang bisa mereka lakukan?

Padahal Wanto bukan siapa-siapa. Bukan ketua serikat pekerja, apalagi ketua perkumpulan karyawan. Ia hanya orang yang peduli saja. Lisa paham, kedua pundak Wanto memikul beban berat. Beban akan masa depan keluarganya, dan satu lagi beban masa depan teman beserta keluarganya.

“Percayalah, selama kita berbuat baik pada sesama, jagat raya menyediakan kebaikan-kebaikan untuk kita,”. Tiba-tiba ada suara yang membuat dua orang itu terdiam semakin dalam.

Suara khas yang dikenal keduanya, seolah langsung memeluk Lisa dan Wanto yang tengah duduk termenung di pinggir taman. Taman yang sama, di mana setiap sore keduanya bertemu dengan Kakek Pandan. Taman Pandan. Disebut Taman Pandan karena di sana banyak terdapat tanaman pandan. Orang-orang selalu merujuk pada taman itu jika butuh pandan untuk aneka masakan.

Kakek Pandan adalah sebutan Lisa dan Wanto untuk si kakek kenalan mereka. Entah siapa sebenarnya nama aslinya, si kakek tak pernah mengatakannya. Ia selalu senang disebut Kakek Pandan. Pria berusia sekitar 80 tahun itu tak pernah sekali pun mengatakan asal usulnya. Ketiganya hanya bertemu dan berkawan, begitu saja.

Seperti terbangun dari sihir, tak seberapa lama, Lisa celingak-celinguk melihat sekitar. Ia dapati sesosok pria di belakang mereka. “Eh, kakek sudah dari tadi di sini?,” kata Lisa kaget. “Sudah lumayan lama, bahkan sudah lalu-lalang di depan kalian berdua yang dari tadi sangat serius. Sampai tidak awas dengan sekitar,” kata Kakek Pandan sambil duduk bersama keduanya.

Seperti biasa, Lisa dan Wanto segera menyemburkan apa yang ada di pikiran keduanya pada Kakek Pandan. Si kakek hanya diam mendengarkan. Sesekali ia betulkan letak peci yang dikenakannya. Dan seperti biasa, aku selimuti ketiganya dengan embusan kesegaran. Aku selalu senang dengan orang-orang yang diselimuti kebaikan. Tak hanya mengisi hidup dengan hingar-bingar kepentingan yang membuat gerah.

Aku dengarkan percapakan tiga orang itu sambil mengangin-angin mereka sesekali. Lama-lama aku tak tahan. Aku turut terhanyut dengan curhatan Wanto yang berapi-api meluapkan emosi. Aku bertekad menemui juragan Wanto. Ingin kulihat seperti apa orang itu. Orang yang dengan mudah membuka dan menutup perusahaan, tanpa memerhitungkan ada hidup ribuan orang bergantung di sana.

Baca juga: Warti Sang Wartawan

Aku melompat cepat, meninggalkan semilir untuk ketiganya yang masih serius bercerita. Aku terus terbang dan terbang, hingga kutemukan sasaran yang kuinginkan. Sebuah pertemuan mewah di ballroom hotel.

Riuh di ballroom hotel tak henti-hentinya. Kulihat seorang pria berkulit kuning langsat, gendut, tak henti-hentinya menebar senyum. Semua orang tampak memujanya. Pasti itu namanya Pak Hary, pikirku. Pak Hary, konglomerat terkaya nomor 6 di Negeri Langit, sedang meresmikan perusahaan penyewaan jempol. Hadir puluhan orang berpakaian putih-putih mengagung-agungkannya.

“Sukses tidak ditentukan masa lalu. Sukses ditentukan langkah kita saat ini. Maka melangkahlah menjemput kesuksesan,” pidato Pak Hary berapi-api dihadapan banyak orang. Tepuk tangan menggema seisi ruangan. Kilatan-kilatan lampu dekor, menambah kemeriahan pesta di hotel bintang lima itu.

“Tapi kita tetap harus berpihak pada masyarakat kecil. Kantor ini tempat kita berkomitmen bersama, memajukan masyarakat,” lanjut Pak Hary bersemangat. Lagi-lagi, riuh suara dukungan dan tepuk tangan kembali mengguncang. Semua tertawa. Mungkin tawa bahagia, mungkin juga sebaliknya.

Pak Hary terus saja bicara. Bahwa ia akan membuka cabang perusahaan penyewaan jempol di seluruh kota di Negeri Langit. Saat ini sudah terbangun 20 cabang perusahaan di beberapa kota terkemuka.

“Dan yang perlu diingat adalah, bukan bagaimana kita bisa membangun perusahaan ini saja. Yang terpenting adalah memertahankannya. Karena kalau hanya bisa membangun tanpa bisa memertahankannya, kita seperti anak kecil bermain lego. Bisa membangun, namun tak lama kemudian merubuhkannya,” kata Pak Hary menutup orasinya.

Orang-orang bersorak-sorai gembira. Ambil foto sana dan sini. Selfie atau wefie berganti-ganti. Melihatnya, lalu tertawa-tawa bersama-sama. Semua orang berebut mendekati Pak Hary yang mulai duduk di kursi kehormatannya. Asisten Pak Hary mulai sibuk mengunggah foto-foto acara di berbagai media sosial. Seakan meminta persetujuan, ia menunjukkan langsung akun media sosial itu pada Pak Hary.

Tertarik melihat sendiri, Pak Hary mengambil telepon pintarnya. Mengabaikan kerumunan orang yang terus berebut foto dengannya. Pria berusia 50-an tahun itu mulai mengamati deretan foto-foto yang diunggah asistennya di akun resmi miliknya. Ia tersenyum bangga. Massa pendukungnya rupanya militan. Mungkin itu pikiran Pak Hary saat itu.

Satu-persatu dilihatnya deretan foto-foto kesuksesannya. Foto ia dan keluarganya berlibur ke luar negeri, foto bersama istrinya yang cantik, serta foto kegiatan beberapa perusahaan yang didirikannya.

Tertarik membaca lebih jauh, ia mulai mencermati foto terbaru yang diunggah. Banyak komentar mengikuti deretan foto-foto keberhasilannya itu. Satu komentar paling akhir, dilihatnya sangat panjang. Pak Hary tertarik mengetahui isinya.

“Bapak mungkin memiliki segalanya. Keluarga bahagia, harta yang tak ada habisnya, serta penghormatan yang tak putus-putusnya. Tapi saya tahu, apa yang bapak tidak punya. Yaitu rasa kemanusiaan. Lalu, apalah arti manusia tanpa rasa kemanusiaannya?,” tulis seseorang di akun instagram milik Pak Hary.

Si penulis tak bernama. Akun instagram si penulis hanya berisi dua buah foto. Foto pertama adalah foto daun pandan, dan foto kedua adalah foto seluruh karyawan perusahaan jual beli suara milik Pak Hary.

Baca juga: Serenada Kenangan Mereka

Konglomerat itu tergagap. Ia tutup telepon pintarnya, kembali meletakkannya di atas meja. Ia sentuh bros daun pandan di dada kirinya. Bros terbuat dari emas itu dielusnya, sambil pikirannya menerawang mengingat pesan sang ayah saat menyerahkan bros itu padanya puluhan tahun lalu.

“Hary, kamu tidak perlu menjadi pohon jati atau cendana yang harganya mahal dan diburu orang. Jadilah tanaman pandan. Kecil, rimbun, tapi berguna,” ujar sang ayah tak lama sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Pak Hary ingat, sang ayah masih sempat mengatakan, kecil akan selalu mungkin menjadi besar. Sebaliknya, besar akan menjadi kecil pada saatnya.

Mata Pak Hary berkaca-kaca. Hatinya terusik. Ia menunduk, lalu mengalihkan pandangan pada semua orang di sekitarnya, mencoba meredakan gejolak hati. Musik terus bergema di ruangan megah itu. Ia kembali meladeni orang-orang yang mengajaknya berfoto. Pak Hary kembali tersenyum. Kali ini, senyumnya berbeda.

(Malang, 17 Juni 2017)

(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *