Pohon Ficus di Hutan Buraku

Pohon Ficus di Hutan Buraku. Foto/canva.com

Konon dalam legenda Suku Tausa, hidup makhluk bernama Jackalope hitam. Ia bertelinga panjang, berbulu lebat dan lembut, bermata biru, berkumis, dan jalannya melompat-lompat mirip kelinci. Bertanduk emas dan di sekitar tanduknya dipenuhi serbuk bintang pagi. Jackalope hitam pun bersayap kuat bak burung Garuda, warna sayapnya hitam nan indah berkilauan.

Baca juga: Mee, Namaku (12)

Pada suatu sore yang cerah Myrna dan John kecil dari pasukan Sasambo memasuki Hutan Buraku. Salah satu hutan di Pulau Ruku yang dihuni Suku Tausa. Mereka melihat suatu hal ganjil. Mereka menyaksikan tanah terbelah di Hutan Buraku. Dari dalam tanah mengeluarkan semburan air dan gas yang kuat. Beberapa saat semburan tersebut mengebulkan asap. Dan saat asap menghilang muncul Jackalope hitam, sebagaimana wujudnya yang didongengkan turun-temurun.

John kecil terpaku, matanya terbelalak, mulutnya menganga, jantungnya seraya berhenti berdetak dan membeku bercampur haru biru. John kecil tak menyangka doa yang terselip sebelum tidur benar-benar terkabul. Bertemu Jackalope hitam di dalam hutan Buraku.

John kecil terpisah dari Myrna dan pasukan Sasambo. Jackalope hitam melompat-lompat ke arahnya. Berhenti dan berdiri tepat di depan John kecil. Ia mengepakkan sayap lebar-lebar selebar angkasa. Tanduk emasnya berkilauan dikelilingi serbuk bintang pagi seperti bintang-bintang yang dilihatnya setiap pagi bersama Myrna di langit hampir benderang. John kecil bertanya, “siapa namamu? Apakah kau benar seekor kelinci dalam legenda hutan Buraku yang terasing?”

Jackalope hitam melompat tinggi dan berubah wujud menjadi laki-laki bersayap hitam pekat. Ia berdiri dihadapan John kecil. Tentu lebih tinggi dari John kecil. Laki-laki itu mengenakan kain hitam menutupi seluruh tubuhnya, duduk di hadapan John dan tersenyum, “adakah cerita yang lebih menyeramkan tentang kami di dalam hutan Buraku yang terasing ini?”

Baca juga: Soesilo Toer: Pram Itu Ideologinya Kebebasan

Laki-laki itu memberikan setangkai bunga Daisy putih pada John kecil.

“Begini, nak. Ribuan tahun silam kami mengenal manusia sepertimu. Kami menyukai mereka karena mereka ramah dan selalu tersenyum manis. Menggendong kami, memanjakan kami, menimang-nimang kami. Memberi kami tempat sehingga kami nyaman beranak-pinak. Suatu ketika mereka menyadari saat kami berusia dewasa, yakni tepat berumur 5 tahun kami memiliki sayap yang berkilau. Terbersitlah niat menjual kami. Tak sedikit yang membayar mahal. Kami dipelihara sebagai teman. Di rumah manusia, kami dikurung dalam sangkar. Yang paling naas kami disembelih lalu diawetkan dengan air keras lalu digantungkan untuk menjadi pajangan. Semua itu untuk kepuasan bangsamu, bangsa manusia. Jumlah kami semakin sedikit. Kami mulai bersembunyi di tempat yang tak dapat manusia temukan. Kau tahu? Mereka tidak terima. Hutan di rusak. Pepohonan ditebas habis hanya tersisa akar mati. Tidak hanya sampai di situ, mereka bakar sisa pengrusakan agar kami keluar dari persembunyian dan menyerahkan diri cuma-cuma. Semakin mereka tak menemukan kami, kemarahan semakin menjadi-jadi.”

“Kalian tak marah?” sela John kecil.

Mata laki-laki jelmaan Jackalope hitam memandangi John kecil dengan sendu. Ia meneruskan kisahnya, “seluruh isi hutan mereka ambil. Hewan-hewan yang dapat mereka tangkap mereka habisi, tanaman sebagai penyeimbang kehidupan kami mereka rusak tanpa permisi. Malam hari api semakin berkobar akibat pembakaran yang manusia buat. Angin yang bertiup kencang menuju selatan biasanya mengantarkan kesejukan nan abadi tanpa meninggalkan jejak kesengsaraan atau kenestapaan. Kini kesejukan itu lenyap. Hanya panas api yang menggagapi kehidupan kami. Kehilangan keluarga yang harus kami saksikan di depan kami. Kehancuran itu dibayar lunas oleh manusia. Lalu kami mengasingkan diri di dalam Hutan Buraku. Kami kehilangan keramahan bangsa manusia. Kami kehilangan senyum manis mereka,”.

John kecil memandangi laki-laki berbusana hitam dan bersayap hitam itu sambil tersenyum. Laki-laki itu pun menyentuh dagu John kecil.

“Ketamakan menjadi sumber kesedihan,” ujar laki-laki itu lirih. “Aku kehilangan keramahan manusia,” sambungnya.

“Di mana kau tinggal setelah diperburuan manusia tidak berhasil?”

“Di sana,” jawab laki-laki berperawakan tinggi lampai itu. Ia menunjuk gua tertutup pohon tua penjaga mata air, Pohon Ficus. Hanya barang siapa memiliki metta dalam dirinya yang dapat melihat dan menembus mulut gua tersebut.

“Sekarang kembalilah pada Ibumu,” gumam Jackalope hitam menunjuk Myrna dan sekejap kembali berubah wujud lalu menghilang.

Baca juga: The Scarlet Letter: Sebuah Kisah Tentang Dosa, Penebusan, dan Pilihan Hidup

John kecil menata napas, terdiam sejenak, dan berlari menuju arah matahari terbenam.
Di kejauhan Myrna mengernyitkan dahi sambil menatap ke arah John kecil yang sedang berlari kencang ke arahnya. Myrna menyambut dari depan tenda.

“Di mana pasukan Sasambo yang lain?” tanya Myrna. Myrna melihat tangan John kecil membawa setangkai bunga Daisy dan menyerahkannya pada Myrna. “Kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Myrna. John kecil begitu pucat pasi dan tegang.

Di dalam tenda Myrna memberikan segelas air putih hangat dan mengusap kening John kecil yang penuh keringat. Setelah meneguk habis air putih tanpa berkata-kata John kecil mengambil buku catatan dan menuliskan semua hal yang ia alami. Myrna membiarkan John kecil sendiri. Ia keluar tenda menanti pasukan Sasambo yang lain.

Tak lama berduyun-duyun pasukan Sasambo kembali dengan membawa bermacam-macam bunga liar, aneka buah, bebatuan, rating pohon, dan dedaunan yang akan mereka analisa bersama. Mereka saling berpelukan. John kecil bergabung dan pelukan Myrna disambut John kecil seraya tersenyum lebar. Ia menyerahkan buku catatannya kepada Myrna. Perempuan itu membaca sekilas dan terpana.

Pasukan Sasambo riuh di senja itu. Bertukar cerita dan menguar bau asam keringat yang segar dan bahagia.

Celaket Malang, 10 Februari 2025


(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *