
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan Mee adalah gadis yang tak kenal laki-laki. Kelanjutanya, Mee terombang-ambing untuk menemukan cinta, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (27)
Bagian 4
Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu
28
Kami memang berbeda, aku totok dia baba
Katanya cinta tak mengenal perbedaan
Katanya cinta melintasi batas-batas yang ada
Tapi kenyataan selalu lebih kuat untuk memisahkan
Baca juga: Menulis Resensi
Aku terjepit dalam dua keadaan
Keduanya menekanku teramat berat
Cinta melambungkanku dalam angan-angan
Tradisi kolot Papa mengurungku dalam sekat
Rasanya cintaku mengajak melakukan pemberontakan
Sudah mulai berani keluar dari hidup yang sekarat
Apakah cinta itu memang aneh?
Hati ini kian hari kian meleleh
Aku dan dia belum pernah bicara
Aku dan dia belum pernah menyapa
Beginikah cinta, tumbuh tak terucapkan?
Pertemuanku dengannya, tak mampu saling menyapa
Seribu keinginan tersimpan, tak mampu mengucapkan
Cinta ini rapi tersembunyi, sekali pun tak pernah meninggalkan rasa
Hanya dari seulas senyum aku terpikat
Pada hal dari pertemuan yang amat singkat
Hasrat kuat untuk mendekatinya, tapi kaki tak sanggup dibawa melangkah
Begitu nyeri bila merasakan, di ujung malam membuatku menyerah dan pasrah
Suatu kali aku dan dia berpapasan
Dia ingin berucap untuk memberikan pesan
Tapi aku takut mendengar, apa yang ingin dia katakan
Aku lari menjauh tenggelam dalam persembunyian
Baca juga: Perginya Sang Pendamai
Setelah itu aku selalu, gelisah dan tak tenang
Tidur tak mampu, karena pikiran membawaku terbang
Bagaimana aku harus menghadapi dia seorang
Rasanya harus aku katakan dan tidak ditimang-timang
Esoknya aku sengaja menjaga toko di bagian depan
Tapi ketika melihatku, ia menghindar sebelum berpapasan
Aku hampir melompat berharap dia tidak pergi
Mata-mata orang toko yang memandangku membuat aku berhenti
Seperti mendung yang kehilangan hujan
Panasnya menyergap menembus raga
Sepanjang hari pikirankau semakin kacau penasaran
Apakah sesungguhnya dia dan aku tidak sedang saling cinta
Aku sudah hampir di ambang tidak percaya
Juga pada diriku sendiri yang tak bisa menggenggam makna
Hidup tanpa makna terbuang sia-sia
Harapan pun semakin menjauh dari yang nyata
Suatu saat ia menitip surat kepada temannya
Aku tak berani membacanya, karena takut kenyataan akan isinya
Tapi juga terselip keraguan, apakah harus membacanya atau tidak
Dan aku hanya bisa menatap surat itu dengan jantung berdetak
Baca juga: Hujan
Berhari-hari surat aku simpan dalam persembunyian
Aku ingin tahu isinya, tapi takut akan kebenarannya
Kegelisahan aku simpan tanpan pernah aku ungkapkan
Luka masa kecil itu tak tersembuhkan tanpa ada obatnya
Lain waktu ia mengirim selembar foto dirinya
Aku sembunyikan, takut ketahuan Papa
Sekilas aku memandang senyumnya yang mempesona
Itulah senyum bagai anak panah yang menembus dada
Senyum wajah dalam foto selalu melekat dalam pelupuk
Aku harap ini wajah cinta yang tak mudah lapuk
Itulah kisah dari gadis yang kehabisan cinta
Yang tersembunyi dan yang samar begitu menggoda
Cinta kering yang tidak seindah taman bunga
Laksana setetes embun yang melenyapkan dahaga
(Bersambung)
