Mee, Namaku (24)

Mee, Namaku (24)

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan kebangkitan setelah 1965. Kelanjutanya, mengembangkan toko di Kayutangan, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (23)

Bagian 4

Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu

24

Dengarkanlah setiap pesan dari pepatah:
Apapun yang kamu kerjakan pasti ada hasil
Tak selalu datang berlimpah-limpah
Kadang besar, kadang kecil

Baca juga: Perginya Sang Pendamai

Seperti musim, hujan tak setiap saat datang menderas
Di musim kering, pagi masih mengirim embun
Sekali pun keringat mengucur diperas
Rejeki tak selalu datang berjibun

Keringat mengucur sejak fajar
Pastilah tak punya waktu untuk begadang
Sepanjang waktu wajah-wajah berjajar
Suatu saat akan kamu ketemukan jiwa-jiwa yang matang

Dalam hidupmu akan kamu temukan orang seperti Pak De dan Papa
Mata sama sipit, tapi jiwanya tak ada sama
Pak De jiwanya tercermin sikap bijaksana
Sedangkan Papa pekerja keras sikapnya semena
Siapa yang tak mau mendengar jika Pak De berkata?
Setiap orang di rumah hormat kepadanya

Air hujan jatuh menimpa genting
Mengalir di sungai sampai ke lembah
Kalau Pak De sudah bersabda, artinya ada yang penting
Papa dan Mama tak akan berani membantah

Kemelun dupa menggiring mendung
Tak jadi hujan, hilang gulita di waktu siang
Begitulah orang-orang yang memiliki jiwa agung
Ia bertindak layaknya seorang pawang

Baca juga: Erfurt

Membuka toko menjadi tidak mudah
Disitulah peran Pak De menjadi penjaga gawang
Menambah toko baru karena pelanggan bertambah
Begitulah kami diajari ilmu berdagang

Di tempatnya strategis tak bingung pembeli
Jual apa pun akan laris manis
Toko di dekat gedung bioskop dibuka kembali
Berkat Pak De melakukan negosiasi

Tidak peduli dengan alasan setiap orang butuh makanan
Setiap bagian usaha pasti ada harga
Diijinkan dengan syarat, katanya situasi belum aman
Kami buka toko, di luar ada yang menjaga

Saran Pak De, tidak apalah sedikit-sedikit yang penting ada untung
Daripada kalian tolah-toleh seperti anthung
Semuanya nanti akan bisa dihitung
Seperti peribahasa, lama-lama menjadi gunung

Aku dan Mama mendapat tugas baru
Kami pindah jaga toko dari Kanjengan
Aku dianggap telah mampu
Mengelola barang dagangan

Baca juga: Dialektika Marx dan Engels

Bioskop terletak di Kayutangan
Penontonnya dari segala usia
Pembeli datang berpasang-pasangan
Menonton roman dari India

Jam enam pagi toko sudah dibuka
Di depan sudah ada tantara menjaga
Pelanggannya dari mereka yang sedang oleh raga
Lari pagi bersama keluarga

Siang hari toko tutup satu jam
Bukan untuk memberi kesempatan istirahat
Istirahat hanya di waktu malam
Dagangan disiapkan lengkap, kebutuhan pembeli bisa didapat

Sebagian besar kami produksi sendiri barang-barang
Kecuali ada barang murah bisa didapatkan
Begitulah cara kami berdagang
Sekecil-kecilnya pengeluaran, sebesar-besarnya pendapatan

Carilah selisih dari harga barang yang dibeli
Jangan terlalu memburu besarnya persen
Keuntungan kecil tapi berkali-kali
Di toko diajarkan; tidak meremehkan uang satu sen

Baca juga: Kebijaksanaan Seorang Maestro Sastra

Begitulah keuletan itu ditanamkan
Sudah melekat dalam nafas belaka
Hari-hari tenggelam dalam pekerjaan
Tidak ada kesempatan berleha-leha

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *