Mee, Namaku (26)

Mee, Namaku (26). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan Mee berusaha mengembangkan diri. Kelanjutanya, ketika Mee terpkat pada senyuman, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (25)

Bagian 4

Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu

26

Waktu berputar membuat batas
Pada saatnya pintu akan ditutup
Sudah tak ada orang berkerumun di teras
Semua duduk di kursi menatap layar bioskop

Baca juga: Aku Menunggumu Disini

Gedung bioskop kursinya disusun berundak
Nomor serinya berbeda setiap larik
Memutar film India penonton membludak
Ceritanya tentang kisah cinta pemerannya berwajah cantik

Jam tayang bioskop paling akhir
Menyisakan jalanan lengang dan sepi
Itu tandanya buka toko harus segera berakhir
Memberi kesempatan istirahat di malam hari

Ada sepi pasti ada ramai, sudah hukumnya
Seperti halnya ada siang ada malam
Tempat strategis memang cocok untuk usaha
Kalau toko dibuka pekerjanya tak bisa diam

Siapa orang di kota ini tak kenal Kayutangan?
Di pojokannya dibuka tenda warkop
Pagi, siang, sore tempatnya orang jalan-jalan
Kalau malam orang datang untuk menonton bioskop

Di tempat keramaian selalu ada wajah-wajah baru
Juga ada yang setiap hari ke situ
Yang baru biasanya sekedar berlalu
Yang setiap hari sampai kenal wajah dan tingkah laku

Baca juga: Teman

Bukan hanya menjaga toko tugasku
Toko tutup, masih disuruh membeli makan untuk saudaraku
Kalau mereka dapat merasakan lezat satenya
Aku cukup mendapat asap dan baunya

Pesan sate dibakar tidak terlalu garing
Asapnya terbang berbau harum
Bertemu seorang laki-laki yang wajahnya tidak asing
Ketika pandangan bertemu dia melempar senyum

Terbayang senyum wajah lelaki
Dimana dia pernah ku jumpa
Akhirnya aku ingat dimana dia kujumpai
Setiap hari lewat di depan toko sambil menebar mata

Aku berusaha melupakan laki-laki itu dari rupa
Tetapi senyumnya tak pernah sirna dari pelupuk mata
Wajah laki-laki bukan rupa Jawa
Sipit dan putihnya sama denganku dari Tionghoa

Semakin berusaha aku melupakan
Semakin jelas sosoknya di depan mata
Saat aku diam di keheningan merenungkan
Apakah ini tandanya aku sedang jatuh cinta

Baca juga: Pertemanan Marx – Engels dan Terciptanya Das Kapital

Baiklah, aku cari dia dari golongan apa
Aku harap sekali golongan totok melekat padanya
Aku berkeringat dingin setelah tahu dia keturunan baba
Terbayang marah murkanya wajah Papa

Kau tahu, diriku terbuang karena lahir perempuan
Apa lagi yang memungutku kemudian dari baba
Pasti Papa tak akan pernah memberi ampunan
Akan mengusirku sampai aku tak terlihat mata

Tetapi senyum itu seperti anak panah telah menembus dada
Sakitnya melebihi tamparan tangan Papa
Diam-diam aku mencuri waktu untuk berjumpa
Sambil menahan kecamuk yang mendera

Aku mengerti, suatu saat akan terjadi
Pilihan dua jalan berbeda tidak bisa terhindar
Tak bisa disatukan dalam satu pundi
Resikonya aku masih dalam bagian keluarga atau keluar

Kamu pasti pernah merasakan cinta datang tiba-tiba
Meskipun racunnya hanya seulas senyum
Rasanya setiap nafas berubah menjadi siksa
Bagi gadis yang perjalanan hidupnya masih ranum

Baca juga: Amsal Penguasa Diktator

Masih kutimang hormat dan adat
Senyumnya aku terima dengan sembunyi
Aku masih bisa menyimpan dengan rapat
Waktu saja yang menuntunku apa yang bakal terjadi.


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *