Amsal Burung Biru Laut Ekor Hitam

Amsal burung biru laut ekor hitam. Foto/Dok. A. Samian

Kalian tahu tentang kebahagiaan sekawanan burung Biru Laut Ekor Hitam? Inilah, kisahnya.

Baca juga: Amsal Burung Pelatuk

Sebentar lagi musim berganti dingin. Bakal menggigil lagi. Embun-embun membeku. Mewujud krital-kristal liontin di ujung-ujung daun. Sekawanan burung Biru Laut Ekor Hitam sudah bersiap-siap untuk hijrah. Ke mana?

Mereka belum tahu kemana kepak sayap akan membawanya pergi. Satu-satunya yang dianut adalah Condet –seekor Biru Laut Ekor Hitam yang memiliki condet di atas pelipis mata. Condet yang akan membawa kawanan paruh panjang ini ke suatu tempat. Pemukiman baru yang akan menghangatkan mereka.

Namun, mereka tidak mengerti perjalanan menuju tujuan baru ini penuh tantangan. Sekali lagi, hanya Condet yang mengetahui. Karena Condet sudah kerap ke situ. Dia sudah hafal tempat-tempat persinggahan.

Baca juga: Amsal Penguasa Diktator

Mereka terbang dalam formasi tombak. Condet mata tombaknya. Terbang berkilo-kilo meter. Menjelang matahari angslup, mereka harus istirahat. Tetapi, dimana? Condet sangat mengetahui tempat-tempat persinggahan di bawah sana. Semua berbahaya. Kalau mereka memaksa untuk singgah, bisa jadi tinggal nama.

Ada dua tempat yang bisa disinggahi. Satu di pinggir hutan bakau pinggir pantai. Penghuninya suka berpesta pora. Ikan-ikan tersedia melimpah. Tetapi, Condet tahu, tidak akan ada seekor makhluk baru pun yang dapat dengan mudah masuk kawasan itu. Makhluk baru akan dihadang sampai dapat mengalahkan mereka. Sejarah condet di pelipis Condet ditorehkan di hutan bakau itu. Condet tidak mau mengambil resiko. Tempat kedua altar batu yang letaknya di atas bukit, tidak jauh dari hutan bakau.

Di altar batu itu aman dari gangguan penghuni lain. Tetapi, di situ anginnya amat kencang. Bisa jadi mereka akan kedinginan sepanjang malam.

Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati

Condet tidak memiliki waktu lagi untuk menimbang. Langit mulai gelap. Condet menukik ke altar batu, diikuti kawanan Biru Laut Ekor Hitam lainnya. Sudah dapat diduga, sebelum mereka sempat mencari makanan di sekitar batu, angin kencang itu datang bertubi-tubi. Suara angin itu berdesis seperti suara siulan. Mereka saling melindungi, tidak boleh lepas satu dengan lainnya. Berjam-jam mereka diterpa badai. Terbersit dalam pikiran Condet, “Apa tidak sebaiknya meninggalkan mereka untuk pindah ke hutan bakau. Di sana Condet akan disambut pesta pora. Disediakan makanan bergizi untuk memulihkan tenaganya.”

Pikiran Condet berkecamuk, sedahsyat terpaan angin. Sambil menahan hempasan angin, matanya menatap Bintang yang berkelip di ketinggian sana. Cahaya kecil itu menelusup ke dalam kepalanya. “Apa artinya bisa terbang ke tempat tujuan, tanpa membawa mereka, saudara-saudara Biru Laut ini?”

Condet mendalami bisikan cahaya bintang kecil itu. Sampai akhirnya angin surut, dan berhenti. Mereka bisa istirahat. Tertidur sampai pagi.

Baca juga: Nyonya dan Pasang Surut Air Laut

Setelah sarapan serangga di sekitar altar batu, mereka melanjutkan terbang. Formasi tombak itu mengantar mereka sampai tempat baru; tujuan mereka.

“Kami bahagia di tempat baru ini. Tetapi kebahagiaan itu tidak sebanding dengan kebanggaan kami padamu, Condet. Kamu bisa saja meninggalkan kami saat sulit. Pilihanmu justru melindungi kami dan mengantar sampai tujuan ini. Kami tidak salah mempercayaimu.” Kata seekor di antara mereka.

Jadi, di antara kalian yang dipercaya memimpin, apa seperti Condet? Jangan memalukan kami!

(Editor: Titik Qomariah)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *