Mee, Namaku (23)

Mee, Namaku (23). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, peristiwa 1965 menggilas Mee. Kelanjutanya, kerja keras bangkit dari masa kelam, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (22)

Bagian 4

Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu

23

Prahara sudah mulai menyurut
Sekalipun ketegangan masih dirasa di sana-sini
Kehidupan kami mulai berdenyut
Memulai lagi membuka toko yang terlanjur terbengkalai

Baca juga: Clurit Sakerah

Aku ingat hari itu hari Kamis
Hari dimulainya kembali membuka toko Papa
Kami masih berdebar mendapat tuduhan komunis
Sekalipun kami tak mengerti apa-apa

Bukan hanya pengantin yang memulai hidup baru
Mempelai yang dipertemukan dengan pengiring
Sekalipun ketegangan, tuduhan, tekanan, ketidakpastian belum berlalu
Tanpa bekerja kami bisa mati mengering

Aku sudah tidak lagi sekolah
Tidak ada yang berani menerima
Sekalipun namaku sudah di ubah Indonesia
Tapi Papa masih bertahan pada Tionghoa

Sudahlah, itu sudah menjadi masa lalu
Buat apa pula mengurung sampai merana
Untuk mengisi hari-hariku
Aku menjadi penjaga toko milik Papa
Toko yang selamat dari amukan gestapu
Toko satu-satunya yang harus dijaga

Pak De sudah lama menjadi Indonesia
Pergaulannya tidak melulu dengan orang Tionghoa
Setelah peristiwa yang menghantam ibu kota
Pak De bisa berlindung pada kolega
Pak De pula yang mendorong Papa
Agar toko segera dibuka
Sekali lagi, Pak De penyelamat keluarga
Padanya hidup kami menjadi tidak sia-sia

Baca juga: Semut-Semut Budaya

Toko buka berhari-hari pembicaraan pembeli masih sama
Kekacauan dan tindakan pada sesama semena-mena
Pak De berpesan kami tak boleh menumpang kata
Karena kami tidak tahu pembeli yang datang itu siapa
Bisa jadi dia dikirim sebagai mata-mata
Bicara dan tujuannya tidak akan sama
Tugasku di toko hanya bekerja dan bekerja
Tak ada kata lelah sampai habis jam buka

Toko buka pagi pada jam enam
Aku sudah bangun saat adzan subuh di masjid seberang alun-alun
Sebelum toko dibuka aku bekerja di dalam
Memeriksa dagangan untuk ditata dan disusun

Kami tak mengenal sarapan pagi
Dengan air putih perut diisi
Sarapan baru kami lakukan pada siang hari
Itu pun sering hanya dengan garam dan nasi
Kalau pun ada lauk paling cuma seminggu sekali
Rasanya nikmat dengan ikan laut sambal terasi

Hari-hari di toko tak pernah sepi pembeli
Barang-barang dagangan cepatlah habis
Sebelum buka pada pagi hari sudah mengantri
Kata orang kami menggunakan penglaris

Di toko, hidupku mulai ditempa
Bagaimana hidup harus dipertahankan
Seluruh isi toko dan harganya tidak boleh lupa
Di dalamnya tersembunyi harapan masa depan

Baca juga: Pulang

Aku bekerja hanya membantu
Tidak dihitung seperti pekerja
Kerjanya tetap sepenuh waktu
Sehari-hari berputar seperti roda
Bangun tidur memeriksa dagangan satu per satu
Membersihkan toko, tak boleh ada debu dan noda
Etalase kosong diisi barang yang baru
Tak boleh bilang pada pembeli; tak ada
Toko dibuka, wajah tak boleh layu
Datang pembeli harus segera disapa
Sampai toko tutup badan terasa ngilu
Segera tidur agar subuh sudah terjaga

Ibarat pepatah; baja bisa patah
Begitu kami, Suku Gek, ulet tak kenal lelah

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *