Mee, Namaku (36)
Sudah mulai aku kenal liuk jalan di pasar Turi
Medan baru yang aku kenali semakin nyata
Meskipun ada rasa aneh setiap bangun pagi
Sudah mulai aku kenal liuk jalan di pasar Turi
Medan baru yang aku kenali semakin nyata
Meskipun ada rasa aneh setiap bangun pagi
Gelap malam telah berakhir pada saat dini
Kumandangnya dikirim angin sayup-sayup
Matahari terbit pertama aku lihat di sini
Seorang sais tak pernah lupa memasang sepatu kuda
Larinya kencang berderak-derak
Aku tak dapat bertanya, dimana aku berada?
Hidup tak damai sudah dimulai sejak pagi
Harus dilalui sekalipun tak ada rela
Aku bisa tahan tidak makan berhari-hari
Kali ini tak tahan, gigi sedang memalu kepala
Kalau ada yang dapat menikmati hari demi hari
Dengarkan aku, berjalanlah dengan kepala tegak
Tengoklah, aku lebih rapuh dari kaktus
Apakah kamu, wahai remaja, pernah mengalami beban sampai kelu lidah?
Padahal air mengalir meliuk tidaklah kaku
Kata orang usia remaja merupakan masa yang indah
Aku kira masa itu tidaklah berlaku untukku
Hanyut di sungai mencari tepian
Airnya deras terbentur batu berkali-kali
Apalah artinya ketakutan dan keinginan
Kalau kemudian jalannya beda sama sekali
Matahari melintas ke barat semakin menepi
Menggelincir pada langit biru dan menyusup pada awan
Pada akhirnya aku tidak bisa menutupi
Kami memang berbeda, aku totok dia baba
Katanya cinta tak mengenal perbedaan
Katanya cinta melintasi batas-batas yang ada
Tapi kenyataan selalu lebih kuat untuk memisahkan
Senyum di warung sate itu seperti ombak di laut,
Membuat aku merasa betapa rapuh dan lemah,
Apakah begini rasanya jiwa dan hati tertaut,
Tidak bisa melawan, hanya bisa menyerah.