Mee, Namaku (21)

Mee, Namaku (21). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee belajar bahasa. Kelanjutanya, bagaimana Mee menjadi Indonesia, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (20)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

21

Lihatlah diriku yang tumbuh menjadi remaja matang
Tumbuh pada jalan yang senantiasa dikepung badai
Tak ada angin tenang menerbangkan layang-layang
Tak ada angin laut yang membawa biduk meninggalkan pantai
Hidup seperti hantu gentayang
Setiap kaki berpijak dasarnya hanya berandai-andai

Baca juga: Pulang

Aku Tionghoa tetapi tidak diberi masa depan
Jawa bukan karena kulit dan sipit mataku berbeda
Indonesia aku tak mengerti meski di tanah ini padaku ditaruh kehidupan
Dimana kemudian tempatku berada?

Kalau aku dibuang moyangku, kenapa tak memilih Indonesia?
Pada Indonesia aku harus mengenal bahasa
Usia tigabelas aku tak memilih sekolah Tionghoa
Aku sekolah SMP yang sekarang diduduki SMA Lima
Sekolah campuran yang mengajarkan Bahasa Indonesia
Juga Sejarah Indonesia sampai merdeka

Aku sudah mengenal abjad
Indonesia aku rangkai dari kata menjadi kalimat
Belumlah mampu membaca buku setebal bantal
Suku bangsanya belum semua aku hafal
Seperti berlari aku mengejar
Sudah aku arungi kata sebelum fajar

Satu per satu aku kenal Sejarah
Dari tokoh-tokoh yang turun di medan laga
Kalau belum ketemu aku tak akan menyerah
Sekalipun dari kisah yang penuh jelaga
Bagiku membaca Indonesia menjadi sikap mewah
Suatu saat pengetahuanku tak dapat dihitung harga

Aku bertemu dengan tokoh Kartini
Dari kisah buku-buku sekolah
Kalau aku bisa membaca buku yang inti
Bukan berasal dari kisah
Pastilah aku bisa menyelami
Yang isinya akan menjadi petuah

Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran

Aku masih bisa mendengar dari kisah orang
Buku kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang
Bagiku tak akan mudah mendapatkan ini barang
Sekalipun usahaku tak sedahsyat Kartini berjuang

Akhirnya aku dapatkan buku ini yang berbentuk roman
Terbitan tahun tigapuluh delapan
Katanya, jumlah suratnya sudah berkurang
Dimaksud agar pembaca semakin terang
Tak apalah, yang penting surat-suratnya masih asli
Aku akan membaca, meskipun sampai seribu kali
Kalau yang mau asli lagi berbahasa Belanda
Sudah pasti aku tak sanggup membaca

Buku roman yang aku temukan
Di sudut rak perpustakaan
Nyelempit sendirian, sunyi kesepian
Seperti potret nasib perempuan
Yang sedang ia perjuangkan

Dari Kartini aku baca tokoh-tokoh lain
Membacaku semakin rajin
Indonesiaku semakin lengkap
Sedangkan aku masih buta map
Biarlah asal aku bisa menangkap semangat
Dari jiwa yang dipertaruhkan dengan hebat
Dari mereka aku tahu masing-masing berperan
Agar kepala tegak hidup harus diperjuangkan

Bahasa Tionghoa masih aku baca
Indonesia tempatku berkaca
Jawanya hanya lisan belaka

Tionghoa selalu membayang Mama-Papa
Indonesia tokoh Kartini melekat di mata
Sedangkan Jawa, hanya ada Mbok Bi’ah

Baca juga: Gemetar

Kini kau tahu, bagaimana aku menapak remaja
Aku mulai menjadi Indonesia
Meskipun statusku masih Tionghoa

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *