Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (2)

Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung. Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada bagian sebelumnya, dikisahkan bahwa John mendedikasikan diri sebagai seorang petani di sawah dan di kebun milik kakeknya.

Baca juga: Kopi, Tragedi, dan Desa Bakung (1)

Betapa kaya negeri ini kala itu, hingga saat ini. Namun, semuanya berangsur menjadi abu ketika kapitalisme global berbunyi nyaring hingga ke Desa Bakung, dan sekitarnya.

Kapitalisasi. Hukum jual beli mengeluarkan modal sekecil mungkin, dan mendapatkan laba sebesar-besarnya jadi prinsip kapitalisasi. Kapitalisasi tetap saja kapitalisasi. Para penguasa dan pengusaha adalah pemenang. Bahkan jadi pemutus segala keputusan dalam sistem tatanan sebuah negeri.

Proletar bersuara? Mana mungkin? Mana boleh? Bahkan, mengembangkan wawasan saja tidak boleh. Tak ada ruang, apalagi dipanggungkan. Demi apa? Demi mereka tidak melakukan pembangkangan.

Begitulah istilah pihak berkuasa, pembangkangan adalah ketimpangan. Ketimpangan artinya ketidakstabilan posisi status quo. Dan itu haram hukumnya. Status quo adalah posisi enak, melanggengkan jalannya kekuasaan yang mereka rebut dan gagapi. Kerakusan jadi normal di era mukbang.

Ini mirip peristiwa yang dialami oleh imigran Hongaria, pada 1956, saat pemberontakan anti komunis terjadi. Banyak sekali yang meninggalkan negara tersebut, dan memilih untuk pergi ke Amerika, serta Kanada. Bertujuan mencari suaka, dan tidak mau terlibat apapun perihal peperangan yang terjadi di negaranya sendiri.

Di Hongaria, mereka hidup jauh dari kata tenang. Keresahan melanda setiap saat. Meneguk minuman saja bak dikejar-kejar utang. Susah sekali rasanya. Padahal mereka yang membuat perang terjadi, adalah yang berutang besar pada kehidupan rakyat yang tidak terlibat dalam persoalan bagi hasil penguasa Hongaria.

Sesampai di Amerika, dan Kanada, mereka juga tidak benar-benar tenang. Ditambah lagi di dua dekade berikutnya, Presiden Carter mengatakan, kaum komunis adalah penjahat. Ucapannya menjadi mesin tato yang mengukir seluruh tubuh, bak menjadi identitas permanen bagi para imigran dari negara komunis, yang sejatinya mereka mencari suaka dan ketenangan batin.

Baca juga: Pamer Doa Orang Sombong Modal Dasar Maksud Tersembunyi dalam Lipatan Kata-kata

Sikap Carter membuat masyarakat Amerika, dan Kanada, berpikir bahwa seluruh imigran adalah komunis. Dan itu mengindikasikan hal buruk di era 1970-an.

Letak kebenarannya adalah, Amerika mencuri mimpi mereka yang ada di negara-negara yang tergabung dalam Uni Sovyet. Kemudian terjadi agresi tumpang tindih di Uni Sovyet, dan ini kian sukar dijelaskan.

Kesalahan demi kesalahan, berujung menjadi persoalan besar yang berekor perang selanjutnya. Perang hanya akan menimbulkan saling mendendam tak berkesudahan.

Sekalipun telah terjadi kesepakatan damai dalam perjanjian Versailles atau Trianon.
Toh, di balik semua itu ada keluarga-keluarga yang tak berdosa telah menjadi korban, bahkan munculnya generasi yang terbelah oleh pagar tinggi, di satu sisi ada manusia yang ingin berkuasa, dan di sisi lain ada manusia yang siap memerangi kekuasaan tirani.

Hal ini tentu bisa saja terjadi, di sini, bila kita terlambat menyadari ketimpangan-ketimpangan kecil yang siap membesar dan meledak. Bagai bom waktu.

***

Jumat, sore hari pukul 15.00, Myrna sampai di depan rumah John. Ibunya mempersilahkan masuk dan menyiapkan teh telang plus jeruk lemon serta madu hangat. John masih mempersiapkan diri. Ibunya meminta menikmati kudapan tetel, dan teh yang disuguhkan di atas meja kayu bulat berukir bunga.

Baca juga: Mana Lebih Penting: Mencari Ilmu atau Mengejar Gelar?

“Oh cantiknya ini, Bu. Dan terimakasih atas suguhannya. Boleh saya ke kamar mandi sebentar, ya? Karena, saya bau jalan,” pinta Myrna.

“Ya, silakan mari sini. Tentu tidak nyaman kalau terbiasa bersih,” sambut Ibu John tersenyum sumringah. Ibu Marta namanya. Pribadinya hangat. Mereka bertemu kali ketiga dan tetap sama. Membuat orang lain gayem.

Mereka merayakan sore dengan gembira, dan berbincang bertiga berbagi obrolan yang membuat ibu, John, dan Myrna semakin akrab. Terutama tetel dan teh telang buatan Ibu Marta. Lalu, John melihat arlojinya dan mengatakan, “Ayo sekarang daripada kemalaman,”.

Perjalanan menuju tempat di mana Myrna juga tidak pernah tahu sebelumnya. Mendengarnya saja baru kali ini. Sepanjang perjalanan ia mengamati segala hal: rumah-rumah warga desa, dan sinar matahari sore yang membuatnya tidak berhenti berdecak.

“Wah…” gumam Myrna tak berhenti kagum.

Untuk orang lain mungkin biasa saja. Baginya istimewa. Begitulah perjalanan gelombang cahaya, setiap waktu diawali dengan jingga fajar timur, dan berakhir dengan senja fajar barat.

Setiap gelombang cahaya Sang Fajar tentu memiliki cerita, dari segala penjuru dunia. Ya, tentunya dari belahan lain pula. Cerita sedih maupun ceria.

Ia menghela napas dan bertanya, “Masih jauh kah, John?” tanya Myrna.

Kepalanya mendekat di bahu kiri John. John tidak menjawab, hanya menengok dan diam. Myrna menggerutu, “Hargh, dasar manusia minimalis,”.

Sambil mengangkat tangan kirinya bergerak di samping kiri kepala John, dan bergerak melambai perlahan. Masih tak ada respon.

Baca juga: Lembah

Tiba-tiba motor John berhenti di sisi kanan, ada penjual bakso dengan gerobak coklat menanyakan maksud kedatangan mereka, setelah John memarkir motornya. John mengobrol dengan mereka yang ada di sekitaran penjual bakso. John meminta Myrna kembali menaiki motor. Kemudian melaju ke arah barat.

Mereka berdua menyongsong fajar barat, yang berwarna jingga kemerahan. Sekitar lima menit kemudian, mereka sampai di sebuah bukit yang memiliki jalan setapak rapi.

Sebagaimana yang telah Myrna sampaikan bahwa ia harus menemukan petunjuk di mana letak makam kakek-buyutnya tersebut berada. Pasti ada di antara semua ini.

Semakin menanjak ke atas, semakin tak terasa mereka sudah berada di ujung bukit. Myrna masih tak merasakan putus asa. Ia yakin, pasti ada meski memang harus menjumpai belukar lebih dahulu. Myrna menghela napasnya. Ia memandang ke arah fajar barat. Lagi-lagi ia tak berhenti mengatakan, “wah…”

Langit senja yang tampak hebat dan gagah.

John berdiri di samping kiri dan menanyakan, “Apakah kau masih mau singgah sebentar di sini? Jika iya, aku akan menunggu,”.

John mendekat di setapak ke arah Myrna, lalu mundur kembali setelah merasa bahwa Myrna sedang melakukan perjalanan khususnya dengan sang fajar barat. Myrna hanya mengangguk, dan terdiam tanpa sepatah kata. Sesekali ia menghela napas panjang, dan lebih panjang di sepanjang perjalanan batinnya kala itu.

Myrna menangkap senja fajar barat, dengan kamera ponselnya dan mengatakan, “Mungkin ini adalah jawaban, mengapa kakek buyutku betah untuk tidak kembali ke negeri utara yang katanya menjanjikan, yang ternyata di sana menyimpan banyak rahasia para eksil. Mungkin kakek buyutku lebih merdeka bersama Bukit Merdeka yang menjadi peraduan terakhirnya untuk memeluk Ibu yang Abadi, Ibu Bumi,”.

Myrna terdiam atas rayuan semesta alam, atas senja fajar barat yang perlahan menjadi warna merah jambu yang begitu manis. Ia tersenyum dan terus menghela napas. Myrna mengajak John untuk kembali pulang tanpa perjamuan ronde untuk menutupnya.

Malam itu Myrna memutuskan untuk tidur di sebuah losmen tua dengan bangunan bergaya lama, terletak tak jauh dari rumah John, Desa Bakung. Di sisi sebelah timur losmen tersebut, terdapat persawahan dan ladang jagung, serta suguhan lukisan semesta alam, Gunung Semeru, Bukit Merdeka dan Bulan Purnama terakhir bulan Agustus.

Baca juga: Dua Purnama Satu Senja

Myrna ingin segera mencatat perjalanan singkatnya, mencari sebuah kebenaran yang ia cari. Ia membuka buku jurnal pribadinya, dan memberikan tanda khusus perjalanan sore itu. Sebuah catatan kecil di buku buatannya sendiri.

“Seorang manusia telah menemukan cinta di Bukit Merdeka, dengan indahnya matahari terbenam bersamaan dengan bulan purnama terakhir berada di sisi timur. Hati yang terdalam penuh cinta dan jutaan detak yang membeku. Bahkan bukan hari ini, benar bukan saat ini, tapi suatu saat nanti,”.

“Sayangku tersayang, aku adalah anak dari perjalanan musim semi hingga ke musim giling berakhir, dan bertemu dengan musim penghujan kembali pada musim dingin di belahan negeri utara, tempat manusia tua ciptaan Tuhan berasal. Sejatinya, aku pun juga akan selalu kembali padaMu. Dimanapun aku,”.

Rampal Tjelaket, Agustus 2024


Ib. Jezefty lahir, bertumbuh dan berkembang di Kota Malang, pada 34 tahun silam. Tidak ada yang benar-benar menarik dari seorang ibu rumah tangga yang mencoba untuk mengirimkan karyanya. Sebelumnya hanya menulis narasi, mengilustrasikan, dan merespons buah pikirnya bermedia indie berupa zine atau sekedar membuat hasta karya. Bersama kolega-kolega yang berkolektif kecil dihampir beberapa tahun. Keseharian dihabiskan dengan menemani anak-anak bermain, dan traveling menuju dunia yang luar biasa di sebuah Pusat Stimulasi Anak Kota Malang.


(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *