Mee, Namaku (16)
kalaulah rambut sudah dikepang empat
lebih lucu dikasih poni
kalau kemudian udara gerah menyengat
kita butuh angin sepoi
kalaulah rambut sudah dikepang empat
lebih lucu dikasih poni
kalau kemudian udara gerah menyengat
kita butuh angin sepoi
ketika matahari baru terbit
aku sudah bangun dan masuk kamar mandi
aku tak mau tak mau sekolah terlambat
agar aku tak menjadi anak pandai
pandai dalam bahasa
mengerti setiap kata Tionghoa
sekalipun aku tak punya masa depan
aku bukan anak yang bodoh
aku masih punya harapan
suatu saat nanti bisa menjadi tokoh
aku memberanikan diri
sebelum sore mengganti hari
bilang kepada Pak De
menitipkan hidupku pada Pak De
sampai aku nanti jadi gede
Pak De kakak Mama
mengapa berbeda?
orang serumah memanggilnya Yu Nah
nama aslinya Bi’ah
aku memanggilnya Mbok Bi’ah
entah mengapa
orang rumah
semau-maunya mengganti nama
kalau tidak ada dia
barang kali aku sudah meninggalkan alam fana
di kamar gelap, tanpa cahaya
aku termangu
di sudut dipan tak berkelambu
pikiranku mengembara
di antara wajah dewa-dewa
pertanyaan demi pertanyaan belum terjawab
bagiku, tak ada soal tanpa sebab
hujan menderas
airnya tempias ke teras
tidak menghalangi para pekerja keras
rumah dan toko-toko dihias
lebam, lecet, berdarah dan membiru
kalau aku berkaca hilang paras ayu
mereka tak menunjukkan wajah haru
sehari-hari aku menjadi anak pilu
Apa salahku?
Karena aku lahir perempuan?
Karena Papa totok?
Karena tradisi?
Karena aku tidak akan
Jadi pewaris?
Aku anak-anak
Anak perempuan.
Namaku cantik
Wajahku cantik
Tetapi aku,
Tidak seperti anak cantik.
Aku belum perkenalkan
Nama papaku dan mamaku
Juga laki-laki pemungut papa,
Pak De ku. Papaku Tjoen, Mamaku Tien
Pak Deku Sing