Mee, Namaku (34)

Mee, Namaku (34). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan Mee tentang Mee diputus hubungan keluarga. Kelanjutanya, Mee mulai menjelajah dunia baru, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (33)

Bagian 5

Putus

34

Seorang sais tak pernah lupa memasang sepatu kuda
Larinya kencang berderak-derak
Aku tak dapat bertanya, di mana aku berada?
Hati melayang, pikiran melayang, kaki terasa tak memijak

Baca juga: Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu

Di barat alun-alun berdiri masjid akbar
Beduk ditabuh gemanya bertalu-talu
Sehabis mendapat ledakan yang besar
Serpihan-serpihan jiwaku berserak di antara waktu

Lihatlah gergaji mata pisaunya bergerigi
Sesudah diasah ketajamannya untuk membelah kayu
Dapatkah kamu bertanya kepada orang gila, ke mana akan pergi?
Menyusuri gang-gang kecil tanpa tujuan, itulah aku

Kalau kau ingin sayur rasanya pahit pilihlah buah pare
Lebih enak dimasak krengseng hanya sedikit basah
Ada mata laksana permukaan danau diterpa cahaya sore
Itulah mata Bu De, menahan tumpah memandangku goyah

Orang tidak mampu selalu menjadi korban
Kalau diinjak tak dapat berbuat apa-apa
Laksana penyanggah menopang beban
Bu De membawaku minta maaf kepada Papa

Jaman itu jajan anak-anak yang manis hanya ada gulali
Didinginkan agar dapat membeku
Sudah wataknya ludah tak akan dijilat kembali
Papa tak mencabut putusannya, tak ada lagi maaf untukku

Baca juga: Akhir Cerita Kota

Debu berterbangan di tengah alun-alun
Tempat penjual mainan memutar gasing
Angin kering mengikis bening embun
Seperti tangisku tanpa air mata sebab telah mengering

Kereta api berderak pada relnya terus melaju
Setiap palang pintunya tak pernah ditinggal penjaga
Kalau matahari terus berputar mengganti waktu
Mengapa aku harus berhenti tanpa mereka?

Busur diregang melontarkan anak panah
Tepat sasaran karena lengan tangan tak bergoyang
Ketika hujan mulai redah, basah masih di lapis tanah
Ingatanku mulai menjelajah, hanya kata Surabaya tanpa terbayang

Sudah tak terdengar lagi kicau burung prenjak
Sudah habis di taman terjebak pikat
Dari mana aku harus mulai beranjak
Jejak kaki meninggalkan kenangan tanpa harus diingat

Berjalan ke timur sampai perempatan Kudusan
Balik ke barat sampai Bioskup Mutiara
Usiaku baru tujuh belas, remaja ingusan
Bukan tonggak yang dikenang indah, tetapi terlempar sebatang kara

Baca juga: Tihawa Arsyady Pendekar Sastra Dari Aceh

Sedangkan berjalan ke utara sampai Penjara Wanita
Belok ke kiri akan sampai di ujung Jalan Kayutangan
Di tengah badai yang menghantam jiwa
Tuhan mengirim dewa penolong mengulur tangan

Jalan Kayutangan membentang ke utara
Di antara deretan toko ada yang menjual kebaya
Bagai orang buta aku dituntun memasuki belantara
Tentang kota yang hanya aku tahu namanya Surabaya

Tak ada jalan kepala terasa pusing
Tak dapat disembuhkan dengan obat kimia
Kota ini bagiku sangat asing
Tak pernah aku tahu barat timurnya

Arah barat alun-alun akan sampai di Talun
Jangan belok ke Selatan agar tidak nyasar
Dewa penolong tidak hanya menuntun
Menyemaiku di toko di kawasan Wetan Pasar

Warna jingga pagi hari menyapu langit biru
Sebentar lagi matahari di timur akan merekah
Bagaimana aku akan mengenal dunia baru
Kalau tidak masuk ke dalam, selangkah demi selangkah


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *