Sajak Lima Belas Januari

Sajak Lima Belas Januari. Foto/canva.com

Januari telah tiba
Menggelinding seperti roda
Yang habis melindas tai kucing
Di jalanan tipu menipu bau kencing

Januari meringis
Menahan perut yang makin menipis
Kapan bisa berpikir dengan akal sehat?
Kesejahteraan nun jauh disambar malaikat
Malaikat-malaikat rupawan
Berpura-pura menjadi dermawan

Kita menjadi massa dari golongan mati akal
Juga mati rasa
Dininabobokan dengan gelombang citra maya
Boleh hidup hanya dalam media sosial
Sampai tak dapat membedakan
Mana kesungguhan mana tong sampah:
Kita boleh muntah sepuasnya
Mencaci sambil tertawa
Menghasut sambil bersekongkol
Dijebak dengan pinjol
Yang kita terima dengan suka cita
Sampai Januari tiba, kita tetap tak berdaya
Sampai otak kita tak ada isinya

Januari! Januari! Januari!
Datang tidak membawa arti
Kemarin kita juga seperti ini
Bergelut dengan diri sendiri
Sampai mengabur di depan mata penuh korupsi
Ditelikung dengan menerjemahkan arti dan arti
Januari! Sudahkah kita mengerti?
Tidak! Kian hari makin tak sadar diri

Januari sudah di puncak hari
Kita makin meriang
Dicekik pajak dan naiknya harga-harga
Katamu, “jangan kau pikir yang kau dapat dari negara,
Pikirlah apa yang kau berikan pada negara!”
Matamu!
Kau katakan itu pada koruptor
Katakan pada penggarong
Katakan pada dermawan songong
Kita makin meriang dihadapkan angka-angka
Hutang, nilai korupsi, dan putusan keadilan

Jadi, Januari
Jangan pergi
Kita bikin perhitungan hari ini.

Tawangmangu, 14 Januari 2025

Komik Pergerakan

Kita adalah cerita yang dijajar-jajar di tembok sejarah
Yang dimulai dari iseng saja sampai menggumpal melawan fana
Kita tumpahkan dalam diskusi di meja-meja warung yang gelap,
Kotor, yang ujungnya kita catat dalam daftar hutang
Sebelum kita temukan satu kata: lawan! *)
Kita tak lupa memeta di atas debu di atas meja
Sampai berjumpa dengan: siapa kawan siapa lawan
Wajah-wajah makin buram,
Tak jelas benar berdiri di ujung mana
Tapi sesudahnya, ketika hujan mulai terang
Semua kelihatan seperti adanya
Seperti ketika layar membuka: penonton tahu mana yang nyata.

Aku dan kau hilir mudik dalam gerbong-gerbong kereta
Untuk bersua dalam kolong-kolong rahasia
Sebab telepon tak bisa dipercaya
Satu kata sangat berharga sebelum mewujud di medan laga

Menemuimu seperti mengejar hantu
Hanya dengan gonggongan yang menyirap angin
Kita bisa bercengkerama
Dalam gulita
Sampai kita bergetar-getar
Sampai mata memejam
Sampai ujung jari melepas genggaman

Kita diterbangkan angin yang ditiupkan oleh entah
Kemudian menghentak-hentak kawan
Menggema seirama dalam relung gerombolan-gerombolan
Menderap sebaris kata
: Rontokkan tiran!

Tirani rontok
Lahir anak cucu
Berwajah sayu

Kini
Kau dan aku
Di pojok tembok sejarah
Tidak saling menyapa
Bermain Tanya

Diedit: 14 Januari 2025, Jl Tawangmangu

*) dari sajak Wiji Tukul berjudul Peringatan

Cermin yang Tergambar pada Muara

Yang sampai di sini, di muara
cermin: memantulkan jejak makin nyata
kau tempuh, sembari mengais derita
Keangkuhan dan kesombongan
Dari lembut desa-desa
Dan nafas kota-kota

Kau tumpahkan sesak itu
Pada air mata ibumu, pertiwi
Untuk dikandung gelombang
Dituntaskan dalam irama debur
Byur!

Senggama sempurna
Melahirkamu bening dalam hening
Kemudian menapaki garis leluhurmu
Dan tak dapat kau hindarkan
Nasib menghadang di depan pintu
Mungkin, tak lebih baik dari pendahulu
Karena desa telah pudar
Karena kota makin serakah

Alirmu sampai pada muara
Adalah kumpulan air mata

2014 – Diedit 14 Januari 2025, Jl Tawangmangu

Di Meja Ini

di meja ini
sunyi menepi
hidup seperti atlas
telah tuntas

mencoba di jalanan
barangkali membekas jejak
tak seperti sajak
tak memetik kedalaman

dari meja ini
aku berdiri, pergi

Jl. Tawangmangu, 14 Januari 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *