Mee, Namaku (25)

Mee, Namaku (25). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, menceritakan Papa Mee mengembangkan toko di Kayutangan. Kelanjutanya, kegelisahan Mee untuk mengembangkan diri, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (24)

Bagian 4

Kau Penjarakan Aku dalam Senyummu

25

Kalau malam semakin redup
Di dalam kamar tak bisa tidur aku merenung
Apakah harus kuterima menjadi jalan hidup
Di dalam toko tubuh dan pikiran terkurung

Baca juga: Kebijaksanaan Seorang Maestro Sastra

Mata tak bisa terpejam sampai adzan subuh kumandang
Memikirkan nasib belum jelas ujungnya
Ibarat kata sapi di dalam kandang
Dimanfaatkan tenaganya dan diperah susunya

Aku bayangkan kehidupan indah di seberang
Sambil meladeni permintaan para pelanggan
Mata hanya merekam rak-rak dan barang-barang
Tak pernah tahu warna-warna bunga di alun-alun dan taman

Aku hanya tahu dunia luar dari pembicaraan pembeli
Hidup manis dan pahit, entah dimana
Apakah aku, perampuan, hanya bisa bergerak di ruang sesempit ini?
Tak pernah tahu batas terjauh dari cakrawala

Seandainya hari ini aku pergi pasti kesasar
Aku belum tahu dunia luar dengan nyata
Dunia luar hinggap di telinga dari mencuri dengar
Rasanya begitu indah kehidupan di seberang sana

Aku harus tahu sendiri sebelum dijemput ajal
Tidak dari waktu ke waktu mengenal itu-itu saja
Habis waktu untuk memproduksi, menjaga, dan menjual
Aku cari kesempatan tanpa sepengetahuan Papa-Mama

Baca juga: Pisau Berkarat Penuh Debu Mengiris Leher di Malam Lebaran

Beda aku, anak perempuan, dengan koko
Sepanjang waktu aku cecap rasa pahit
Tidak bisakah aku mengetahui selain isi toko?
Punya pengalaman memasak, atau menjahit

Suatu saat aku nekad pergi ketika toko masih jualan
Meski tahu hukuman apa yang akan aku terima
Aku mengendap di lorong-lorong jalan
Belajar membikin pola dan menyulam dengan benang berwarna

Kepada siapa lagi aku mencari perlindungan
Kukatakan pada Bu De sedang mencari pengalaman
Mengenal berbagai resep makanan
Mengenal bahan-bahan menjadi adonan

Aku sudah bisa membuat beberapa jenis roti
Sudah pula memutar dengan lancer mesin jahit
Siapa yang tahu tentang esok dan nanti
Tanpa bekal akan tetap terkurung dalam ruang sempit

Karena aku bukan seorang pewaris
Masa depan diperjuangkan sepenuh hati
Seperti dulu Kartini menulis
Tentang mimpi suatu saat nanti

Baca juga: Rumah Tua

Kata-kata Papa sampai hari ini masih membekas
“Bukanlah perempuan pewaris nama besar dan harta keluarga”
Apakah aku harus terima saja jalan hidupku dirampas?
Menerima diri menjadi budak terpenjara

Hanya tekad yang membuat sesorang menjadi berani
Bukan lagi mengutuki diri sendiri
Jadi, hari ini aku harus mencari modal menguatkan diri
Sampai suatu saat jika sudah cukup aku akan bisa lari

Aku berharap Pak De-Bu De memberi dukungan
Tetapi, apakah mereka juga akan memberiku jalan sepenuhnya?
Suatu saat mereka kepadaku memberi wejangan
“menjaga kemurnian darah keluarga”
Pesan yang selalu menghantui angan-angan
Sekalipun Pak De-Bu De lebih baik, soal ini tak beda dengan Papa

Pagi melintas dengan lambat dan gelap
Aku harus segera berlari agar menemukan cahaya
Haruslah dicari kesempatan untuk ditangkap
Hanya dengan menguatkan diri aku menjadi berdaya


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *