
Kehadiran Sri Paus Fransiskus di negeri ini, menjadi isu yang trending di mana-mana. Semua orang berjibaku ingin mengalami perjumpaan dengan beliau.
Baca juga: Pak Hakim
Sebulan sebelum kedatangannya, kampusku mengirimkan undangan misa bersama Sri Paus di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Mahasiswa pascasarjana, mendapatkan kuota undangan untuk 10-15 orang. Saat itu saya mengecek sebentar kemudian abai saja.
Sepekan kemudian undangan yang sama datang lagi, namun peruntukannya untuk lingkup pejabat dari Kementerian Agama. Kantor tempatku bekerja, diberi kuota 10 undangan untuk menghadiri misa tersebut. Kali ini aku cukup antusias terlibat. Namun rasanya sangat tidak adil jika hanya saya dan asisten yang ikut misa, sementara ibu saya yang begitu militan mengikuti dan menyukai Bapa Paus tidak mendapati kesempatan serupa. Singkatnya karena pertimbangan tersebut dan keterbatasan kuota, saya memutuskan untuk tidak mengikuti misa akbar di GBK.
Hari kedatangannya pun tiba, Selasa (3/9/2023), dari ruang kerja di lantai delapan kantor tempat saya bekerja, saya mengikuti siaran langsung kedatangan Paus Fransiskus melalui Channel YouTube Kompas. Saya sungguh takjub. Bagaimana tidak, kedatangan seorang sepuh diliput secara langsung, bahkan sejak pesawat tumpangannya mendekati dirgantara Nusantara. Peta menunjukan pergerakan pesawatnya di angkasa, hingga mendarat dan disambut meriah di landasan pacu, kemudian diarak menuju kedutaan Vatikan.
“Luar biasa pria senja penumpang gerobak ini!” gumam saya takjub.
Di hari berikutnya, Rabu (4/9/2023), saya mengajak Rain tidak masuk kantor. Toh kemarin kami hanya setengah hari saja di kantor, Rain mendadak sakit. Entahlah sakit begitu saja.
Rencananya kami hari ini akan ke klinik di areal Abdul Muis, seberang Kementerian Pertahanan. Namun, euforia kehadiran Paus Fransiskus membuat langkah kami yang semestinya ke klinik malah bergerak lurus melewati Kementerian Pertahanan menuju ke Kementerian Kominfo, di situ ada lorong yang akan membawa kami ke luar di Jalan Medan Merdeka Barat, dan seterusnya menuju Istana Merdeka.
Kami lolos tanpa diketahui teman-teman kantor. Petualangan kami dimulai, saya memasang tampang mirip disabilitas retardasi mental. Biar tidak dihalau dari area depan istana tentu saja. Berhasil! Saya bisa melihat dengan jelas saat Sri Paus Fransiskus melintas ke luar dari gerbang Monas menuju gerbang istana.
Baca juga: Eunoia
Keberadaan saya menjadi perhatian awak media. Beberapa dari mereka menghampiri dan mewawancarai saya.
Pergerakan Paus Fransiskus dari istana, menunju kembali ke kedutaan pun dapat saya lihat dengan jelas berkat kepekaan dari beberapa polisi yang mengharuskan saya berada di barisan depan, namun hal itu dimanfaatkan oleh beberapa ibu juga agar mereka dapat melihat Paus Fransiskus.
Belum puas dari momen itu, saya dan Rain kemudian mengajak ibu saya bergabung dan bergerak ke Gereja Katedral Jakarta, karena mengetahui ada jadwal Paus Fransiskus akan berada di sana sore hari.
Di area Katedral sudah banyak orang yang hadir, Rain menempatkan saya dan mama duduk di trotoar sepanjang Masjid Istiqlal. Baru beberapa saat saya dikerubungi sekitar lima media.
Saya kembali mendapati kesempatan berada di barisan polisi, dan melihat Paus Fransiskus melintas sembari melambaikan tangan dan tersenyum lebar di depan saya. Girang bukan kepalang, sekalipun saya melihatnya hanya dari balik bokong orang-orang yang berebutan melewati saya. Hingga malam menjelang, manusia semakin banyak hadir di jalanan depan Katedral. Kami memutuskan pulang saja, saya kelelahan dan ingin istirahat.
Keesokan harinya, Kamis (5/9/2023), saya masih ingin melihat Paus Fransiskus tentu saja. Kantorku memberikan kebijakan bekerja dari rumah, sambil zoom meeting, saya membereskan beberapa pekerjaan kantor cepat-cepat.
Saya, Rain dan dua saudara kami bergerak ke GBK. Ibu saya tidak bergabung. Kami berdua mencoba peruntungan, siapa tau bisa lolos masuk ke stadion dan ikut misa di sana. Rupanya di sana ada ribuan umat yang tidak mendapat kuota mengikuti misa, dan mencoba peruntungan yang sama seperti kami.
“Ah tidak mengapa, yang penting kita bisa mendengar suara Paus dari luar, toh jarak kita tidak terlalu jauh darinya,” begitu penghiburan dari saya kepada mereka bertiga. Kami menikmati upacara misa dengan senang. Sebelum misa beberapa media keroyokan mewawancarai saya begitu juga usai misa, ada satu media mewawancarai saya.
Kami melihat Paus Fransiskus melintas, pada saat perjalanan pulang di pintu GBK menuju stasiun MRT. Kali inipun saya diberikan kesempatan berada di barisan polisi untuk melihat Paus Fransiskus melintas, sembari melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Khas sekali kakek ini yaaa! Bisik saya terkekeh. “Viva il Papa,” saya mencoba berteriak meski yang terdengar hanya berupa erangan kecil. Yah… kekuatan suara saya perlahan mengecil memang.
Baca juga: Penyair dan Penyu Air
Dua saudara saya menginap di kos, setelah semalam melihat Paus Fransiskus melintas di jalanan GBK. Mereka masih ingin melihatnya kembali. Saya dan Rain menawarkan tempat menginap pada mereka, sambil menjelaskan rute yang akan dilewati Paus Fransiskus di area kantor saya. Selama di Jakarta, Paus Fransiskus tinggal di kedutaan besar Vatikan, yang lokasinya tidak jauh dari tempat kos saya.
Kami berempat menunggui perlintasan rombongan Paus Fransiskus, yang hendak menuju ke Bandara Soekarno-Hatta, untuk terbang meninggalkan Indonesia, Jumat (6/9/2023). Kami menunggu di trotoar depan Kementerian ESDM (yang menterinya kemarin sempat viral dengan minuman mahalnya he…).
Saya ditempatkan di barisan polisi seperti yang sudah-sudah. Entahlah, apakah polisi ini panitia tukang menempatkan gerobak di barisan jaganya? Lokasi, waktu, momen yang berbeda-beda ini, saya selalu ditempatkan di posisi yang sama. Begitu saja, apakah semesta mengatur keseimbangan sedemikian rupa untuk saya? Wah terberkatilah hidup ini, seru saya dalam hati.
Rombongan Paus melintasi kami dengan lambaian dan senyum khasnya. Kami bersorak dan bergembira, hingga iring-iringan menjauh. Kami saling berpamitan, dan saya kembali ke Cubicle (ruang kerja) saya.
Setiba di Cubicle, Rain bercerita bahwa sedari tadi dia berada di belakang kursi roda, dia sangat terharu dan menangis melihat antusias saya melihat Paus Fransiskus meski hanya selintas tapi saya begitu gembira.
“Siapa sih bisa memahami apa yang kamu inginkan? Keinginan terdalammu, sesederhana ini kebahagiaanmu! Toh andai saya berada di posisimu, saya tidak akan merepotkan diri hanya untuk melihat Paus Fransiskus dari jauh begini,” ujar Rain semangat membahasakan apa yang ia perhatikan dari realitas saya.
Baca juga: Soesilo Toer, Ziarah Literasi
“Saya ini pemakai kursi roda, yang saya perlukan hanya ini saja, segala keinginan dengan sendirinya menyesuaikan diri. Tidak lebih. Ini saja sudah lebih dari cukup bagi saya, saya tidak membayangkan akan bisa melihat lambaian tangan Paus Fransiskus. Hal yang tidak terbayangkan loh! Meskipun hanya mendengar deru kendaraan rombongan mereka saja, saya sangat bersyukur,” ujar saya filosofis.
Mata Rain berkaca-kaca mendengar jawaban saya.
“Terima kasih ya, berkat kamu saya bisa mengalami kehadiran Paus Fransiskus selama tiga hari berturut-turut. Semoga momen ini menjadi pengalaman iman buat kamu ya Rain,” imbuh saya.
***
Pagi ini saya terlambat bangun!
“Aduhhh padahal semalam sudah dipesankan agar pergi ke sana pagi-pagi, biar gak kena macet!” saya mengomeli Rain. Kami bergegas menyiapkan diri. Hari ini kami akan berkunjung ke rumah Jatiasih, mudik sebentar ke sana. Lebih tepatnya berpetualang, berbekal ancer-ancer rute dari teman kantor dan Bu Heni, saya dan Rain menuju halte bus TransJakarta di depan Museum Gajah/Museum Monas.
Baca juga: Penjaja Panggung
Kami diarahkan memilih tujuan Halte Dukuh Atas, jika ingin menaiki LRT menuju Bekasi. Setiba di Dukuh Atas, rupanya ada hambatan akses sehingga kami kemudian menuruni anak tangga sekian puluh, untuk kemudian menaiki Bus TransJakarta di Halte Galunggung, menuju Halte Setiabudi.
Selanjutnya, kami menikmati kereta mewah bernama LRT menuju Stasiun Cikunir 1 Bekasi, dan melanjutkannya dengan taksi daring, sesuai arahan dari Pak Dwi suami Bu Heni.
Utung Rain kuat! Seloroh saya di sela desis kereta.
Tiba di rumah, kami disambut. Ah, senang sekali, serasa orang tua yang menanti kepulangan anaknya, Pak Dwi membuka percakapannya.
“Kemarin ketemu Pope, Paus?” suara Pak Dwi hangat
Saya dan Rain mengangguk serempak dan tersenyum senang.
“Saya pernah ke Flores touring dari Labuan Bajo, hingga Larantuka. Indah sekali pemandangan di sana eh,” cerita Pak Dwi sesekali ditimpali eyang.
Bu Heni sibuk menyiapkan kopi untuk Rain, dan sekotak susu untuk saya.
Kami berbicara sebentar kemudian Pak Dwi meminta Bu Heni menyajikan spageti untuk saya dan Rain.
Saya melirik Rain mengisyaratkan apakah dia bisa makan spageti. Tapi Rain tidak mengerti isyarat saya.
Dua piring spagetti tersaji, saya makan terlebih dahulu disuapi Rain, Bu Heni menjelaskan kepada eyang yang menatap saya dengan beberapa pertanyaannya. Pak Dwi sendiri sudah beranjak, mungkin menemui pekerja di teras yang tengah merenovasi teras rumah mereka.
Baca juga: Lelaki Tua dan Nama
Spagetti saya tandas di suapan ke lima. Saya merasa kenyang, namun saya melanjutkan kembali usai melirik wajah Bu Heni, saya harus menghabiskan spageti ini. Kehadiran saya hari ini sebagiannya untuk memeluknya, jika sepiring spagetti adalah pelukan darinya, maka saya harus memeluknya kembali lebih erat!
Kami kemudian bercerita banyak hal, sementara Rain memakan spageti bagiannya. Saya meliriknya kadang-kadang, memastikan ia menghabiskannya.
Bu Heni kembali menyajikan menu utamnya Tomyam seafood. Luar biasa lezat sajian ini! Lezatnya persis seperti makanan di rumah Pamakayo. Bu Heni dan Miss Yanti berhasil memindahkan lautan Pamakayo, ke dalam semangkuk penuh Tom Yam tersebut. Terbukti Rain menghabiskan nasi dan lauk tersebut. Saking sukanya, ketika kami berpamitan Bu Heni membekalinya dengan bumbu beserta ikan dori untuk diolah di kosan kami. Saya terkekeh-kekeh melihat Rain begitu menikmatinya.
Usai acara makan Tomyam, Bu Heni memutar film dari akun Netflix mereka. Layar televisi yang lebar menyajikan deretan judul film, saya kebingungan tidak punya referensi film untuk ditonton. Saya tidak punya akun Netflix, jadi tidak ter-update mengenai film-film.
Bu Heni memperlihatkan daftar film melalui tombol remot ditangannya, ketika saya berseru.
“Saya nonton film two pope saja ya bu,”.
Saya dan Rain kemudian larut dalam film itu, meski lima menit kemudian dia pergi ke luar merokok di depan teras. Saya melanjutkan tontonan dengan khidmat, Bu Heni pamit salat. Saya merinding terharu, betapa besar kasih Tuhan ini, saya berada pada situasi spiritualitas tertinggi dalam hidup saya.
Di ruang tamu, televisi sedang menampilkan kisah Paus, di kamar seberang ruang tamu si pemilik rumah sedang melangitkan doa-doanya. Dua keyakinan yang berbeda, disatukan di dalam kebersamaan tanpa sekat apapun.
Ah betapa luas kemanusiaan di rumah ini!
Baca juga: Semar Mendem
Usai salat, Bu Heni menemani saya menonton film tadi. Saya mendapatinya sedang terkantuk-kantuk, layaknya seorang ibu yang menemani anaknya menyelesaikan tontonannya. Jauh di relung hati saya, sungguh memeluknya sepenuh hati saya.
Hari sudah sore, film saya sudah tamat, kami bersiap dan berpamitan pulang.
Saat hendak menaiki mobil yang sudah dipesankan oleh Bu Heni, saya terkejut membaca pintu bagasi mobilnya. Toyota Inova Zenix berwarna abu-abu tua. Jenis mobil serupa yang ditumpangi Pope Francis selama di negeri ini.
Di dalam mobil saya menyampaikan pada Rain perihal mobil yang kami naiki ini. Rain seakan tak percaya, bahwa mobil ini merupakan taxi online, dia mengira mobil tersebut milik Bu Heni. Sepanjang jalan kami senang bukan kepalang, merasa seakan sedang bersama Pope Francis.
Sungguh kami sangat terberkati! Mengalami rumah yang hangat, diberikan jamuan baik makanan badaniah maupun makanan rohani melalui tontonan, hingga tumpangan yang semuanya beresonansi dengan kehadiran Pope Francis.
Ketika tiba di kos, saya mengirimkan dua pesan kepada Bu Heni
“Kami yang sangat berterima kasih… kami diberikan jamuan yang sangat mewah, baik makanan maupun secara spiritual. Saya senang sekali diperkenankan bisa menonton film tadi. Kebayang terus film tadi, he…he…he… atmosfernya masih terasa sampai di sini. Kami diberi tumpangan armada mirip dipakai Pope Francis kemarin, Inova zenix persis yang dipakai Pope Francis, hanya beda warna saja, duh… terharu sekali bu,”.
Baca juga: Jurnalisme Melawan Penindasan
“Saya kemarin hanya lihat Pope Francis lewat saja, gak berkesempatan salaman langsung sama beliau, tapi suasana tadi rasanya pengalaman spiritual hari ini benar-benar mengobati harapan saya kemarin-kemarin, saya merasa dekat dengan si pope bu,”.
Seribu berkat sungguh telah ditakar-Nya.
Jakarta, 7 September 2024
(Editor: A. Elwiq Pr.)
