Mee, Namaku (33)

Mee, Namaku (33). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan Mee putus asa berusaha mengakhiri hidup. Kelanjutanya tentang Mee diputus hubungan keluarga, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (32)

Bagian 5

Putus

33

Hidup tak damai sudah dimulai sejak pagi
Harus dilalui sekalipun tak ada rela
Aku bisa tahan tidak makan berhari-hari
Kali ini tak tahan, gigi sedang memalu kepala

Baca juga: Tunggulah Sampai Tanda Waktu Tak Mengabarimu

Tidak perlu ditimbang-timbang karena terlanjur keblinger
Kalau gusi bengkak bahasa Jawanya abo
Tak ada pilihan selain aku harus pergi ke dokter
Ada dokter gigi yang sangat terkenal, namanya dokter Kian Bo

Berkerumun sangat banyak disebutnya sak-ndayak
Di pinggir jalan warung kopi disingkat warkop
Aku tahu dokter Kian Bo pasiennya banyak
Praktiknya di depan rumah Papa, sebelah gedung bioskop

Adzan sore menandakan waktu sudah ashar
Ketika menjelang, bedug lebih dulu ditabuh
Antrian pasien sampai panjang mengular
Mereka datang pagi-pagi sebelum subuh

Becak-becak berjajar menunggu penumpang
Di pojok perempatan sejak pagi masih temaram
Aku datang saat cahaya pagi masih meremang
Ditusuk udara dingin rasanya kepalaku makin dihantam-hantam

Rasanya masgul dianggap sebagai benalu
Sekalipun inangnya semanis pohon ceri
Di rumah Papa ribut mencari aku
Dikirinya aku meninggalkan rumah sejak malam hari

Baca juga: Akhir Cerita Kota

Aku ingin hidupku disumpah dalam perjanjian
Tak pernah aku dapat sampai usia ranum
Papa datang menghampiriku di tengah antrian
Tanpa seuntai kata memukulku di depan umum

Orang-orang berdiri dari duduk di kursi
Memandang serentak kea rah kami
Kakak dan Mama melerai dan bersaksi
Aku keluar rumah pagi untuk berobat gigi

Dapatkah mengubah kalau sudah menjadi watak
Seperti peribahasa menegakkan benang terlanjur basah
Papa semakin kalap, tak butuh pendapat Mama dan Kakak
Di depan umum pula, Kaka dan Mama mendapat tamparan di wajah

Apakah mungkin kemarahan ini berujung dalam terali
Tak diragukan jika tak dapat memegang kendali
Sakitku makin menggila, sakit gigi bercampur sakit hati
Memupuk berani, membantah kalau aku pergi untuk berobat gigi

Sudah pasti terjadi air laut digulung angin pasang
Mengerikan rasanya saat langit kelam berawan
Papa melihatku sebagai anak gadis yang mulai membangkang
Ia kaitkan dengan langkahku yang berhubungan dekan keluarga Gurawan

Baca juga: Inovasi Tak Harus dari yang Besar

Sabar sirna api membakar darah
Letupanya menggetarkan seluruh jiwa
Papa menghardikku dengan muka memerah
Ujung kemarahannya mengusirku, menganggap aku bukan anaknya

Memanggang roti di dalam Loyang
Lebih bagus bentuknya jika dicetak
Kini sakit gigi, sakit hati, bertambah dengan gemetar dan perasaan melayang
Aku tahu, Papa bicara tidak menggertak

Biduk tak berkompas terombang-ambing di tengah samodra
Mengingatkan kebodohan moyangku di masa silam
Seharian aku tidak berani pulang, juga tak tahu hendak pergi ke mana
Hanya berjalan saja dari ujung jalan ke ujung jalan lain hingga menembus malam

Seluruh perjalanan telah membuahkan pelajaran
Jiwa yang rapuh membelenggu raga
Esoknya aku bertemu Bu De membawa selembar koran
Papa telah memasang iklan: memutus aku dari hubungan keluarga


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *