Rumah Tua

Aku hanya tengadah membentang sebagai halaman
Menguning yang dicoret-coret tinta pekat
Tentang sejarah dan tujuan yang masih sembunyi
Pada deretan epigraf dalam rak-rak ingatan

Jejakmu masih aku simpan dalam kolong, atap, dan dinding berdebu
Bila ada yang mengenang masa lalu akan melongok
Bila ada yang menyentuh tapak-tapak akan merona
Bila ada yang menyetubuhinya akan lahir masa depan yang tak meninggalkan
Asal tumpah darah dan mimpi-mimpi peniup sangkala

Lubukku tempatmu istirah dalam kehangatan
Setelah melanglang dari frase ke frase
Menabung keringat dan daki yang mengerak jadi akal sehat
Tak ada yang berhenti di haribaan seperti jarum detik mendetak derak
Bahkan dalam pelukku mimpimu masih menyulam kata-kata

Aku rindu kapan kau tak pulang
Sebab disana akan kau temu garisku yang utama
Bukan cerita tentang tepung, peluru, dan lalu lalang butiran
Kopi yang diremah dari pegunungan sebelah
Juga bukan tentang perdikan dan upeti-upeti
Aku rindu jiwamu di Sini yang kau pantulkan dari Sana

Aku rumah tua
Halaman tua
Padat gambar-gambar
Warna sepia

Baca juga: Kisah Pasukan Estri Mangkunegaran, Prajurit Wanita Penebar Maut yang Bikin Belanda Kalang Kabut

Hujan dan Angin

Hujan dan angin berkejaran di relung-relung
Hati kota yang selalu menganga
Kota yang urakan dan jorok terlukis di dinding malam
Kalau dia berambut, pastilah gondong adanya

Hujan dan angin bersilang loncat dan hembusnya
Hembusannya melirih di tengah malam, sementara hujan merintik menjelang fajar
Usapan dan dingin yang ditawarkan menyibak sunyi
Upaya rekah sang Kala

Bila menyatu dalam hidupku seperti hari tiada senja
Hujan dan angin, datangmu tepat di dahaga
Kalau kau ingin setia, menarilah dalam genderang rebana
Yang iramanya tak pernah rata
Menumbuk dan menuntun yang selalu menyiksa
Sebab siksa adalah impian pengharapan

Hujan dan angin satumu berujung poranda
Tapi jangan mengira itu celaka, sebab
Cintamu tak pernah dusta

Hujan dan angin saatnya menyimpan daya
Diam dan berdoa
Demi esok
Yang tak sia-sia

Baca juga: Menjaga Sumber Kehidupan


Jalan Daun

Daun yang mengering menunggu dahan-dahan
Selesaikan tugasnya bercengkerama tentang cinta
Dan angin selalu mematangkan tiupan sangkakala
: braaaaanngggg
Berderai satu demi satu

Menari-narilah di latar angkasa
Kematian-kematian yang beruntun setiap senyap
Lagumu sayatan bisu yang pasti berlalu susul menyusul
Menjadi ombak pada musim yang jemu
Menggelepar pada hamparan pusara yang telah tengadah
Berjuta-juta tahun sejak sabda darma

Gusti,
Selesai tugasku yang terselip pada riak-riak kecilmu
Masih menggenggam sisa-sisa cinta harus kusemai
Pada anak-anak yang dinanti bunyi sangkakala

Jalan daun yang memutar
Sederhana, iramanya tak terkira-kira
Tapi pasti ujungnya
Demikian aku

0 komentar untuk “Rumah Tua”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *