Erfurt

Aku berjalan menuju kota yang siangnya tak pernah terang dan malamnya tak pernah gelap. Malam cukup terang, karena bangunannya serupa kumpulan kotak-kotak kaca, setiapnya membiaskan cahaya. Cahaya lampu dan cahaya kehidupan di dalamnya.

Baca juga: Sebuah Ciuman

Kutemukan warna-warni masa lalu, berkelindan dengan ruang dan waktu terbaru. Saling berpagut mesra, menjadi keindahan yang saling melengkapi.

Kudengar lonceng katedral berbunyi. Suaranya mengalun seperti detak hatiku. Pelan, namun tetap berjalan. Tidak seperti otakku, macet tersumbat banyak angan. Bahkan, embusan angin musim dingin, tak membuatnya berjalan cepat menepis kedinginan.

Kilatan sinar dari sorot bola-bola lampu kaca, yang dijual di lapak pinggir jalan Pasar Natal, hanya menggeliat. Tak mampu menghangatkan. Beku, meskipun suhu masih kurang sejengkal dari satu.

Lihat saja, Kraemerbruecke pun berdiri menantang. Dua kakinya yang menganga di atas sungai, tak membuatnya jera menertawaiku. Aku termangu, dengan segala pergulatan yang tak ada orang tahu.

Pada air sungai, kulihat potongan kisah hidup berkelebat berkejaran. Wajahmu menyembul di antara aliran sungai, tersenyum tipis, entah manis atau sinis. Aku tak berani menafsir.

Baca juga: Mengapa Kita Harus Menulis?

Terasa sesak di dada. Sayup kudengar suaramu lirih mengalir. “Terima kasih,” katamu menutup pembicaraan. Nafasku tercekat. Pikiran dan perasaan berdesakan tak karuan. Sesaat, kuembuskan bersama langkah kakimu yang menjauh pelan.

Erfurt, Desember 2017

(Editor: A. Elwiq Pr.)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *