Kelinci dan Bidadari

Bayang-bayangnya pulang
Ketika petang kelinci menghilang
Ia berdiri di atas kepala
Apamu yang pening?
Rinduku tak pernah kering
Sambutnya, menoleh

Bayang-bayang terbenam
Di kabut senja jenggeret terbang
Mencari kelinci tak kunjung pulang
Di jauh ia memapak hujan biru
Kelinci putih masih jadi buah rindu
Duduk berpangku tangan sebelum
Ia pergi pamitan

Bayang-bayang menerangkap
sunyi di tubir gunung
Kelinci menelentang
Anaknya tujuh: mejikuhibiniu
Bininya pergi subuh
Selendangnya ketemu! Di gentong beras!
kembalilah si bini ke khayangan
kelinci putih mimpi melompat
ke bulan

Baca juga: Sebuah Ciuman

Rumah Kelinci

Di kebun kelinci hidup bareng ayam
Masak? Dulu bisa, jelasnya
Pernah suatu malam, kelinci teriak-teriak
ayam diserang biawak dan kepalanya hilang
Beruntung! Kelinci bisa nyamar, aman
Kecuali kelinci putih, nasibnya paling rawan

Tahu? Kelinci playboy itu tak valid
Faktanya kelinci jantan dan betina sulit berkawin bila mereka berkumpul sejak kecil
Mereka mau kawin ketika tak saling kenal Sial! Menyoal konsep perkawinan belakangan, kawin hanya kenal muka Padahal era orangtua mereka masih bergaya pacaran, bertengkar, baikan, kemudian balikan
Berbahagia kadang-kadang
Ada daya juang menyertai cinta yang dipertaruhkan
Semacam cinta adalah kebudayaan, bukan batu turun dari langit begitu si opa mengartikulasikan
Apa kita beranjak jadi kelinci, opa?

Semacam grudak-gruduk kayak kelinci
Seru Lilis Suryani era baheula

Maka kelinci tak diberi rumah
Mereka hidup di semak-semak
Yang kasih makan anak-anak
Masing-masing bawa wortel dua
di tangan kiri dan di tangan kanan
Semak dan ilalang itulah rumah kelinci,
sesekali rapi-rapi memastikan nyambik ogah dekat-dekat
Pabila hujan, tidakkah kelinci kedinginan?
Kelinci matanya paling hitam
Memandang heran,
Jelmaan ayam kah dia?

Baca juga: Omon dan Imin

Kemrosak

Menjelang seperempat abad ke-21,
dunia diguncang malapetaka
Setiap gang keranda diusung
di jalan-jalan mobil jenazah menyalak kabarnya datang dari kampung belakang
seorang warga tinggal jasad
padahal tadi pagi mengomeli kelinci
karena menghabiskan wortel jatah sore nanti

Seorang profesor nyaris gila meneriaki
Petugas baju jirah di tempat ia membuka kelas laboratorium yang sudah lama lengang
Tak ada satu pun mahasiswa berani datang melakukan penelitian
Kelinci bahan percobaan berbiak membludak berlompatan dari pintu
Jendela dan angin-angin laboratorium

Tawa, makin lama makin hilang gemanya
Kelinci tak tampak di semak-semak
Di sebuah rumah mencil halamannya ditanami sayur kobis menggapai tepi kali
teduh rumah dinaungi pohon trembesi Saking lamanya Sepi, kelinci pada pergi semacam casper beserta hantu-hantu senior
Kelinci, dengkingnya terus saling timpal
tak ada risau kecuali tanda hadir di kejauhan
Yang lain senyum-senyum meskipun tak menampakkan rupa, tak lupa rainya masing-masing saat kembali berjumpa
Kelinci berlompatan nasibnya tak jadi piaraan sang profesor

Turen, 2024


(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *