Mee, Namaku (30)

Mee, Namaku (30). Foto/Kobis/Emanuel Yuswantoro

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan dari senyum Mee jatuh cinta. Kelanjutanya, pada Bagian 5 diawali dengan pertemuan Mee dan keluarga kekasihnya tanpa sengaja, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (29)

Bagian 5

Putus

30

Hanyut di sungai mencari tepian
Airnya deras terbentur batu berkali-kali
Apalah artinya ketakutan dan keinginan
Kalau kemudian jalannya beda sama sekali

Baca juga: Mengapa Kita Harus Menulis?

Lampu menyala berpendar-pendar
Sinarnya tak dapat menembus malam gulita
Seperti pernah aku mendengar
Hidup bukan seperti matematika

Sampai pulau seberang naik perahu
Angin di buritan suaranya menderu
Kalau semua menghendaki untuk membenam cintamu
Tanpa tanda-tanda ia tiba-tiba berada di depanmu

Siklus hari sudahlah tetap, dimulai hari Senin
Tak dapat melompat ke Rabu, harus melalui hari Selasa
Debu tidak pernah tahu akan dibawa kemana oleh angin
Hinggap di daunan, di padang rumput, atau di kelopak mata

Orang boleh mempercayai pada ramalan
Kebenarannya kadang hanya di atas kertas
Tiba-tiba aku disuruh mengantar barang bersepeda menyusuri jalan
Rodanya meletus tanpa diduga dia sedang melintas

Kampung yang genting warganya digalakkan meronda
Berjaga beramai sampai malam menjelang pagi
Orang yang tak tahu arah bimbang kemana akan menuntun sepeda
Dia menawarkan menolong untuk memperbaiki

Baca juga: Menulis Resensi

Bukankah yang genting membuat kita tegang?
Sampai masalah menjadi terang
Bukan menolong itu yang membuat aku melepas setang
Tetapi senyuman yang menimpuk ketika sesak dada masih meregang

Tak cukup menyediakan alasan seribu satu
Seribu cara tak cukup untuk menghindari
Di depan rumahnya aku mengetuk pintu
Gemetar badan seperti sedang menghadap dewa Shangti

Api membara kobaran panasnya membius
Ketakutan yang mengusik dada menjadi lampau
Hati luruh seperti kabut menderai di pohon pinus
Yang muncul di hadapanku tak lain dewa Yue Lao

Isi bumi ini tercipta satu sama lainnya berbeda-beda
Masing-masing telah menunjukkan cirinya
Aku menyaksikan ketidak-sukaan Papa pada keluarga baba
Di hadapanku inilah mereka adanya

Siapa menyangka aku bisa masuk ke dalam rumahnya
Sedikit banyak dapat mengenali isinya
Perempuan berumur ini aku perkirakan mamanya
Banyak bicara tentang Gurawan dan adik-adiknya
Lelaki berumur itu aku perkirakan papanya
Hanya diam sambil melirik aksi istrinya

Baca juga: Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu

Orang memiliki pengetahuan karena mempelajarinya
Kalau tidak dari mendengar bisa jadi dari membaca
Ketika ia berbicara tentang, Pak De, Papa dan toko-tokonya
Aku menahan nafas, sejauh itukah Gurawan telah bercerita

Kalau ragu jangan kau paksa bertempur di medan laga
Seorang penakut disebutnya berlindung di bawah ketiak
Bercerita tentang keluargaku, wajah Papa membentang di muka
Matanya yang sipit melotot, giginya beradu gemeretak

Rasanya aku ditarik-tarik keluar pintu
Menyesali diri ini sepanjang jalan
Aku bayangkan Papa sudah menunggu di depan pintu
Kalau aku terlambat sedikit saja, pukuran akan mendarat di badan

Aku tak kuasa menghadapi godaan dan cobaan
Badan gemetar keringat mengucur tak terbilang
Aku tak tahan terhimpit dalam dua kenyataan
Tanpa banyak bicara lagi aku pamit pulang

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *