Mee, Namaku (17)

Mee, Namaku (17). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee dijuluki jaran monelan. Kelanjutanya, Mee mengatasi momok belajar berhitung, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (16)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

17

kemudian aku tahu setiap perjalanan kereta menuju stasiun
punya jadwal keberangkatan, kecepatannya diatur
setiap hidup punya tujuan yang ditempuh bertahun-tahun
tak akan pernah berbalik mundur

saat masih sekolah aku belum mengerti
buat apa aku hilir mudik pada sebuah jalur
aku berangkat sepanjang pagi
dan kembali pulang menjelang duhur

yang aku tahu, di sekolah ada guru
berkumpul anak-anak menjadi teman
tak lupa aku selalu membawa buku
setiap hari aku buka halaman demi halaman

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

aku membaca semua cerita
paling sedih bila belajar berhitung
berhitung menggunakan sempoa
menghitung deretan angka sambung-menyambung

pelajaran menulis cerita paling kusuka
apa lagi membacanya di depan kelas
selalu saja teman-teman bertepuk tangan menggema
itulah yang menyebabkan aku hilang malas

kalau sudah menghadapi angka-angka
rasanya perut mulas, kepala mendengung
kalau mendengar suara kaki guru melangkah
keringatku mengucur sebesar jagung

tapi aku tak pernah malas pergi sekolah
kata Pak De, suatu saat aku akan bisa
kalau pun sekali dua kali salah
lama kelamaan mahir luar biasa

aku tak boleh takut dengan bilangan
aku harus bersahabat dengan angka-angka
hitunglah pelan-pelan
setiap yang ditemui selangkah demi selangkah

aku menghitung berapa banyak langkah sampai sekolah
sekali pun setiap hari tak selalu sama
sampai di kelas aku tulis jumlah langkah
sampai halaman buku tak ada sisa

Baca juga: Sastra Vs Penguasa

pergi dan pulang melintas di depan penjara wanita
bangunan yang berdiri di seberang alun-alun
aku hafal jumlah jendela
warna catnya hijau daun

penjara wanita memisahkan jarak rumah dan sekolah
jarak terpendek meniti trotoar
kalaulah terik matahari membakar kepala
aku melintasi dengan hati yang sabar

aku tak pernah tahu apa itu penjara
hanya penjaga kerap berdiri di depan pintu
kadang aku bertanya apa isinya
tak satu orang pun memberi tahu

sekalipun setiap hari menghitung jumlah jendela
aku memasuki dalamnya penjara dengan imajinasi
aku bayangkan berkerumun para wanita
lantas dimana para suami

kalau para wanita berada di dalamnya
dimana rumah mereka
setiap kali aku akan menulis cerita
dalam otakku selalu dihantui dalamnya penjara

mengapa aku menggambar terali
tanya Bu Guru sambil memicingkan mata
wajahku muram bersedih
sebab aku teringat kamar gelap di rumah Papa

bisakah kamu menggambar gunung, awan, dan bulan?
pinta Bu Guru, tangannya sedekap
kata-kata yang menumpuk dalam kepala tentang peristiwa sialan
bulan mengintip kamar yang gelap

Baca juga: Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu

akhir tahun nilai-nilai sekolah dipajang
dalam hatiku Bintang-bintang gemerlap
nilai berhitungku tinggi menjulang
sedang hasil ceritaku selalu sedih, muram, dan gelap

terbukti aku bukan anak bodoh yang bisa diremehkan
apakah Papa Mama masih menganggapku tak punya masa depan?

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *