
Pada kisah yang belum usai,
Aku membuka cerita, dan asing.
Hanya ada tumpukan usang yang belum terbuang,
Berderet,
Tanpa makna.
//
Padanya aku melihat sobekan-sobekan imajinasi,
Berdebu oleh ribuan omong kosong,
Basi,
Tercecer,
Tercabik-cabik.
//
Pada cerita yang tergantung,
Aku membukanya selembar demi selembar.
Tidak ada isi,
Hanya bercak kuning yang menyebar,
Tanpa arah, tanpa rasa.
//
Dan pada itu semua,
Aku membuka mata.
Baca juga: Eunoia
Pulang
Jarak yang terlipat pada satu antara,
Sepanjang jalan jejak terabaikan.
Semburat lembayung arah timur,
Melambai pelan,
Mengabarkan.
//
Samar terdengar,
Sayup lirih dari balik jendela kamar.
Ranting kering saling berbalas sapa.
Bersama desau angin,
Membawa kabar.
“Kapan engkau pulang?”
Lalu,
Tergulung gelap,
Dalam dinding rapuh berbalut batu.
///
Pada putaran masa,
Berkali-kali kepala berkelakar.
Sampai pada kata,
Aku pulang!
Bersama aroma hujan pertama,
Membasuh kering rongga tanya.
Baca juga: Pak Hakim
Nasib
Andai,
Jalan itu ditentukan oleh jemari,
Apakah hanya jempol, kelingking dan telunjuk saja yang berbicara?
Missal,
Jalan itu ditentukan oleh benda-benda,
Apakah hanya gunting, batu dan kertas saja yang bersuara?
Lalu,
Apa yang dilakukan oleh kepala?
Apakah hanya mendongak langit tanpa kata-kata.
Lalu senyap dimakan ketakutannya.
Atau,
Apa makna tangan yang menelungkup atau menadah?
Apakah hanya harapan angan tanpa arah.
Lalu mati dimakan doanya.
Baca juga: Kisah Menguatkan Jiwa Remaja
(Editor: Iman Suwongso)
