Elisabeth Diahningrum Putri Nuswantara

Max Havelaar, Novel Karya Multatuli yang Menggemparkan Dunia

Max Havelaar merupakan karya sastra yang menggemparkan dunia. Novel karya Multatuli, yang merupakan nama pena dari Judul buku Eduard Douwes Dekker tersebut, mampu mengungkap kesengsaraan rakyat di Hindia Belanda, akibat sistem tanam paksa. Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran Melalui sastra, Multatuli yang berdarah Belanda tesebut, mampu membuka mata dunia tentang tabir gelap di balik gemerlapnya perdagangan kopi. Dalam karya ini, dia juga menyampaikan kritik pedas terhadap penindasan yang dialami rakyat sebagai korban dari sistem tanam paksa di wilayah Lebak, Banten. Pada awalnya, novel ini memunculkan makelar kopi Belanda, bernama Batavus Droogstoppel yang memiliki firma bernama Last & Co terletak di Lauriergracht, No. 37, Amsterdam. Batavus dikisahkan sebagai manusia dengan prinsip yang tinggi. selain itu, Batavus juga dikisahkan memiliki keluarga yang religius. Di suatu hari, Batavus bertemu dengan teman lamanya, Sjaalman yang pernah menyelamatkannya dari perkelahian dengan orang Yunani. Sjaalman, digambarkan sebagai seorang yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Setelah pertemuan yang singkat, Sjaalman sering mengirimkan bingkisan ke firmanya. Isinya mengenai naskah-naskah kopi. Ia meminta supaya Batavus dapat menerbitkan bukunya. Batavus secara langsung menolak permintaan itu, karena dirinya merasa memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan Sjaalman. Akan tetapi, karena isi dari naskah tersebut dapat menguntungkanya sebagai makelar kopi, pada akhirnya Batavus mengiyakan permintaan Sjaalman tersebut. Setelah banyaknya persetujuan dan perjanjian, Batavus memilih untuk menerbitkan naskah tersebut menjadi buku. Awalnya Batavus memilih untuk bekerjasama dengan Frits dan Stern, namun karena banyaknya bahasa asing di tulisan tersebut, Batavus akhirnya memanggil Sjaalman untuk membantunya dalam menyusun naskah. Dalam naskah tersebut, diceritakan bahwa terdapat seorang Asisten Residen Belanda bernama Max Havelaar di Lebak, Banten. Diceritakan, bahwa di Lebak, akan ada Asisten Residen yang baru. Saat itu, Lebak dipimpin oleh seorang adipati yang sudah berumur. Dalam kepemimpinannya, Adipati Lebak dibantu seorang kontrolir atau Asisten Residen, bernama Verbrugge. Dalam novel tersebut, Lebak diceritakan sebagai kota yang kekurangan. Di mana kondisi jalan di Lebak sangat memprihatinkan, karena mengalami kerusakan parah, tidak seperti Pandeglang yang dinilai memiliki kondisi yang lebih baik. Kedatangan Max Havelaar sebagai Asisten Residen yang baru, disambut dengan hangat oleh Adipati Lebak, dan Verbrugge. Ia diceritakan sebagai sosok yang ramah, selain itu juga memiliki kemampuan menulis tentang pengalamannya pergi ke berbagai negara. Max Havelaar banyak berdiskusi mengenai Lebak, dengan Verbrugge. Ia juga menceritakan masa-masanya menjadi seorang Residen di Padang. Ia dipindah tugaskan karena sudah dianggap tidak sejalan dengan pemerintahan Belanda. Dalam kisah tersebut, Max Havelaar berkata bahwa Padang adalah gudang dari penyelewengan dan pemalsuan data. Banyak laporan yang sudah ia sampaikan, namun laporannya tidak diterima dan ia berakhir dipindah tugaskan ke Lebak. Di saat bertugas di Lebak, Max Havelaar kembali menemukan banyak sekali penyelewengan dan pemalsuan data-data administratif. Contohnya, diterapkannya sistem tanam paksa kopi kepada setiap masyarakat. Padahal, kondisi tanah di Lebak kurang cocok untuk tanaman kopi. Selain sistem tanam paksa, ia juga menemukan banyaknya laporan yang menyebutkan kondisi masyarakat Lebak baik-baik saja. Namun kenyataannya sangat memprihatinkan. Di tengah masyarakat, dia menemukan kemiskinan parah, kelaparan, dan penderitaan akibat gagal panen. Dalam kondisi memprihatinkan tersebut, rakyat masih harus diwajibkan untuk membayar pajak kepada para pejabat Eropa, dan para pejabat Bumiputera. Max Havelaar bersama Verbrugge, juga menemukan banyaknya pemalsuan data keuangan di Lebak. Max Havelaar kemudian mengirimkan laporan mengenai tindakan-tindakan Adipati Lebak, serta menantunya itu kepada Residen Banten. Ia menginginkan adanya penyelidikan yang lebih mendalam. Sayangnya, laporan Max Havelaar tersebut ditolak Gubernur Jendral. Diduga, Residen Banten sudah memiliki ikatan dengan Adipati Lebak. Max Havelaar akhirnya memutuskan untuk turun dari jabatan, karena merasa gagal untuk memberantas penyelewengan di Hindia Belanda. Pengunduran dirinya tersebut, disetujui langsung oleh Gubernur Jendral. Novel ini memiliki latar belakang cerita sejarah yang sangat menarik. Di mana, saat pemerintah kolonial Belanda menikmati hasil melimpah dari perdagangan kopi, justru rakyat Lebak dibuat sengsara dengan sistem tanam paksa, pajak, dan korupsi. Karya sastra monumental yang pernah menggemparkan dunia ini, sangat direkomendasikan untuk pembaca yang tertarik dengan sejarah Indonesia, sastra klasik, dan kritik sosial, karena banyak bercerita tentang kolonialisme dan dampaknya terhadap rakyat Indonesia. Elisbeth Diahningrum Putri Nuswantara, merupakan alumni SMPK Frateran Celaket 21 Tahun Ajaran 2023/2024 dan kini menjadi siswa baru di SMA Negeri 9 Kota Malang Tahun Ajaran 2024/2025

Max Havelaar, Novel Karya Multatuli yang Menggemparkan Dunia Read More »