Mee, Namaku (22)

Mee, Namaku (22). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee belajar Indonesia dan mengenal Kartini. Kelanjutanya, terjadi peristiwa politik besar tahun 1965 yang menghentikan harapannya, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (21)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

22

Kata Kartini habis gelap terbitlah terang
Apakah akan terjadi padaku dalam mengarungi hidup
Sementara sekarang jalanku masih remang
Belum tahu masa depan akan terbuka apa tertutup

Baca juga: Pulang

Di kotaku udara memang masih sejuk
Hanya matahari pagi yang menghangatkan
Aku menyaksikan, tak biasanya orang sangat sibuk
Hilir mudik, berbisik, bergerak tanpa tujuan

Hari itu hari Jumat
Kalender menunjuk akngka 1 Oktober enam lima
Aku kira akan terjadi kiamat
Situasi terasa genting membara

Toko-toko tutup tanpa aku tahu sebab
Padahal kalender tidak tanggal merah
Katanya, ada peristiwa biadab
Telah terjadi pertumpahan darah

Kemudian aku saksikan, semua telinga menempel radio
Mendengar berita dari nun jauh disana
Yang aku dengar hanya pidato-pidato
Entah siapa yang mengucapkannya

Aku sudah berseragam sekolah lengkap
Tapi seisi rumah melarangku pergi
Kata mereka di jalan aku bisa ditangkap
Sebabnya apa, juga aku tidak mengerti

Baca juga: Pak Hakim

Menjelang sore aku mulai memahami
Penyebab gerahnya sepanjang hari
Katanya ada penculikan jenderal di ibu kota negeri
Tapi apa urusannya dengan kami disini

Pak De menjawab pertanyaanku karena aku mendesak
Katanya, Tiongkok negara penganut komunis
Mana bisa orang perantauan disini bisa mengelak
Tak satu orang pun bisa menangkis

Partai komunis di negeri ini dianggap yang bertanggungjawab
Karena ulahnya peristiwa semalam di ibu kota
Tiba-tiba aku merasa hari depanku akan semakin gelap
Mimpi terang tak akan menemukan cahaya

Hari kedua, hari Sabtu, aku masih berseragam sekolah
Aku mendapat kabar, sekolah belum bisa dibuka
Aku tak pergi, diam seperti ranting patah
Aku merasa sangat berduka

Hari Senin, Selasa, Rabu … aku masih rajin
Berharap sekolah sudah bisa masuk
Tetapi kabar dari sekolah; tak dapat ijin
Menandakan makin gelap hari esok

Baca juga: Amsal Burung Pelatuk

Habislah riwayat, gedung sekolah disita
Siswa belajar tak bisa lagi meneruskan
Bahkan aku tak tamat kelas tiga
Seperti mobil mogok karena kecelakaan

Peristiwanya di ibu kota
Badainya menghantam keluarga
Toko Papa juga disita
Tak tahu kapan batas waktunya
Papa pontang-panting mencari cara
Agar toko sumber hidup kembali ke pangkuannya
Tak mudah, karena Papa belum Indonesia
Tumpuan tinggal kepada Pak De belaka
Karena dia sudah pindah warga negara

Kabar menjadi semakin tidak pasti
Bisa kami hanya mengurung diri
Kami gemetar ketika suara sirine berbunyi
Tak ada yang bisa menjamin tak akan masuk bui

Sehari rasanya berabad-abad
Gerak kami terbatas pada sepetak rumah
Kalau kami berbuat nekad
Isi rumah kami bisa dijarah

Di Tengah malam aku buka bukuku
Berhenti pada halaman kosong terakhir kali
Sekuat daya aku goreskan penaku
Dan selamanya tak pernah aku buka lagi:

jalanku begini
kututup harapan
memunguti yang jeradi hari ini


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *