
Beribu kata menggulung bagai air bah
Menikam mata menebar kegelisahan yang
Bertumpuk-tumpuk dalam kepala tumbuh menjadi
Rambut yang makin menua
Oh, Tuan
Kau perintah aku merayap dalam sampah
Memungutnya helai demi helai yang telah kau karang
Bagai koki yang asal
Kurebus serupa maumu
Masak tak sejernih sajak
Oh, Anakku
Esok kusuapi kau kata-kata tak bernyawa
Otakmu gembung sebuncit perut kurang gizi
Tak ada yang bisa dipanen musim ini
Selain mimpi cakrawala yang diraba-raba
Andai saja kau menggeleng kepala
Beribu kata menggulung bagai air bah
Menikam hidupmu hingga mata tak menyala
Beribu kata itu
Semu
Tak sejernih puisi
Terlalu jauh dari mata kaki
Mau kata kata?
Masih kusimpan sekarung lagi.
Baca juga: Amsal Monyet
Membangun Kehancuran
Mereka sedang membangun
Pondasi terpasang dari riak-riak dendam
Sambil mengenang tentang pesta pora yang
Dihadiri segelintir kepala berlabel
Ring satu
Mereka sedang membangun
Bara api dari jiwa mengering
Dan dentuman-dentuman menggumpal
Dari isi kepala tak menemu jalan
Menunggu garis penghabisan yang kian tampak
Di ujung pemantik
Mereka sedang membangun
Arena perkelahian anak-anak
Bangsa yang mengais mimpi
Di tengah derap kuda
Dengan komando pengendali berpeci
Mereka sedang membangun
Sambil membaca graffiti
Di dinding bak truk
“Piye bro … enak jamanku to?”
Mereka sedang membangun
Kehancuran berkali-kali
Baca juga: Amsal Monyet
Seorang Anak Muda Mendengar Suara Bapaknya
Pak, kamu bicara pada siapa
Tentang lembah gunung dan lautan
Yang dijaga oleh para kesatria
Kau cerita sampai aku hampir muntah
Dalam buku-buku sejarah yang digambar indah
Aku terpesona dan terpaksa berteriak lirih
Ketika aku ditagih uang sekolah
: Dobooooool!
Pak, suaramu merdu lagu-lagumu siraman dahaga
Mendengarnya aku seperti di surga
Tak ada neraka. Apa lagi hidup yang sia-sia
Tak perlu lagi ada harapan sebab masa depan tak perlu ada
Tak perlu lagi kitab suci yang membentang hidup dan mimpi-mimpi
Dan saat terjaga aku bergetar
: Lambemu!
Pak, kamu selalu mengulang janji
Meski telinga telah tuli tak peduli
Beribu gelembung busamu mengotori angkasa
Jadi nokta pada seragam anak sekolah
Anak-anak menyimpan marah hingga gerah
Tak kuasa untuk menulis grafiti di tembok belakang sekolah
: I love u, setan!
Pak, aku lelah.
Baca juga: Apakah Tagore Tidak Terlalu Tua Bagi Kita?
