Mee, Namaku (30)
Hanyut di sungai mencari tepian
Airnya deras terbentur batu berkali-kali
Apalah artinya ketakutan dan keinginan
Kalau kemudian jalannya beda sama sekali
Hanyut di sungai mencari tepian
Airnya deras terbentur batu berkali-kali
Apalah artinya ketakutan dan keinginan
Kalau kemudian jalannya beda sama sekali
Matahari melintas ke barat semakin menepi
Menggelincir pada langit biru dan menyusup pada awan
Pada akhirnya aku tidak bisa menutupi
Kami memang berbeda, aku totok dia baba
Katanya cinta tak mengenal perbedaan
Katanya cinta melintasi batas-batas yang ada
Tapi kenyataan selalu lebih kuat untuk memisahkan
Senyum di warung sate itu seperti ombak di laut,
Membuat aku merasa betapa rapuh dan lemah,
Apakah begini rasanya jiwa dan hati tertaut,
Tidak bisa melawan, hanya bisa menyerah.
Waktu berputar membuat batas
Pada saatnya pintu akan ditutup
Sudah tak ada orang berkerumun di teras
Semua duduk di kursi menatap layar bioskop
Kalau malam semakin redup
Di dalam kamar tak bisa tidur aku merenung
Apakah harus kuterima menjadi jalan hidup
Di dalam toko tubuh dan pikiran terkurung
Dengarkanlah setiap pesan dari pepatah:
Apapun yang kamu kerjakan pasti ada hasil
Tak selalu datang berlimpah-limpah
Kadang besar, kadang kecil
Prahara sudah mulai menyurut
Sekalipun ketegangan masih dirasa di sana-sini
Kehidupan kami mulai berdenyut
Memulai lagi membuka toko yang terlanjur terbengkalai
Aku diburu satpam, juga orang-orang yang kurang kerjaan. Mereka diupah majikanku, aku bakal dihabisi bisa jadi disuntik mati, karena aku dianggap gila
Dua Anjing Tanpa Guk-guk Read More »
Kata Kartini habis gelap terbitlah terang
Apakah akan terjadi padaku dalam mengarungi hidup
Sementara sekarang jalanku masih remang
Belum tahu masa depan akan terbuka apa tertutup