Mee, Namaku (35)

Mee, Namaku (35). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee menjelajah dunia baru. Kelanjutanya, Mee mulai menemukan dirinya pada dunia baru, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (34)

Bagian 5

Putus

35

Gelap malam telah berakhir pada saat dini
Kumandangnya dikirim angin sayup-sayup
Matahari terbit pertama aku lihat di sini
Terasa asing dan segar mengirim udara yang aku hirup

Baca juga: Literasi di Taman Anggrek

Seandainya bersayap aku memilih menjadi burung
Terbang melintas batas seluas arah
Jalan yang lapang dan lempeng dari ujung ke ujung
Panjangnya tak lebih dari lima ratus langkah

Sejarah tua meningalkan bangunan elok berparas
Selalu ada taman berbentuk bundaran
Berderet gedung tua pada halaman yang luas
Berujung pada Kali Mas dan taman Tugu Pahlawan

Tinggalkan masa lalu biar hanya menjadi kenangan
Bunga yang busuk jangan ditanam di taman
Kalaulah dulu aku dikungkung dekat kantor Kanjengan
Kini di dekat kantor Gubernuran tak ada yang menghiraukan

Anggaplah yang sengsara sebagai cara bertapa
Keluar goa sudah tinggal menerima berkah
Pagi hari di Malang aku sudah bertemu hantu bernama Papa
Di sini aku harus putuskan sendiri langkah demi langkah

Kalau dulu rasanya semua ruangan berpagar
Tekanannya yang tak pernah henti membentuk trauma
Di tempat baru hidup baru dengan nafas yang longgar
Apakah demikian Indonesia pada tahun sembilan belas empat lima

Baca juga: Akhir Cerita Kota

Kemerdekaan selalu dirayakan dengan gempita perayaan
Bendera dipasang dengan tiang tegak berdiri
Setiap gedung sunyi dan jalanan melengang memberi pertanyaan
Apakah hari esok dapat dimulai dari sini?

Sapu diujung galah untuk membersihkan jelaga
Semua di bumi ini hanya bersifat fana
Jatuhku memang tetap di toko menjadi penjaga
Tetapi aku bisa meracik bumbu masak dan merajut kain-kain menjadi guna

Mungkin orang telah menandaiku perempuan binal
Ini terjadi bukan karena aku seorang pemberani
Leluasa aku bertemu orang-orang yang tak pernah aku kenal
Dari wajah dan gayanya aku petik rupa bunga warna-warni

Ibarat jalan aku dihadang batu berbongkah-bongkah
Celakanya aku tak pernah ada yang membela
Aku tidak hanya mengenal jalan yang hanya aku tempuh beberapa langkah
Setiap sudut dan liuknya mengantarkanku menembus cakrawala

Aku telah memilih jalan setelah tiba di perempatan
Meskipun aku tidak tahu arah tetapi tetap aku coba
Aku kenali setiap jalan menuju Pasar Turi dan Kampung Pecinan
Di Pasar Atom aku kenali wajah-wajah serupa Tionghoa

Baca juga: Menulis dan Kesehatan Mental

Di pasar tidak hanya tersedia bumbu, apa lagi hanya terasi
Kalau perut tak cocok bisa berakibat mual-mual
Dari Pasar Turi aku bisa memetik inspirasi
Sumua barang bisa dibuat, semua barang dapat dijual

Aku tak sadar yang menancap dalam sanubari adalah pasar
Menjual dan membeli sudah menjadi kebutuhan
Di sini rasanya dunia lebih luas dan lebih longgar
Pengetahuan dan pengalaman seperti bunga sedang bermekaran

Bunga mawar dipetik dan dirangkai dalam vas
Tatanannya tak perlu diikat dengan benang
Hidupku baru mulai pada usia tujuh belas
Masa kanak-kanak tak lagi perlu aku kenang


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *