Clurit Sakerah

Tobong dekat perempatan, sudah berhari-hari begini; sepi, di dalam kosong, kursi-kursi tidak tertata rapi, pengap, kertas berserakan berbaur rumput-rumput kering, tidak ada penerangan selain cahaya matahari yang menerobos celah-celah dinding gedek, satu-satunya gerakan hanya tirai panggung yang ditiup angin.

Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran

Tidak hanya di sini, di dekat perempatan ini. Pindah dari satu kampung ke kampung yang lain, pemandangan senyap nan kumuh ini tak pernah berubah. Tak salah kalau ada pengamat yang mengatakan gubuk pertunjukan ini saatnya dikubur. Mempertahankannya sama saja dengan mengarungi kesia-siaan.

Seandainya Cak Kasan, pimpinan grup ludruk ini, tidak mati-matian mempertahankan, tempat pertunjukan kusam ini sudah tak akan pernah berdiri di atas bumi.

Pagi ini, Cak Kasan baru sampai dari kantor desa. Wajahnya kusam dan pucat. Sesekali ia menghembuskan napas dengan kencang. Ia diminta untuk segera memindahkan tobong ludruknya karena kampung ini akan diinspeksi. Seluruh kampung harus bersih, perintah Pak Kades. Cak Kasan tetap saja merasa masgul, sekalipun perintah semacam ini berulang-ulang terjadi, tidak hanya di kampung ini tetapi juga di kampung lain.

“Sial!” Gumamnya sambil memejamkan mata. Ia berdiri oleng, untung tangannya bisa meraih tiang pintu masuk tobong.

Belum pulih dari perasaan lunglainya, Yu Parmi, istri Cak Kasan datang. Ia menggelandang anaknya sambil berkoar, “Sudah aku bilang berapa kali, cari pekerjaan lain. Ini, anakmu makin sembarangan. Enaknya saja ngutang di warung rujak. Tuh, bakulnya nagih. Sudah terlanjur tidak makan pendidikan. Cabe rawit!”

Hardik Yu Parmi membuat kepala Cak Kasan makin berputar. Ia menyanggahkan keningnya di tiang bambu. Matanya masih terpejam.

Laki-laki asing yang datangnya hampir bersamaan dengan Yu Parmi memasang telinganya, matanya melirik pada Cak Kasan. “Yang disampaikan istri sampean itu maksudnya benar.” Bisiknya sambil lalu.

Baca juga: Kebaya, Kutang dan Centing

Sementara Yu Parmi sudah sampai di sisi luar tobong. Ia menemui orang yang dicari. “He! Bencong! Sini pinjam duitnya!”

“Kasnya habis. Beberapa hari tekor terus.” Timpal laki-laki itu. Dia dipanggil bencong karena selalu mendapat peran perenpuan.

“Ah! Nanti kuganti semuanya. Nanti malam aku dapat gantinya.”

Bencong nenyerahkan seluruh uang kas grup ludruk itu beserta catatannya dalam tas kumal. Ia lempar di atas meja, lantas cepat-cepat pergi. Yu Parmi menyabet tas itu dan bergegas pergi dari tobong kusam itu.

Cak Kasan mengetahui gelagat Yu Parmi. Ia berteriak dengan suara bergetar. “Parmi, jangan dipakai! Itu uangnya orang banyak!”

Yu Parmi tak mendengar. Ia melangkah cepat sanbil menyeret anaknya berbelok di gang penjual rujak.

***

Cak Kasan memeriksa bilik-bilik rias dan lorong belakang panggung. Matahari menbakar jemuran. Kostum-kostum berserakan dan mike-up berhamburan di meja. Sebatang lipstik jatuh di lantai tanah báwah meja. Hanya Warno yang masih rebah di sayap panggung. Para awak ludruk ini sudah semburat. Mereka mulai susah dikendalikan.

“Warno! War! Bangun War, cari yang lain.” Cak Kasan menggoyang-goyang tubuh laki-laki yang sedang tidur melipat kakinya.

Warno hanya nenggeliat dan membenamkan kepalanya kembali ke spanduk kumal dan bau apak. Ia sudah terjaga tapi enggan untuk bangun.

“War!”

“Malas!” Jawab Warno.

Cak Kasan bergegas ke pintu tobong dengan langkah terhuyung. Ia melongok jauh ke ujung jalan . Langit cerah. “Perempuan….” gumannya.

Ia mengambil palu. Lantas mengangkat sendiri selembar triplek yang sudah robek-robek pinggirnya. Ia pasang baliho itu dengan hantaman keras palu pada paku-paku yang menancap. Baliho itu terpampang di sisi loket mengabarkan malam ini ludruk yang dipimpinnya akan memainkan “Pak Sakerah”.

“Mengapa masih main juga?” Laki-laki asing itu pura-pura bodoh.

“Tentu, kami masih punya kesenpatan.” Jawab Cak Kasan asal saja. “Aku harus memainkan lakon ini, di ujung kematian ludruk ini.”

“Sakerah?” Suara laki-laki asing itu datar. Kemudian ia nengeluarkan buku catatan dan polpen.

“Ya.”

“Mengapa Sakerah?”

“Saksikan nanti, mengapa harus Sakerah!”

Laki-laki asing itu mengernyitkan dahinya.

“Kamu tahu? Sakerah dijebloskan ke tahanan kompeni karena menbabat mandor tebu yang menjilat kepada Belanda. Tapi, kamu tahu, Sakerah bukan orang sembarangan. Ia berhasil lari dan melompat ke dalam runahnya lewat pintu belakang tanpa diketahui sepasang matapun. Dan kamu tahu? Dalam hitungan menit Sakerah mampu mengulang pembunuhan? Ketika ia mencapai kamarya, matanya terbelalak! Ia menyaksikan Brudin keponakannya sendiri, bergumul dengan istrinya. Secepat kilat Sakerah menghunus cluritnya, dan seketika darah menggenang di lantai kamarnya.”

Laki-laki asing itu pucat. Ia masih mencatat-catat. Suara sepeda motor keluaran tahun 1972 mendengus di ujung gang. Cak Kasan mengintip dari celah gedek. Pak Carik berhenti di depan pintu hanya nenurunkan kakinya ke tanah.

“Cak Kasan kemana?” Tanya Pak Carik pada laki-laki asing.

“Tidak tahu Pak, tobong ini sedang kosong.” Sandiwara laki-laki asing itu.

“Tolong sanpaikan, jangan lupa, ini pesan Pak Lurah. Besok pagi-pagi sekali harus sudah bersih. Besok ada gladi resik dihadiri dari kecamatan.”

Sebentar kemudian, cahaya memantul berkilat-kilat menyilaukan mata. Matahari nenyelusup lewat celah-celah dinding gedek menimpa permukaan clrurit yang mengkilat. Cak Kasan sedang mengasahnya dengan mukanya yang merah padam.

“Clurit siapa itu cak?” Rupanya laki-laki asing itu memang bodoh.

“Clurit Pak Sakerah. Clurit ini harus betul-betul tajam, karena Pak Sakerah nanti malam akan menggunakannya untuk membabat perut dan leher, membabat anthek-anthek dan pengkhianatan.” Cak Kasan sangat mengenang adegan itu.

Cak Kasan mengamati mata cluritnya sambil memilin kumisnya. Nafasnya turun naik. Ia menyabet-nyabetkan cluritnya dengan gerakan-gerakan silat. Memang mengagumkan, sekali ia memerankan Sakerah, nyaris tak ada kesan dia itu Cak Kasan. Ia melompat ke tengah penggung.

“Ha..ha..ha.. Pak Sakerah. Darahnya mengalir dalam tubuh ini”.

Sebab mendengar omongan Cak Kasan, Warno bergidik dan bangkit dari rebahnya.

Baca juga: Serenada Kenangan Mereka

“War! ” Cak Kasan mencegatnya. “Kamu nanti berperan jangan tanggung-tanggung. Tandingi Pak Sakerah…”

Warno hanya meringis dan pucat. Ia nenghampiri laki-laki asing, “Apa gunanya? Cak Kasan itu semestinya tahu, kami ini sudah nenyiapkan peran dengan sungguh-sungguh. Tapi bangku-bangku itu tetap saja kosong. Lima atau sepuluh orang saja yang hadir sudah bagus.

Warno masih ingin bicara banyak, tetapi ketika ia melihat mata itu bukan mata Cak Kasan, ia menghentikan keluhannya. Ia segera mengemasi kostumnya untuk nanti malam.

***

Hingga senja merah membakar tobong, tak satupun awak ludruk yang muncul. Cak Kasan menbabat pohon pisâng lantas melompat ke sungai. Sebelum tikungan, ia berpapasan dengan Yu Parmi. Anaknya melompat-lompat kegirangan.

“Dari mana saja!” Bentak Cak Kasan memegang lengan Parmi. Parmi mengelak, dan terus berjalan.

“Dari mana?!”

“Dari pasar!” Parmi tanbah judes.

“Sudah kaya kamu? Itu uang orang banyak.”

“Duitnya setan itu bukan urusanku!”

“Cepat bantu aku mencari pemalas-penalas itu.”

“Hah, dari belanja Yu Parai?” Laki-laki asing itu lagi.

“Eh… kamu, ini lho Sukir ngotot ngajak ke pasar. Hai, dik. Filmnya di dekat Kantor Kecamatan main bagus. Apa kamu mau mengantarku nanti malam?” Kata Yu Parmi merajuk.

“Lho, Pak Sakerah kan main? Aku harus nonton.”

“Ala… hanya tontonan begitu-begitu saja.” Kata Yu Parmi sambil pergi ke belakang panggung.

Yu Parni memang masih cantik. Tapi mata Cak Kasan itu tajam setajam cluritnya.

“Ha la…. Melamun saja.” Kasir, si bencong satunya, menyentaknya dari belakang. Kasil dan awak ludruk lainnya mulai berdatangan satu-persatu.

“Awas, ya. Jangan cengar-cengir.”

Mereka sebentar lagi pasti kena damprat Cak Kasan. Tapi pasti hanya sekali semprot saja. Cak Kasan sedang butuh mereka menbantu menunjukkan kesuksesan pertunjukkannya malam ini. Dan di dalam sana mereka tak banyak bicara menyiapkan perlengkapannya. Di bilik pojok, Yu Parmi berdandan melenggak lenggokkan tubuhnya. Pakiannya baru dibeli di pasar. Kalau Yu Parmi berdandan setiap hari, pasti tak ada yang menyangka kalau ia istrinya Cak Kasan. Lantas ia mengoles bibirnya dengan gincu. Laki-laki asing itu tidak melepaskan pandangannya kepada Yu Parmi.

Cak Kasan melompat ke panggung, langkahnya tegang dan cepat, serta gagang clurit menyembul di perutnya. “Kenapa kalian semua tidak minggat saja sekalian!”

Laki-laki asing itu dengan tergesa-gesa menyelinap ke belakang panggung. Sedang Yu Parmi masih juga melenggak-lenggok. “Par! Nanti tak usah kenana-mana, bantu menjual karcis. Kemana Sukir? Omongi, jangan mengganggu anak nonton.”

Yu Parmi hanya mencibir, “Penonton yang mana?”

***

Memang sangat mengejutkan! Malam ini penonton meluber. Gamelan masih giro tapi karcis hampir habis terjual. Sepanjang jalan terbenam oleh lautan manusia. Seperti pasar malam.

Perubahan yang mencekam. Cak Kasan memerintahkan untuk tidak mengulur waktu. Layar segera dibuka. Penonton berjubel di pintu masuk, sementara tari remo sedang gayeng. Sekali-kali angin menarobos menyingkap kelambu di sayap panggung. Para pemain bersiap menunggu giliran di ruang rias. Cak Kasan kumisnya mengembang, sibuk mengatur lakon.

Baca juga: Gunung yang Tamak

Tidak ada yang mengira kalau yang membawakan tari remo barusan adalah Warno. Penampilannya sangat berubah. Ia menari penuh penghayatan; begitu mempesona. Beberapa hari yang lalu panari remo yang paling luwes dan pandai memainkan gongseng adalah Cak Soleh. Tetapi Warno? Warno, lebih dari Cak Soleh.

“Kamu main bagus War, Cepat ganti kostum. Ingat peranmu nanti Brudin, ingat juga adegannya.” Cak Kasan mengepalkan tangannya.

Suara siulan penonton dan ditingkahi gelak tawa membahana di udara dalam tobong. Mereka menyaksikan dagelan segar Cak Kadir dan Cak Parno. “Bisa saja Cak Kadir itu.” Celetuk penonton.

Cak Kadir mengakhiri dagelannya dengan parikan.

Ono dalan dalane bayi

Wis kesuwur nang surat kabar

Wayah saiki tak parani

Bareng wis mlebu dalane gronjal.

Penonton betul-betul terhibur. Sudah tak bisa dielak lagi kalau para pemain betul-betul hilang ketegangan uratnya.

Penonton mulai bersiap menunggu cerita utamanya. Tidak hanya seorang saja yang menunggu kemunculan Pak Sakerah, penonton yang lain juga berharap-harap cemas, terbawa emosinya, menunggu Pak Sakerah.

Bersamaan dengan layar dibuka, laki-laki berpakaian hitam, kaos dalamnya lorek dan berudeng, memilin-milin kumisnya yang tebal, menuju tengah panggung. Sambil memegangi cluritnya ia bicara, “Ha,..ha. .ha. Pak Sakerah. Wani mati wedi kalah.”
Memang tak bisa dikenali lagi siapa Pak Sakerah siapa Cak Kasan. Jadi satu dalam kesatuan; Pak Sakerah ya Cak Kasan, Cak Kasan ya Pak Sakerah.

Seluruh penonton tertegun dan terkesiap mendengarnya. Tetapi, sebentar kemudian terdengar kegaduhan di atas panggung. Sukir, anak kecil itu melolong-lolong, “Bapak.,.bapak…bapak. Emak kabur dibawa orang.” Seluruh penonton terbahak-bahak melihat adegan itu.

“Orang siapa?” tanya Pak Sakerah disambut gelak tawa penonton.

“Laki-laki itu…”

“Pengkhianat!” Kontan Pak Sakerah melonpat ke luar panggung, melewati penonton, keluar dari pintu tobong.

“Sakerah ngamuk. Sakerah ngamuk.” Seru penonton.

“Hus, itu sungguh-sungguh.” Sergah yang lain.

“Ya. Cak Kasan memang betul-betul menjiwai. Jadi Sakerah. Ayo kita lihat.”

Seperti dikomando penonton mengikuti Pak Sakerah keluar tobong.

Pak Sakerah berlari dalam gelap. Ia mengangkat cluritnya yang telah diasah sangat tajam, dari jauh kelihatan berkilat-kilat ditimpa neon di depan loket.

***

Malam betul-betul berduka. Semua wajah menunduk, tanpa berani berucap sekata pun. Para awak melenparkan napasnya jauh-jauh. Warno menyelinap ke belakang panggung. Ia mencekik diesel yang suaranya megab-megab.

Malang, Februari 1994

*) Iman Suwongso bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KOBIS) “Merajut Sastra” di Malang. Telah menerbitkan kumpulan cerpennya “Si Jujur Mati di Desa Ini” (Penerbit Kota Tua, Mei 2017). Sedang menyiapkan dua kumpulan cerpen: 1) “Topeng di Meja Bupati”, 2) “Perempuan Kunang-kunang”.

(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *