
Ritsleting mulai dibukanya. Belum sempat seluruh ritsleting terbuka. Tiba-tiba, beberapa barang berhamburan ke luar dari tas berwarna cokelat.
Baca juga: Max Havelaar, Novel Karya Multatuli yang Menggemparkan Dunia
Barang-barang itu, berlompatan begitu saja. Berhamburan di atas meja kaca. Beberapa butir barang, jatuh ke lantai.
Brak!!! Suara tempat bedak terhempas di lantai marmer. Sejurus kemudian sebuah lipstik merah tua, ikut meloncat ke lantai. Cermin bulat, yang ada di dalam wadah bedak ikut-ikutan meloncat.
Prang!!! Suaranya berantakan tak tentu arah. Bersamaan, dengan serpihan cermin yang ikut berhamburan. Ujung-ujungnya begitu tajam. Siap menusuk dan menggores kulit siapa pun yang menyapanya.
“Ah…,” terdengar suara Lia mengaduh. Setitik darah. Merah. Nampak mulai mengucur dari ujung jari telunjukknya.
Perempuan muda, yang sedari tadi sibuk di gazebo taman kota itu. Kini, sibuk mengurus ujung jarinya yang terluka. Perih. Dirasakannya di bekas tusukan cermin.
Selembar tisu diambilnya dengan tergesa. Ditempelkan di ujung jari yang terluka. Warna merah langsung merembes, mengisi ruang putih lembaran tisu.
Barang-barang lainnya, dibiarkan berhamburan di antara tas cokelat yang menganga mulutnya. Lia masih meringis, menahan perih yang datang tanpa kompromi. Kembali, selembar tisu putih, diambilnya dari tas cokelat.
Tarikan tangannya yang kuat. Membuat dompet merahnya ikut tertarik, dan ikut-ikutan melompat dari dalam tas cokelatnya. Beberapa kertas, nampak berhamburan dari dalam dompet.
“Ah…sial lagi,” ujar Lia, penuh nada kesal.
Dibiarkan saja darah kembali merembes di permukaan tisu yang nampak pucat pasi. Sambil ibu jari tangan kanannya menjepit tisu. Tangan kirinya mulai mengambil, satu-persatu barang yang berhamburan meloncat ke sana ke mari dari dalam tas cokelat.
Baca juga: Pagi
Kucoba membantunya dari keribetan di sore yang sedang hujan deras. “Ini kabelnya juga milikmu ya,” ujarku pelan, saat menemukan kabel putih panjang di dekat kaki Lia. Dia hanya diam membisu, dan tak ingin mengharapkan kehadiranku.
Wanita berambut lurus itu, melirikku sesaat. Lalu menganggukkan kepalanya pelan, dan kakinya beringsut. Tanda memberiku kesempatan untuk mengambil kabel putih di dekat kakinya.
Kusaksikan, ada gambar panda cokelat tua di kaos kakinya yang berwarna cokelat muda. Serasi dengan kulit bersih kakinya, yang sedikit menyembul dari balik celana panjangnya.
“Kamu ngapain To,” ujar Lia dengan suara tegang, dan bergetar di rongga mulutnya.
“Ah…ini mengambil kabelmu,” ujarku sekenanya.
Aku tak mampu menyembunyikan kekagetanku. Tak kusangka, wanita itu sempat memperhatikanku, saat aku tertunduk di dekat kakinya. Kaki yang terbungkus sepatu model sport, warna ungu itu, langsung beringsut pergi, sejurus dengan gerakan kepalaku mendongak ke atas.
Kabel putih aku taruh di dekat tas cokelatnya. Kulihat banyak barang masih berhamburan. Satu-persatu, coba kubantu kumpulkan. Barang-barang yang mungkin mahal, dan tak mampu kubeli dengan gaji bulananku yang serba pas-pasan.
Mungkin juga, banyak rahasia di dalam tas cokelat bertali besar itu. Banyak catatan penting, mungkin. Atau tas itu juga menyimpan masa lalu, dan angan masa depannya.
Ah…semakin otakku berputar tak karuan, karena tas cokelat, yang selalu kulihat penuh barang-barang itu.
Sebenarnya, aku sendiri tak suka tas warna cokelat. Sedari kecil, aku selalu dibelikan tas warna hitam. Warna yang selalu dekat dengan langkah-langkah kecilku.
“He…he…he…kadang aku merasa terlalu gagah, saat berjalan masuk gerbang sekolah sambil membawa tas hitam di punggung,” gumamku.
Tak ada keberanianku bertanya pada ibuku, saat setiap tahun ajaran baru aku selalu dibelikan tas hitam. Mungkin saja aku, masku, dan adikku tak boleh banyak memprotes pembelian ibu. Ya…tas hitam kami sering sama. Dibelikan di toko yang sama. Toko Mbak Nanik, yang biasa dijadikan langganan kredit ibuku.
Baca juga: Warti Sang Wartawan
Mengenakan tas cokelat, rasanya terlalu feminim bagiku. Banyak teman perempuan di kelasku yang suka warna cokelat. Utamanya cokelat muda, bergambar bunga atau boneka.
“Anto, jagain tasku ya…sama punya teman-teman. Mau main ke sungai,” ujar salah satu teman perempuan di kelasku kala itu. Geli melihat deretan tas cokelat bergambar bunga dan boneka beruang.
Hemmm…mungkin juga aku trauma ya melihat tas cokelat. Pernah kuambil dompet di dalam tas cokelat, milik bulekku yang baru pulang dari Jakarta. Tas kulit mewah warna cokelat. Hasilnya, aku dihajar bapakku tanpa ampun. Darah mengucur deras di hidungku, dan merahnya merembes ke handuk putihku. Mataku berkunang-kunang, mengingat darah-darah merah mengalir ke mana-mana.
***
Hujan semakin pekat. Tempiasnya semakin lancang menyiram tubuh mungilku. Permukaan tas cokelat mulai nampak basah terkena percikan lembut tempias air hujan. Lia berusaha menepikan tasnya, agar tak tersiram air tempias yang lembutnya persis dengan kulit langsatnya. Tisu di jarinya, masih mempertontonkan warna merah.
Beberapa catatan nampak mulai masuk melintasi mulut tas yang menganga lebar. Notes-notes kecil warna putih, bergaris biru. Beberapa tulisan tangan nampak tergores di lembar-lembar notes. Mungkin catatan harian, atau juga catatan pekerjaannya selama sepekan ini.
Lia, kuketahui kerja sebagai auditor. Tas cokelat, dengan buku-buku catatan itu, selalu setia menemani langkah-langkah mungilnya.
“Aku tidak bercita-cita menjalani pekerjaaan ini. Aku ingin jadi diplomat,” ujarnya suatu hari, saat kami sama-sama terjebak hujan sore di payungi gazebo taman kota ini.
Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran
Sebuah kamera besar warna hitam. Juga ikut melesak masuk ke dalam tas. Meski perlahan, Lia dengan susah payah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Saku-saku kecil dalam tas cokelat, mulai penuh kembali terisi barang-barang. Mungkin di dalamnya masih menyimpan kerinduan dan harapannya menjadi diplomat. Berdiplomasi demi negeri yang dihuni tikus-tikus korup.
Isi tas cokelat mulai berdesakan. Seperti penumpang kereta api listrik di ibu kota, yang selalu dijejali penumpang pada jam sibuk. Tak kuasa aku melihat tas yang mulai gemuk. Tak ada sisa keseksiannya lagi. Tangan mungil Lia, mulai memaksakan diri untuk menutup ritsleting di mulut tas yang menganga.
“Anto, bantuin dong,” ujar Lia tiba-tiba saja menghentak, seolah ingin mengganggu hujan yang terus memeluk tanah basah.
Aku mencoba melangkahkan kaki. Kembali kudekati tas cokelat itu. Ada trauma, dan rasa geli bercampur aduk dengan rasa penasaran. Tak ingin kututup mulutnya. Mataku masih ingin menjelajahi isinya.
Sebersit, kulihat ada buku tebal bersampul putih. Salah satu sisinya, bertuliskan nama Paulo Culho. Oh…dia penggemar tulisan-tulisan penggugah semangat ternyata. Pikiran sinisku datang memburu.
“Apa menariknya buku itu. Kenapa tidak karya Pram yang sangat Indonesia, dibacanya,” gumamku sendiri.
Mataku kian menusuk. Tak tahu, kenapa aku menjadi ingin tahu tas cokelat ini. Jariku hanya bergerak sesukanya di atas kait ritsleting. Banyak barang mewah yang kulihat.
“Kenapa tidak aku ambil saja tas ini. Toh aku juga belum kenal dekat dengan Lia,” pikiran jahatku mulai menjalari otak, hati, dan jantungku.
Isi tas cokelat ini, kuhitung-hitung bernilai jutaan rupiah. Bisa buat bayar kontrakan, dan utang di warung Mak Ni. Oh…lembaran-lembaran catatan dalam notes kecil itu, lagi-lagi mengingatkanku pada lembaran catatan utang di warung Mak Ni. Gajiku juga sudah ludes, dilahap tanpa ampun untuk potongan koperasi.
Jemariku mulai bergetar. Angin bertiup kencang. Tempias air semakin tajam menusuk kulit. Gazebo di tengah taman kota mulai sepi. Tinggal dua anak manusia yang tersisa. Gelap juga semakin menggelayut manja, bersama runtuhnya serpihan langit membasahi tanah yang memang sudah basah.
Perempuan itu, kuperhatikan masih gelisah memandang runtuhnya serpihan langit. Kedua lengannya disilangkan di depan dada. Menahan dingin yang mulai merayap. Kebangsatanku terus mengaliri darahku. Seperti listrik yang menyengatku untuk segera berlari menembus gelap bercampur air.
Baca juga: Kisah Raden Saleh, Pelukis Antikolonialisme yang Namanya Diabadikan di Planet Merkurius
Kutahu, tas cokelat ini bukan satu-satunya milik Lia. Dia pernah memakai tas merah. Bahkan, ada tiga tas merah yang kuketahui. Ada yang begitu feminim, ada juga yang maskulin. Tas hitamnya juga ada satu, tapi jarang dipakai.
“Aku tak suka warna hitam,” kata Lia disuatu siang yang terik di gazebo taman kota ini juga.
Beberapa model tasnya, memang sangat feminim. Dan pastinya berharga mahal. Tas cokelat yang kini ada digenggamanku, tidak juga sefeminim seperti tas-tas temanku di masa sekolah dahulu. Kupastikan harganya juga sangat mahal.
“Lumayan tas ini kalau aku jual, bisa buat bayar kontrakan rumah. Isi tasnya bisa buat bayar utang koperasi dan warung Mak Ni. Besok bisa kutinggalkan gazebo ini untuk selamanya,” gumamku lagi.
Pikiran-pikiran beraroma tong sampah di pasar ikan semakin memanas, membakar tubuh yang tak lagi peduli tempias air. Merah tak lagi darah yang merembes. Merah membakar tubuh yang lagi murka. Rahwana merah, garang, dan membakar berkecamuk di hatiku. Tak lagi kuingat pandangan teduh Lia, yang sering kali kulihat saat berteduh di gazebo taman kota ini.
“Hei…ayo pulang. Hujan sudah reda,” teriak Lia. Tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Tak sanggup kututup kegugupanku. Pengait ritsleting kutarik paksa kuat-kuat. Paksaan tak akan berbuah hasil yang baik. Kait ritsleting melenting dari jalurnya. Mulut tas cokelat itu menganga lebar.
Oh…tas cokelat ini telah kukoyak dihadapan tatapan teduh Lia. Perempuan berkulit langsat ini, tertegun disampingku. Sebulir air, menitik di sudut matanya. Mulutnya terkatub. Tangannya perlahan meraba tas cokelatnya. Koyakan itu, dirabanya. Merah darahnya tak lagi dipedulikan, mengalir di antara koyakan.
Tak kuasa mata ini. Turut sembab menyaksikannya. Tas cokelat terkoyak di tanganku yang kasar penuh bekas luka. Mengalirkan bening di sudut mata Lia. Merah nafsu biadapku, seketika menguap.
“Bukankah kamu selalu sayang pada pemberian ibumu? Tas cokelat ini karya ibuku yang telah lama meninggalkanku sendiri. Tas cokelat ini teman kangenku pada ibu yang selalu kusayangi,” Lia berucap lirih, mengaduk semua isi jiwaku yang dihinggapi serakah.
Aku melangkah pelan, membawa malu. Tak mampu kutatap lagi mata teduh yang kini mengalir banjir bandang. Di mana hatiku, di mana rasa sayang yang selalu dititipkan ibu padaku. Kulangkahkan kaki di tengah tanah yang basah. Bukan lagi basah dari lagit. Basah dari mata penuh sesal.
(Editor: Iman Suwongso)
