
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan pertemuan dengan keluarga kekasihnya. Kelanjutanya, Mee makin merasakan menjadi budak, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (30)
Bagian 5
Putus
31
Apakah kamu, wahai remaja, pernah mengalami beban sampai kelu lidah?
Padahal air mengalir meliuk tidaklah kaku
Kata orang usia remaja merupakan masa yang indah
Aku kira masa itu tidaklah berlaku untukku
Baca juga: Melawan Kekuasaan Despot
Saat matahari telah menanjak, menyingsing
Melukis jejak di tanah serupa bayangan
Bagai burung, sudah bisa terbang dari pohon ke ranting-ranting
Dan aku, adalah burung malang yang sayapnya telah dipatahkan
Sayap mengepak yang telah rontok bulu-bulunya
Tak dapatlah terbang di angkasa berarak-arak
Remaja-remaja sudah bisa memilih untuk dirinya
Aku hanya bisa hidup di dalam kerangkeng dengan beban berat di pundak
Membawa beban mencari dasar untuk kaki berpijak
Yang rapuh tak akan mampu mengantar sampai ujung dunia
Kalau di belahan lain aku mendengar ada tuan memelihara budak
Disini, akulah budak yang yang dikekang oleh kekolotan tradisi Papa
Beban berat yang dipikul tak mudah dibawa berlari
Jangankan melampaui hari apalgi menerjang senja
Budak tak pernah punya kemerdekaan untuk dirinya sendiri
Akulah budak yang tidak diberikan pilihan selain seluruh waktu diisi bekerja
Seperti para pembawa air mengusungnya dari mata air tanpa membawa wadah
Berceceran sepanjang jejak tak dapat dipunguti kembali tanpa sisa
Burung-burung berkicau nyaring berkejaran dalam rasukan bentang alam yang indah
Di depanku hanya ada lanskap gelap yang tidak jelas ujungnya
Baca juga: Jurnalisme Melawan Penindasan
Kegelapan yang pekat menghapus seluruh rasa ingin
Seluruh diri tak tercermin menandakan telah punah
Kalau buah segar yang ranum bergelantungan ditiup angin
Aku hanyalah buah busuk yang teronggok dalam keranjang dekat sampah
Jangan harap mengupas buah dengan belati
Hilang lenyap tajamnya sudah tak bisa di asah lagi
Remaja perawan sudah bermimpi ranjang wangi bertabur melati
Aku tidur di ruang sempit, gelap, lembab, bekas kamar mandi
Sudah tak ada lagi matahari pagi untuk diri ini berjemur
Tak ada lagi kehangatan sekalipun seujung kuku
Tembok-tembok di dalam kamar penuh bercak jamur
Kerak yang juga menempel dalam hati dan jiwaku
Hidup remaja adalah surga pada ranjang yang menyiapkan mimpi menjelang tidur
Ranjangku sempit, kakiku menjuntai, lebih pendek dari panjang tubuhku
Leluhur dari masa lalu membisikiku untuk bersabar
Kesabaran yang telah mengikis untuk mengeluh
Bukan kami tak memiliki ruang-ruang yang lebar
Adik-adik kamarnya berdinding merah jambu, lebar, cukup untuk dibelai pengasuh
Baca juga: Warti Sang Wartawan
Kalaulah beban berat dalam dada cukup dihembuskan dengan mendesah
Desah yang tak menembus ruang dan tertangkap menjadi ratapan
Aku selalu meratap pada dinding-dinding lembab yang menyebarkan bau lumut basah
Ratapan yang berulang dari malam ke malam tanpa ada jawaban cahaya yang menerangkan
Aku bertanya kepadanya di ujung malam yang telah patah
Apakah untukku masih tersedia hari-hari indah di masa depan?
(Bersambung)
