Kembali ke Desa Bakung

Kembali ke Desa Bakung. Foto/canva.com

Myrna berhenti sebentar memandangi anak-anak bermain di bantaran Sungai Tendean. Mereka berusaha memancing sesuatu. Myrna mengeluarkan kamera analog Olympus berwarna hitam putih, memutar gulungan film dan menangkap momen tersebut.

Baca juga: Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (2)

Sungai Tendean, di Desa Bakung, jadi saksi percakapan sore itu. Akhirnya semuanya jelas. Pertemuan dan perpisahan ialah sahabat sejati. Pertemuan kembali dua orang manusia setelah delapan tahun terpisah.

John banyak bicara, tentang perkebunan dan persawahan. Tentang sikap dan langkah yang dilakukan Kakeknya. Menurutnya, itu adalah sisi intelektualitas dari seorang petani kelahiran 1949.

Begini kisahnya, penduduk sekitar rumah kakek belum menyadari upaya penyelamatan yang dilakukan kakek. Beberapa petani terjerat utang piutang bank perkreditan. Kakek berusaha membantu. Mereka diupayakan mendapat penghasilan lain di luar panenan. Agar urusan dapur mengebul dan jatah uang saku anak tidak berkurang.

John mengatakan, kakeknya berusaha agar hati nuraninya tetap hidup sebagai petani. Awalnya John meragukan kata-kata kakek, menimbang ketidakmungkinan situasi saat ini untuk bersikap seideal itu. Tak berpihaknya kebijakan pemerintah atas harga pupuk misalnya. Upaya Kakek dampaknya sangat terasa.

“Saya saksinya,” tegas John.

“Apa yang dilakukan kakekmu?” tanya Myrna.

“Kakek mengumpulkan hasil panenannya setelah anak-anaknya sudah mandiri. Ia membeli sejumlah ternak, lahan perkebunan, dan sawah. Ia mengajak para petani yang mau bekerja sama untuk menggarap lahan-lahan yang telah dibeli. Meluaskan jangkauan pasar hasil panen, hingga ke beberapa desa yang lebih dekat dengan kota. Bagi hasil. Dan ternak, menjanjikan hasil, sebelum musim panen. Siapa yang tahu akhirnya akan bagaimana? Kupikir semua ini urusan waktu,” jawab John, sambil memegangi payung putih Myrna.

Baca juga: Mee, Namaku (7)

“Sebentar John, saat seusia mereka aku sering melakukan itu! Bersama kakakku! Di Desa Jemparing, memancing ikan, mencari telur bebek di pinggir sawah. Tapi tak kuambil akhirnya,” gumamku mengalihkan pembicaraan.

Dari perjalanan itu, Myrna belajar tentang induk bebek melindungi anak-anaknya. Manis tapi getir. Myrna yakin, predator bisa saja menemukan telur-telur mereka termasuk manusia. Padahal induk bebek, berusaha membuat benteng pengaman.

Myrna menyaksikan dengan gembira, terasa begitu bahagia. Anak-anak meluangkan waktu memancing di bawah hujan rintik, dan lihatlah! Sungai ini sedang keruh, belum tentu ada ikan di sana. Bagaimanapun mereka tetap bahagia lantaran bersama-sama melakukannya.

Menakjubkan bukan? Di tengah era digital yang lebih banyak melemahkan sistem syaraf motorik dan sensori pada anak-anak, mereka memancing bersama-sama. Komunikasi mereka utuh, hati dan pikiran mereka saling terkait serta terpaut satu sama lain. Myrna terdiam memandangi anak-anak girang memancing ikan di Sungai Tendean.

Sungai Tendean, bagian dari Sungai Lesti. Sungai Lesti, sempalan DAS Brantas yang masih terus aktif ke puluhan kabupaten dan ribuan desa. Pertemuan sungai Lesti kembali ke aliran besar Brantas, bak perjalanan senyawa oksigen dan hidrogen dalam tubuh Bumi. Jika terkontaminasi atau terputus maka matilah segala yang hidup. Kehidupan musnah. Bak darah bersamaan oksigen, mengalir pada setiap nadi dan akar tumbuhan, pada tubuh manusia.

John mengajak Myrna berhenti di kedai kecil berwarna hijau. John memesan kopi krimer tanpa gula. Ia memberikan beberapa bungkusan rokok kretek, dan sebatang cerutu buatan pabrik Kota Keraton.

“Jadi, bagaimana dengan ternak kakek?” tanya Myrna menyambung John yang tengah menikmati cerutu pemberian John.

“Begini, kakekku membeli sejumlah kambing dan sapi. Meminta beberapa petani membantunya merawatnya. Sistem bagi hasil sebagai upah. Jika mereka beranak, anakannya dibagi dua. Sampai sini seperti tidak ada perputaran uang. Namun ternyata, kotoran dari ternak inilah uang berputar cepat setiap harinya. Mereka dapat menjual pada pengolah pupuk kandang organik dari kotoran ternak. Bila sekilo diberi harga enam belas ribu, maka paling tidak sehari penuh mereka mengantongi uang tiga sampai empat kali lipat dari harga tersebut. Hasil dari penjualan kotoran tersebut, dibayarkan pada bank perkreditan, bila mereka terlanjur terjerat hutang,” jelas John.

Baca juga: Angin Januari

Yang John perhatikan, sebenarnya hal ini sudah dijalani kakek selama bertahun-tahun lampau. John baru menyadari belakangan, bahwa sistem manajemen yang diterapkan kakek berdampak positif. Perlu diakui, bahwa kebangkrutan akibat terlibat bank perkreditan tersebut sudah benar-benar menggerogoti desa, dan rupanya mulai menginvasi kota. Penjelasan John lugas dan dia prihatin.

“Lalu, hasil berupa anakan ternaknya dijual?” tanya Myrna, penasaran.

“Ya bila perlu. Setelah mereka cukup usia. Lebih mahal di musim tertentu. Mereka akan mendapatkan untung lebih banyak lagi,” jawab John.

John membeli kue lumpur kentang bertabur kismis. Ia angsurkan kepada Myrna sebagai teman kopi. Mereka berdua menikmati hujan yang bertambah deras. Arus sungai semakin kencang, perpaduan suara nyaring tawa anak-anak kecil menghiasi halaman kedai mungil itu. Mereka berlarian menikmati hujan sore di Desa Bakung.

“Aku mengisi waktu dengan anak-anak setiap Sabtu sore, sudah lima tahun ini kami menjelajahi lingkungan terdekat. Berlatih membangun keberanian berbahasa Inggris. Tantangan tersendiri bagiku, bersama tujuh anak berusia 6-10 tahun. Bermain menangkap udara dan belalang. Mengamati awan-awan. Mengajari mereka mengenal istilah ilmiah, bahkan mengatakannya dengan tegas mirip penyihir dalam serial fiksi ilmiah, JK Rowling, Nimbostratus! Cumolonimbus!” seru Myrna asyik.

Anak-anak yang ia bimbing tertawa, dan itu membuat Myrna takjub. Kekuatan kata-kata, saat ia lakukan dengan menunjuk awan. Mereka paham, itu adalah awan-awan yang berpotensi hujan. Myrna pun sadar, anak-anak adalah guru dan murid sekaligus, begitu juga ia. Berbagi banyak hal bersama. Tukas Myrna sambil menyandarkan tubuhnya di sofa tua sambil tersenyum.

John tersenyum sambil berdiri, “aku yakin kau melakukannya karena kau juga seperti mereka. Berjiwa bebas layaknya anak-anak.”

John membayar pesanannya dan mengajak Myrna meneruskan perjalanan. Hujan mulai reda. Mereka berjalan bersama menggunakan payung putih menuju losmen tua.

Baca juga: Tihawa Arsyady Pendekar Sastra Dari Aceh

Myrna bersiap kembali ke Pulau Ruku. Jauh menempuh dua selat di timur Pulau Jawa. “Apakah kau sudah melakukan apa yang ibuku minta untukmu?” tanya John berhenti, dan menghela napas panjang.

Myrna tersenyum dan menepuk bahu kanan John “Ibumu ajaib! Buku dan alat rajut. Perpaduan cinta dan logika. Aku mulai merajut keduanya. Belum tuntas. Keduanya ialah keselarasan jiwa. Terimakasih, John. Sampaikan pada Bu Marta,”.

30 Desember, 2024


Ib. Jezefty lahir, bertumbuh dan berkembang di Kota Malang, pada 34 tahun silam. Tidak ada yang benar-benar menarik dari seorang ibu rumah tangga yang mencoba untuk mengirimkan karyanya. Sebelumnya hanya menulis narasi, mengilustrasikan, dan merespons buah pikirnya bermedia indie berupa zine atau sekedar membuat hasta karya. Bersama kolega-kolega yang berkolektif kecil dihampir beberapa tahun. Keseharian dihabiskan dengan menemani anak-anak bermain, dan traveling menuju dunia yang luar biasa di sebuah Pusat Stimulasi Anak Kota Malang.


(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *