
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee menemukan dunia baru. Kelanjutanya, adalah akhir dari prosa liris berjudul Mee, Namaku ini; kebimbangan: harapan dan dunia baru, ditayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (35)
Bagian 5
Putus
36
Sudah mulai aku kenal liuk jalan di Pasar Turi
Medan baru yang aku kenali semakin nyata
Meskipun ada rasa aneh setiap bangun pagi
Tapi mulai sirna rasa takut yang menghantui setiap membuka mata
Baca juga: Gunung yang Tamak
Tak boleh ada lagi perjalanan yang aku anggap sukar
Di sini atau dekat Kanjengan, hari ini atau masa lalu, langit tetap biru
Seperti burung yang terbang selepas dari sangkar
Nafas terasa lega melihat dunia sama sekali baru
Semua harus kutanggung dan kuhadapi setelah diusir
Tak perlu ragu karena makan hanya sepiring
Mendapati diri seperti kaktus di tengah gurun pasir
Masih menyisakan lelehan embun pagi belum mengering
Sudah keputusan bulat kami telah lekang
Waktu berputar semua akan berlalu
Sudah tak perlu lagi aku memandang ke belakang
Cakrawala telah memutus batas jejak masa lalu
Lebih mulia saat kayu menjadi terompah
Sepasang alas menopang kaki dan adab
Orang-orang yang setiap hari menganggapku seonggok sampah
Kini tak lagi menemukanku tergolek di kamar lembab
Menahan guncang dengan menegakkan bahu
Kalaulah tumpah merembes air mata terasa asin
Mama, Papa, Pak De, Bu De, kakak tak akan pernah tahu
Jejakku tak terlacak di atas debu-debu tersapu angin
Baca juga: Amsal Penguasa Diktator
Sampai di taman memetik mawar berduri
Sebelum badai menyapu sampai porak poranda
Dia yang mengoyak hatiku, menyebabkan aku terusir pergi
Tak aku kirim merpati untuk memberi kabar kepadanya
Siapa tahan dalam bentang sunyi sendiri
Dipendam pun siksanya akan semakin menjadi
Mengenangnya selalu menguntit senyumnya yang menghunus belati
Tajamnya belum menyembuhkan goresan dalam hati
Aku tahu awal akan selalu berakhir
Jalan terbentang pilihanya berfariasi
Jarak yang tak terendus ini telah menjadi tabir
Apakah akan menghapus senyum mengikat sampai disini?
Kalaulah pernah belajar tentang tali-temali
Perlu didalami bagaimana mengikat simpul mati
Tetapi banyak hal yang tak dapat aku mengerti
Juga jodoh aku dengannya di kemudian hari
Kamu akan tahu perlunya tiang pegangan
Saat terombang-ambing cengkeramanmu akan menguatkan diri
Jika kami nanti bertemu kembali mengikat erat genggam tangan
Semuanya aku serahkan pada angin yang telah membawaku pergi
Baca juga: Sastra Vs Penguasa
Dingin menggigit tak terjadi di waktu siang
Kalau tidak, apa manfaat digulirkan matahari
Aku akui, bila sendiri pada malam hening di sudut ruang
Kerinduan menghantam, aku tak terlalu berharap dapat berpeluk kembali
Diam tak bergerak istilahnya membatu
Air deras mengalir akan menggerus
Semakin pupus harapan jika menghitung waktu
Saat ini dia akan mulai bergaul dengan gadis-gadis di sudut kampus
Dentuman keras menyebabkan telinga mendenging
Jika mimisan sumbatlah lubang hidung dengan daun suruh
Bayangkanlah aku kini di tempat yang asing
Perempuan, sendiri, tanpa sanak-kadang, di toko hanya menjadi buruh
Nasihat hidup sepanjang waktu terus berjuang
Ujungnya seperti menjadi sasaran anak panah
Seandainya kamu tahu bergerobak-gerobak sampah dibuang
Aku tak lebih dari isi gerobak, bersiap menghadapi cacing tanah
Bisa jadi cerita ini maknanya hanya seujung kuku
Tak apalah, karena maksudnya bukan untuk menggurui
Tetapi aku menguatkan diri sepanjang detak waktu
Menatap ke depan, kepada sumber cahaya yang menghangatkan pagi
Bukan burung jika tak dapat mengepak
Kembali ke sarang jika waktu datang magrib
Pada jalan cahaya setapak demi setapak
Jalan yang mengantarku pada ujung nasib
(Tamat)
