
“Rio, ale ingat kafe pustaka samping Perpus UM?” sebuah pesanku kirimkan ke sahabatku di Kepulauan Aru, Maluku.
Lama ia tak membalasnya, mungkin jaringan internet di sana lemot.
Baca juga: Hujan yang Tak Bisa Berhenti
Aku mengedarkan pandangan ke aquarium air laut yang mulai dipadati warga, serupa tokoh-tokoh di dalam kartun The Little Mermaid.
Seekor ikan pari melayang indah, mengibaskan ekornya menyapu sebagian ikan, berhamburan mencari lubang-lubang di tebing karang yang disusun bersandar di dinding kaca.
Rio belum juga membalas pesanku. Kemudian, aku mencoba mengetik beberapa ingatan berbentuk kata perihal kenangan apa saja yang terlintas.
Semilir angin, aroma kentang goreng dan aroma buku menjadi ingatanku paling teratas.
Di masa kini aku sangat diriuhkan dengan urusan receh, aku sudah kehilangan separuh diriku karenanya.
Kenangan-kenangan membuat separuh lagi diriku yang lain bertahan, untuk tidak kehilangan seluruhnya.
Suatu ketika aku mendadak tersedu-sedu saat mengetik pesan kepadanya, menceritakan fisikku yang makin tak berdaya. Aku cemas tidak lagi memiliki tenaga untuk menarik dan menghela nafasku.
Rio masih juga belum membalas.
Baca juga: Menjaga Sumber Kehidupan
Padahal aku sudah sangat antusias, ingin bernostalgia dan meninggalkan satu lagi ingatan perihal sebuah dimensi ruang bernama Kafe Pustaka, yang kemarin mengumumkan pamit.
Ah, sedih memang!
Ruang mungil di sudut perpustakaan, entah akan berganti menjadi ruang apa kelak.
Aku membayangkan wajah Mas David yang manis dan hangat, rekan-rekannya yang ramah, Prof Djoko, Prof Tengsoe, gitaris Mas Antok Yunus, Mas Denny Mizhar dan pertemuanku dengan beberapa penulis buku diantarnya Felix Nesi, dan Bu Elwiq Pr. Pertemuan yang manis, dibarengi cerita-cerita tak kalah manis, seperti cokelat panas buatan Mas David dan rekan-rekannya.
Di antara cokelat panas, kentang goreng, donat kentang ada setumpuk buku-buku di raknya yang bisa dibaca, atau meminjam istilah biar kau terlihat akademis membaca buku setebal itu.
Suguh, kau diberi ruang memperkaya pengetahuan dan membangun jaringan melalui kehadiran tamu-tamu dari segala latar belakang yang diundang pada sesi diskusi, bedah buku, sajian musik, dan lain sebagainya.
Kafe Pustaka sebuah “dimensi ruang yang mempertemukan” orang-orang sederhana sepertiku, seperti kami, seperti kita dengan apa dan siapa saja kemudian mencipta lingkaran pengetahuan yang utuh.
Baca juga: Kisah Pasukan Estri Mangkunegaran, Prajurit Wanita Penebar Maut yang Bikin Belanda Kalang Kabut
Ting!!!! Bunyi pesan masuk
“Iyo beta inga ??”
Rio membalas pesanku, kami berjibaku saling bercerita dalam hening perihal kenangan yang tak boleh lekang pada dimensi ruang maupun waktu.
“Sayonara KaPus.. terima kasih sudah pernah lahir, semoga kelak terlahir kembali dalam dimensi ruang yang sama”
#Ngarambes
Jakarta, 04 Agustus 2024
(Editor: Titik Qomariah)
