Mee, Namaku (27)

Mee, Namaku (27). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan Mee terpikat pada senyuman laki-laki Baba. Kelanjutanya, Mee gelisah dan gundah apa lagi ia kurang pergaulan dan tak kenal laki-laki, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (26)

Bagian 4

Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu

27

Senyum di warung sate itu seperti ombak di laut,
Membuat aku merasa betapa rapuh dan lemah,
Apakah begini rasanya jiwa dan hati tertaut,
Tidak bisa melawan, hanya bisa menyerah.

Baca juga: Melawan Kekuasaan Despot

Ibarat lain, seperti api yang menyala,
Panasnya membakar hati dan jiwa sampai tak tersisa,
Apakah senyumannya itu akan menjadi nyata?
Pertaruhannya antara indah dan binasa.

Apakah yang aku alami juga dirasakan gadis-gadis di luar sana?
Senyuman membuat mereka merasa indah dan bahagia, atau sengsara?
Kalaulah di ujung lidah ombak dan api bersemayam asmara,
Bagaimana aku bisa menahan gelora.

Akulah gadis yang masih polos, kurang pergaulan tak pengalaman,
Yang aku rasakan tak pernah tahu maknanya,
Kepada siapa bisa mengeluh yang aku rasakan,
Kali ini tentang laki-laki yang datang, tak tahu ujung pangkalnya.

Sekitarku hanyalah keluarga yang kolot,
Hanya Papa, Pak De, dan adik, laki-laki yang aku kenal,
Kalau kemudian ada laki-laki di luar dengan mata menyorot
Seluruh hariku hanya gemuruh dada dan hilang akal

Berbeda dengan melihat Papa yang diskriminasi,
Pak De yang sabar memberi perlindungan,
Adik yang membuliku dengan kata dan perlakuan,
Mereka adalah laki-laki yang aku kenal selama ini.

Baca juga: Semut-Semut Budaya

Pernah ada laki-laki lebih tua aku anggap sebagai kakak,
Laki-laki totok yang membantu Papa dalam berdagang,
Kalau ditanya apakah aku tertarik? Kujawab tidak,
Tiba-tiba datang ke Papa untuk meminang.

Dia sampaikan maksudnya dengan penuh harap,
Membuat aku merasa terkejut dan tak tahu maksudnya,
Dunia rasanya datang semakin gelap,
Apakah bisa perkawinan dikukuhkan tanpa cinta.

Untungnya Papa menolak dengan tegas,
Aku tahu dia datang dengan cara yang tidak pantas,
Tetapi, apakah itu tandanya aku tidak boleh jatuh cinta,
Kalau itu adanya, aku sedang dilanda rasa sedih dan kecewa.

Itu pula tentang senyuman di warung sate, membuatku takut,
Aku seorang gadis Cina totok, dia laki-laki Baba,
Tradisi yang kuat dan teguh akan menjadi alasan Papa,
Aku dan dia akan dianggapnya tidak patut.

Setiap malam aku gelisah dan buntu berpikir,
Senyuman itu telah berubah menjadi sihir,
Laksana magnet menarikku dalam jurang cinta remaja,
Yang akan menghadapkanku pada hari-hari berbahaya.

Baca juga: Pulang

Dapat dipastikan Papa akan mempertahankan tradisi,
Pasanganku harus orang yang memahami budaya,
Sekali pun aku lahir tidak diharapkan dan tak dapat mewarisi,
Papa tak akan menyerahkan aku pada laki-laki bukan harapannya.

Kamu akan tahu, perasaan tidak butuh akal dan pikiran,
Akan sirna setiap norma dan pertimbangan,
Akan ditempuh setiap usaha untuk menemukan jalan,
Akan diterjang panas terik dan lebat hujan.

Gerimis di waktu malam,
Menyusuri jalan menembus kelam,
Sampai di warung sate tidak ada senyuman,
Bercampur aduk antara harapan dan keraguan.


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *