Mee, Namaku (11)
aku termangu
di sudut dipan tak berkelambu
pikiranku mengembara
di antara wajah dewa-dewa
pertanyaan demi pertanyaan belum terjawab
bagiku, tak ada soal tanpa sebab
aku termangu
di sudut dipan tak berkelambu
pikiranku mengembara
di antara wajah dewa-dewa
pertanyaan demi pertanyaan belum terjawab
bagiku, tak ada soal tanpa sebab
hujan menderas
airnya tempias ke teras
tidak menghalangi para pekerja keras
rumah dan toko-toko dihias
lebam, lecet, berdarah dan membiru
kalau aku berkaca hilang paras ayu
mereka tak menunjukkan wajah haru
sehari-hari aku menjadi anak pilu
Januari telah tiba
Menggelinding seperti roda
Yang habis melindas tai kucing
Di jalanan tipu menipu bau kencing
Sajak Lima Belas Januari Read More »
Apa salahku?
Karena aku lahir perempuan?
Karena Papa totok?
Karena tradisi?
Karena aku tidak akan
Jadi pewaris?
Aku anak-anak
Anak perempuan.
Namaku cantik
Wajahku cantik
Tetapi aku,
Tidak seperti anak cantik.
Aku belum perkenalkan
Nama papaku dan mamaku
Juga laki-laki pemungut papa,
Pak De ku. Papaku Tjoen, Mamaku Tien
Pak Deku Sing
Rubrik Sosok di Harian Kompas muncul pada tahun 2005. Rubrik ini memayungi feature serupa yang sudah bergulir sejak tahun 1965, oleh internal Kompas disebut ‘box’. Tulisan pada layout dibingkai kotak.
Inovasi Tak Harus dari yang Besar Read More »
Perempuan itu,
Istri Papaku.
Tiada mengeluh
Sebab tahu
Upacara besar itu
Yang hanya berwujud
Sumpah dan janji
Setia itu
Seperti letupan api
Yang seketika padam
Oleh angin
Sentuhannya
Tak terasa oleh
Pori kulit.
Kata Perempuan itu;
“Suatu saat aku melihat
Di ruang makan
Disulap menjadi ruang tamu
Meja makan ditata rapi
Sejumlah laki-laki
Duduk melingkar
Diantaranya aku melihat
Laki-laki itu
Calon suamiku.”