
Heni dan saya lahir dari Mbah yang sama. Ia dari sisi bapak dan saya dari sisi ibu. Bapaknya Pak Maskan Soekanto, kakak ibuku Koestinah. Tentu saja kami lama bersaudara, maksudku benar-benar dekat dan ngobrol. Benar-benar ngobrol kian ke mari semalam suntuk! Di Solo. Suaminya sedang cek penggarapan tower telekomunikasi, kami ngobrol sampai pagi.
Baca juga: Menulis Resensi
Sejak itu kami tak pernah surut saling bertaut. Menautkan maksud bahkan saling jitak. Kalau aku lagi kepala batu dan dia berlebihan baiknya. Berlebihan? Iya, meskipun baik kalau berlebihan jadi bagaimana? Yang lain nggak kebagian baik.
Dan oh, perjumpaan kami dirayakan dengan keik keju potongannya meyakinkan. Aku menyisakan untuk nanti, setengah, tapi rupanya ia pikir aku kurang berminat. Duh, menyesalnya aku sampai kutulis hari ini, tak menghabiskan sepotong keik keju adalah hal yang sama sekali tidak bijaksana. Saat itu komunikasi kami masih belum seugal-ugalan hari ini. Dia nggak tahu maksudku dan aku bloonnya nggak bilang.
Kami baru dekat hari ini, oh tidak. Semasa kecil, ketika tinggiku masih setinggi penggaris kayu yang suka dibawa ke mana-mana sama Ki Djuma’il, pamong Tamansiswa Turen yang suaranya tinggi, melebihi suara siswa kelas satu, ribut banget. Sambil memukul-mukul penggaris kayu ke bangku. Bisa dibayangkan, bocah paling depan yang duduk dihadapan bangku yang dipukul. Pasti kena mental. Sedang yang ribut, sudah pasti yang duduk di bangku-bangku belakang. Termasuk aku.
Aku duduk di baris kedua dari belakang, karena sejak kecil badanku bukan tipe mrengil. Sangat tidak perempuan. Teman-teman laki-laki pun nggak sungkan kalau mau dekat denganku. Donik pula aku dipanggil. Selesai reputasi menik-menikku sejak dini. Balungan gajah yang sebenarnya. Bukan kiasan.
Dan itu mungkin andil ibu yang sudah kehabisan energi, untuk membelikan rok baru. Demi praktis dan hematnya ibu memakaikan kaos dan celana pendek mas Elwin, kakak landhes. Umurnya lima tahun di atasku. Aku bukan anak rewel, jadi senang saja pakai kaos biru laut dan celana pendek biru benhur. Ya, pakai baju-baju mas lanang itu ketika tinggiku sepenggarisan kayu. Rambut dibabat habis demi nggak lama nyisir, lain dengan mbak atasnya Elwin, Eril. Dia sudah bisa mengepang sendiri rambutnya, jadi boleh dipanjangkan.
Baca juga: Di Warung Kopi
Begitulah, suatu hari paman dari Jakarta, Hari, adik bungsu Ibu memintaku berdiri bersisian dengan Heni untuk difoto, di depan VW Kodok putih kebanggaannya. Entah, sebetulnya mau motret mobil atau motret kami. Tetapi, kupikir-pikir sebetulnya Hari Santoso paman kami itu ingin memotret Heni, tapi Heni ngajak aku. Aku nggak peka, malah tersenyum lebar memamerkan lesung pipit dan gigi gigis. Berdiri di sebelah kiri Heni. Heni memang manis, tinggi semampai kulit kuning khas wong kito. Ibunya asal Palembang, tapi dia paling mewarisi hidung Turen. Mirip mbah putri. Hidung yang rendah hati.
Kukira sejak itu kami dekat. Potret anak perempuan kelaki-lakian, senyumnya lebar dan perempuan bergaun bunga-bunga merah lengan setali dipadu kaos putih mempertegas halus parasnya. Tinggiku masih sepinggang Heni. Tapi aku merasa sebaya belaka dengannya sejak itu.
Turen, 23 Agustus 2024
(Editor: Titik Qomariah)
