Mee, Namaku (29)

Mee, Namaku (29)

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan usaha Mee menemukan cinta. Kelanjutanya, cinta itu membawa petaka karena perbedaan, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (28)

Bagian 4

Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu

29

Matahari melintas ke barat semakin menepi
Menggelincir pada langit biru dan menyusup pada awan
Pada akhirnya aku tidak bisa menutupi
Aku perkanalkan namanya Gurawan dari marga Guan
Lelaki yang telah menyiksaku sepanjang hari
Kekasih yang menombakku dengan senyuman

Baca juga: Mee, Namaku (27)

Kali ini datang suram pada hari Minggu
Tiba-tiba gelap membuat hati menjadi gusar
Inilah saatnya hari yang tidak pernah aku tunggu
Bakal aku terima hukuman besar

Tak ada arti menggenggam kilau permata
Pada saat hati dilanda duka
Ketika aku sedang berada pada puncak cinta
Papa mengetahuinya dengan wajah yang murka

Seperti ikan terjaring di tengah telaga
Tak selamat di dalam air yang deras mengalir
Aku menggigil di sudut ruang dikepung keluarga
Seperti seekor tikus yang tertangkap sehabis tercebur air

Hari sudah melintasi pukul empat
Burung-burung sudah bertengger di pohon sampai esuk
Papa marah seperti sedang kerasukan roh jahat
Memaki-maki aku dengan seluruh kata yang busuk

Udara tak bergerak diam membeku
Cicak pun di sudut tembok tak bergerak, memaku
Tidak ada seorang pun diantara mereka membelaku
Bahkan matanya melotot ikut menghakimiku

Baca juga: Masih Kusimpan Sekarung Kata-kata

Aku tak sanggup menghadapi mereka beradu mata
Yang aku pikirkan hanya nasibku bakal tergulung
Papa memang sedang kalap, tak cukup dengan kata-kata
Tangkai sulak menjadi senjata, meningalkan bilur di lengan dan di punggung

Kulit rasanya melepuh seperti terjangkit sariawan
Sudah tak perlu lagi dicari yang menjadi sebab
Papa menebarkan bau busuk keluar Gurawan
Keluarga baba yang tak lagi punya adab

Papa lantang meluncurkan kata-kata dari mulutnya yang licin
“Mereka turunan yang sudah tak jelas jejaknya
Beristri perempuan yang malas tak punya disiplin
Apa yang bisa kamu harapkan darinya?”

“Papanya bukan hanya tidak mampu tetapi juga tidak layak
Pada darahnya mengalir watak tanpa budi
Pemalas yang ingin punya uang banyak
Ia cari rejekinya dengan cara berjudi”

“Apa yang kamu harapkan dari keluarga yang tak punya arah
Apa hanya cukup dengan rasa suka bertabur janji
Tak tahu arti kerja keras yang mengalir dalam darah
Menghina semangat leluhur yang harus dibawa sampai mati”

Baca juga: Soesilo Toer, Ziarah Literasi

“Mereka tak lebih dari seonggok arang
Yang tak mampu memberikan bara
Apa lagi terlibat sebagai pemain wayang orang
Yang sedang dikejar oleh negara”

Aku tak pernah menonton hanya bisa membayang
Katanya kalau menonton membawa karcis
Mamanya bekas pemain wayang orang
Yang ditutup karena dianggap pendukung komunis

Sepanjang pagar ditumbuhi beluntas
Tak ada mawar yang batangnya berduri
Aku sudah tak bisa lagi mendongak ke atas
Kaki terasa lumpuh tak mampu dibawa berdiri
Lengkap sudah segala beban melindas
Hari ini aku hanya punya satu pilihan: lari

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *