Mee, Namaku (19)

Mee, Namaku (19). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, betapa gembiranya Mee dijemput Papa-nya. Kelanjutanya, apakah sekolah Mee mulus-mulus saja?, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (18)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

19

sudah kukatakan aku bukan anak bodoh
pandai pula dalam mengarang
meski menghadapi berhitung aku tergopoh
nasibku di sekolah juga malang

Baca juga: Kisah WR. Soepratman, Jurnalis dan Musisi Jazz Penggubah Lagu Indonesia Raya

pulang sekolah pukul dua belas
saat matahari di puncak benderang
pada akhirnya aku tidak naik kelas
karena sekolah tidak hanya berbekal mengarang

teman-temanku tidak ada yang tertinggal
menempati kelas baru dengan pelajaran baru
buku baru ruangan baru
pada wajah mereka tidak tergores sesal

sedang aku seperti pucat bulan
ditenggelamkan awan
sudah jadi anak tak diharapkan
rasa malu bertemu kawan

kata guruku aku kurang belajar
perlu tambahan bimbingan di luar kelas
harus begitu untuk mengejar
kecuali dasarnya memang pemalas

aku marah dan merasa terluka
seperti diri makin tak berguna
padahal aku tak bisa mendapat tambahan belajar belaka
sebab mama tak mau mengeluarkan tambahan biaya

Baca juga: Soesilo Toer, Ziarah Literasi

aku hampir putus asa
tak mau lagi meneruskan sekolah
kata bu de “hidupmu akan binasa”
tak boleh merasa kalah

bu de membujukku untuk mengulang
berteman dengan adik-adik kelas
aku bersyukur punya bu de penyayang
tak akan pernah kulupakan untuk membalas

sudah kukatakan aku bukan anak bodoh
bukan anak bodoh karena tidak naik kelas
tidak naik kelas karena kurang bimbingan
kurang bimbingan karena papa mama anggap aku tiada guna

aku tahu sekarang jalannya
jalan agar aku tak ketinggalan kelas
kelas yang sama dengan setahun lalu
setahun yang terbuang sia-sia

papa mama tetap tak mau keluar biaya tambahan
tambahan belajar seusai sekolah
seusai sekolah aku mengulang pelajaran
mengulang bersama bu de tak kenal lelah

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

bu de orangnya telaten
sekali pun wataknya keras
bersama bu de aku menjadi anak yang titen
menghindarkanku tinggal kelas

semua pelajaran aku pelajari ulang
berusaha tiap pelajaran aku suka
semua pelajaran menjadi terang
tak satu kata pun menjelma duka

mengapa bu guru tidak segamblang bu de
apakah gamblangnya di luar kelas
atau memang harus diulang di setiap sore
agar pelajaran dapat dikuasai secara tuntas

bu de membuatku punya rasa syukur
bersyukur aku tidak merasa terbuang
secercah harapan masa depan makmur
harus kutempuh dengan tiada henti berjuang

sekali lagi, aku bukan anak bodoh
jalan terangku sudah terbentang
suatu saat akan aku jadikan contoh
jangan sisakan waktu untuk terbuang

Baca juga: Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu

aku memang tidak lagi mengandalkan kesukaan mengarang
sekali waktu aku tunjukkan dalam pelajaran bahasa
seluruh hidup memang patut dikenang
detik demi detik tanpa tersisa

pada penghujung kelas aku mengerti
tidak semua kebutuhan dijawab dengan uang
karena hidup menjadi punya arti
kalau setiap tarikan nafas adalah daya juang

ketika orang tuaku membuang perhatian
ada orang lain yang menjadi pengganti
jangan takut kehilangan
sekalipun itu karena mati


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *