Sesaat Pergi

Seperti pasir di pantai, kita akan berulang dikembalikan ke sisian,
gelombang menggerus karang, dan menghempaskan diri kita kembali ke asal,

Engkau harus menjadi buih, kata burung camar, untuk sampai ke samudra engkau harus menjadi bagian air laut yang bisa terbawa arus hingga jauh,

Engkau harus menjadi udara, kata ubur-ubur, untuk pergi jauh membumbung menjadi titik-titik air yang turun sebagai hujan hingga di tengah laut…

Tapi kita ini pasir pantai, Sayang…
setelah digulung ombak seharian,
kita pulang…
kita pulang…
pulang ke pantai, tempat nyiur melambai dan kerang-kerang terdampar…

Somewhere, 18 Agustus 2017

Baca juga: Kisah Sang Saka Merah Putih, dari Prasejarah, Majapahit hingga Jahitan Fatmawati

Ketiadaan Paling Tiada

mulai hari itu, tempat kita tak ada lagi
awalnya seperti bangunan yang tumbuh satu persatu, kemudian ditelan bumi
dalam satu sapuan, dataran yang ditinggal meninggalkan hening

seperti telah lama rupanya seperti itu, seperti tak pernah ada tempat kita yang dulu, hingga aku dibuat percaya, bahkan kita pun tak pernah ada,

aku sedih, aku senang, dan bingung di kedua perasaan itu, walau kini tak ada, tempat itu pernah membuat kita ada, paling tidak saat-saat itu tidak membuat kita menjadi kita yang sekarang: mengais-ngais sisa bahagia yang bahkan tidak pernah terjadi…

Jatiasih. 18 Maret 2020

Baca juga: Amsal Penguasa Diktator

 

(Editor: Iman Suwongso)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *