Dua Anjing Tanpa Guk-guk

Dua ajing tanpa guk-guk. Foto/Ilustrasi/canva.com

Dua anjing bertemu

Yang satu gila, yang satu mabuk…

Mereka bertatapan dan memintal percakapan

“Aku diburu satpam, juga orang-orang yang kurang kerjaan. Mereka diupah majikanku, aku bakal dihabisi bisa jadi disuntik mati, karena aku dianggap gila”.

Baca juga: Perginya Sang Pendamai

Mendengar ini, si anjing mabuk hanya menggeleng -gelengkan kepala…bukan karena takjub atau apa, tapi kepalanya terasa berat usai meminum cairan di setengah gelas plastik di bawah bangku kedai tuak…

Si anjing (yang disangka) gila, terus menceracau, bercerita tentang manusia yang tak lagi seperti manusia..

“Hik…hik…”, si anjing mabuk bersuara bagai manusia cegukan, ia ingin menggonggong tapi dilarang si anjing satunya…

Di jelang senja di tengah jalan berbukit, dua anjing ini saling berhadapan memagut keakraban meski sebelumnya tak saling mengenal…

Sementara di bawah sana, serombongan orang berjalan gusar membawa tali, jaring juga parang…

Dua anjing merapatkan tubuh berbaring di bawah pohon besar, menempelkan telinganya ke tanah…

Baca juga: Mee, Namaku (22)

Orang-orang gusar menghentikan langkahnya, mereka mulai ragu adakah anjing yang dicari ada di sekitaran jalan ini?

“Tak ada gonggongan, tak ada suara guk guk guk…berarti tak ada anjing itu”…

Tiba-tiba hujan turun, orang-orang berlarian…

Sementara di jalan berbukit, si anjing mabuk keheranan memandangi rekannya yang asyik
menari di tengah derasnya hujan…

“Kemarilah kawan, hujan telah menolong kita, ayo kita menari tanpa bersuara”…

Si anjing mabuk melangkah oleng dan berjalan menjauh, “Rasanya manusia benar, dia memang anjing gila”.

Sawangan, 22 April 2025

 

Kunto Wibisono, lahir di Semarang, 24 Januari 1970. Menekuni profesi wartawan sejak tahun 1995 di berbagai surat kabar: Sinar Pagi, Berita Kota, Berita Pagi (Palembang), dan penulis naskah tayangan televisi. Juga menulis berbagai novel: Kuatkan Aku (2008), Ngeband Yuk, editor novel Black Robe, buku Kahitna: Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan. Saat ini tinggal di tepian Depok, mengajar musik, dan menikmati hening malam serta kicauan burung di pagi hari.

 

(Editor: A. Elwiq Pr.)

0 komentar untuk “Dua Anjing Tanpa Guk-guk”

  1. Ali Fikri Nurhidayat

    Keren Pak.
    Bahwa semua dengan masalahnya masing-masing. Dan yg paling mengerti diri kita adalah diri kita sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *