
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, renungan tentang dewa-dewa yang menyiksa. Kelanjutanya, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (11)
Bagian 2
Perempuan Tiada Guna
12
orang serumah memanggilnya Yu Nah
nama aslinya Bi’ah
aku memanggilnya Mbok Bi’ah
entah mengapa
orang rumah
semau-maunya mengganti nama
kalau tidak ada dia
barang kali aku sudah meninggalkan alam fana
di kamar gelap, tanpa cahaya
Baca juga: Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu
perempuan Jawa
bukan sanak saudara
hanya pembantu di rumah
baiknya melampau Mama
aku dibawanya menyusuri jalan
agar sampai di rumahnya
harus melewati sawah dan tegalan
dia memang orang desa
aku diajaknya naik delman
kusirnya masih tetangga
“hai, Bi’ah
kamu culik anak orang
nonik, cantiknya menik-menik,”
kata kusir delman
“ojo ngawur,”
kata Mbok Bi’ah
sambil tertawa
memandang wajah dan kumisnya
wajahku pucat, tubuhku gemetar
tapi, aku merasa dilindungi Mbok Bi’ah
sehingga aku bisa merasa tegar
“mau duduk sendiri
apa pangku Mbok Bi’?”
tanya Mbok Bi’ah
“sini, pangku Papa,”
kata kusir delman sambil tertawa
“jangan, Nduk,
orangnya bau kuda,”
balas Mbok Bi’ah, dengan tertawa pula
Baca juga: Soesilo Toer: Pram Itu Ideologinya Kebebasan
kusir delman melirik, lalu tertawa
mereka saling berbalas tawa
sementara aku hanya tolah-toleh, tak tahu makna
*
di rumah Mbok Bi’ah
disambut anak perempuan
dengan raut muka menyimpan pertanyaan
heran melihat aku
dengan mata yang sayu
aku ulurkan tangan, sambil menyebut namaku
“Mee, namaku
kalau gak suka, panggil Mei.”
tangannya menyambut tanganku
“namaku Siti.”
“Mee, kamu cantik.”
“Siti, kamu juga cantik.”
“kalian anak-anak cantik,”
sambung Mbok Bi’ah
“Siti, ajak Mee main pasaran.”
Baca juga: The Scarlet Letter: Sebuah Kisah Tentang Dosa, Penebusan, dan Pilihan Hidup
perintah tak perlu diulang
Siti berlari ke belakang
kembali membawa loyang
terbuat dari bambu yang usang
ia kumpulkan pecahan genting
yang digunakan sebagai uang
ia petik daun-daun, ia petik bunga-bunga
ia petik rerumputan, ia petik buah-buah perdu pagar
ditata seperti di pasar
siapa pedagang, siapa pembeli?
aku mau jadi pedagang
bagaimana membungkus, aku tak mengerti
Siti mengajariku membungkus dengan daun pisang
Siti membeli dengan pecahan genting
nilainya dua sen
sebungkus bunga harganya sat usen
aku beri kembalian pecahan lebih kecil
nilainya satu sen
pasaran sudah buka
anak-anak tetangga datang
dengan wajah penuh suka
kami seperti betul-betul bertetangga, saling tandang
dunia seperti telah terbuka
aku merasa tidak sedang berperan
tetapi kurasa betul-betul berdagang
*
kegembiraan selalu datang dengan cepat
selalu kalah dengan waktu
semua dagangan telah dilipat
sisa-sisanya telah dibersihkan dengan sapu
aku dan Siti mandi air hangat
yang airnya dimasak dengan tungku
petang menjelang
aku tidak diantar pulang
aku menginap di rumah Mbok Bi’ah, di kampung
kegembiraanku membuncah tak bisa dihitung
Baca juga: Mana Lebih Penting: Mencari Ilmu atau Mengejar Gelar?
kami tidur bertiga
aku dan Siti di pinggir
Mbok Bi’ah di tengah
ia mendongeng seperti sedang menyihir
cerita tentang dua anak semut
yang sedang hanyut
yang satu berdoa agar tetap hanyut di tengah
“ngah…o, ngah….o, ngah….o,”
yang satu berdoa agar bisa minggir
“inggir….inggir….inggir,”
dongeng yang tak pernah kudengar
dongeng yang membekas dalam ingatanku, berpendar.
