
Kemarin, kabar duka menyemai bumi…
Tentang Kau yang selalu ramah, mengumbar senyum dan melambaikan tangan menyapa
manusia tanpa sekat hingga Tuhan memanggilmu pulang di usia 88 tahun…
Lonceng berdentang di seluruh penjuru dunia, menggemakan bunyi mengabarkan duka
tentang mangkatnya sosok bersahaja…
Ada mendung menggantung di langit, memayungi wajah-wajah murung burung merpati
yang hari itu enggan mengepakkan sayapnya yang terasa berat berbalur duka…
Masih terngiang seruan damaimu di tanah Gaza, Rusia, juga Ukraina…
Lalu, adakah desing peluru dan dentuman bom di ladang perang bakal berhenti selepas Kau
pergi?
Dari Casa Santa Marta duka mengalir membanjiri seluruh dunia…
Dan, jutaan orang menundukkan kepala, mengingat, mendoa, melepasmu Bapa…
Sawangan, 22 April 2025
Baca juga: Mee, Namaku (21)
Segumpal Racun
Kuberharap kau menyentuhnya
Mengunyahnya barang dua detik saja…
Lalu, kubayangkan matamu mendelik, lidahmu terjulur, bertindih liur busa yang keluar dari
bibirmu…
Aku dengan akal sehatku ingin membunuhmu…
Mencoba memenggal takdir umurmu lewat segumpal racun…
Marahkah Tuhan padaku? Pikiran itu terus mendedah batin, berkelindan mengitari benak,
menabrak-nabrak…
Tiga hari berlalu, lubang yang kusiapkan buat menguburmu masih kosong …
Kau belum juga menyentuh, juga belum mengunyah seonggok makanan pemutus ajal…
Dan, aku masih mendengar suaramu, memecah sunyi malam…
Makanan itu masih belum kau sentuh, entah kapan bakal kau cicipi…
Tapi aku sedikit lega, setidaknya hingga hari ini aku belum jadi pembunuh… Dan, dua jam
lalu, aku melihat kelebat ekor lancipmu Tikus, kencang menampar dinding …
Sawangan, 22 April 2025
Baca juga: Pulang
Mawar Senja
Tak lagi merah apalagi merekah, bahkan kelopakmu ringkih mengering …
Tak apalah…biarkanlah…
Duhai niscaya, adakah yang abadi di dunia?
Seperti pagi yang digantikan malam…juga panas disaput hujan…
Dan sekarang, Kala putih mengepung raga…berbaur samar penglihatan..
Kunikmati desir angin yang menelisik jendela membelai kelopak mawar senja…
Sawangan, 22 April 2025
Baca juga: Mesin Cuci
Kunto Wibisono, lahir di Semarang, 24 Januari 1970. Menekuni profesi wartawan sejak tahun 1995 di berbagai surat kabar: Sinar Pagi, Berita Kota, Berita Pagi (Palembang), dan penulis naskah tayangan televisi. Juga menulis berbagai novel: Kuatkan Aku (2008), Ngeband Yuk, editor novel Black Robe, buku Kahitna: Di Antara Kebahagiaan, Cinta dan Perselingkuhan. Saat ini tinggal di tepian Depok, mengajar musik, dan menikmati hening malam serta kicauan burung di pagi hari.
(Editor: Iman Suwongso)
