Mee, Namaku (20)

Mee, Namaku (20). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee tidak naik kelas karena kurang belajar. Kelanjutanya, Mee belajar bahasa, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (19)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

20

Aku sudah umur sepuluh
Aku tak kenal Indonesia
Aku belum mendapat suluh
Apalagi mengenal bahasa
Aku hanya kenal bahasa Cina melulu
Juga Jawa karena Mbok Bi’ah

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

Kalau masuk pada sekolah Minggu
Aku kelihatan bodoh dan tak beradab
Aku selalu menghindar dari wajah guru
Aku tak bisa membaca pelajaran dari al-Kitab
Kitab yang aku bawa bersampul biru
Hanya tergeletak di atas meja, tertutup rapat

Al-Kitab ditulis dengan abjad Indonesia
Menjadi hantu setiap Minggu pagi
Aku tak pernah bisa mudah menghafalnya
Di dalam benakku hanya berderet huruf kanzi
Huruf kanzi pun belum aku kuasai semua
Susahnya tidak terperi

Kamu harus tahu Indonesia
Karena di sini kakimu menginjak
Itu yang selalu dikata guru bahasa
Membuat aku tak bisa mengelak
Aku mulai menghafal dari huruf a
Merangkai kata berpetak-petak

Semua kubaca, semua kueja
Di papan nama juga papan iklan
Buku anak-anak bergambar aku baca
Kubaca sambil dolan
Tak sekeras belajar kanzi, aneh rasanya
Apa memang begini ciri peranakan?

Belajar Indonesia juga mulai di sekolah
Belajar menyambung, belajar mengeja
Kenapa menjadi terasa mudah?
Mungkin harus bertekad sekeras baja

Baca juga: Sastra Vs Penguasa

Aku belum bisa menyusun cerita
Tidak halnya menggunakan huruf kanzi
Menggunakan Indonesia masih terbata
Tapi saatnya bisa diuji

Belum setahun di kelas tiga
Indonesiaku sudah tak perlu mengeja
Tak lama lagi bisa berlaga
Menulis cerita dengan bahasa Indonesia

Kini aku tahu tiada beda
Antara matematika dengan bahasa
Selagi belajar tiada jeda
Aku menjadi cepat bisa

Hari Minggu bukan lagi kelabu
Tidak ada lagi momok di sekolah Minggu
Aku sudah berani menatap wajah guru
Dan membuka halaman al-Kitab biru

Suatu hari aku dipanggil Bu De, diajaknya ke toko buku
Aku disuruh memilih buku cerita
Baik hati Bu De, aku tidak tahu
Katanya kemudian, buku itu hadiah
Hadiah karena aku cemerlang di sekolah Minggu
Kata guru, aku maju pesat dalam membaca

Baca juga: Semut-Semut Budaya

Siapa tak bahagia mendapat pengakuan?
Buah prestasi dan kerja keras
Meyakinkanku kalau hidupku bukan kutukan
Aku juga bukan seorang anak pemalas

Hari-hariku rasanya berisi belajar
Bermainpun sambil belajar
Guruku kerap kali berujar
Suatu saat nanti kamu jadi orang besar

Kelas tiga seperti langit penuh bintang
Telah lepas dari ketakutan tidak naik kelas
Di antara teman-teman aku cemerlang
Dengan bahasa Indonesia sudah mampu mengarang bebas

Ketika malam menjelang
Aku masih suka membuka jendela
Aku suka bertanya pada bintang-bintang
Apa Mama-Papa kepadaku masih akan mencela?
Aku berharap pagi segera datang
Papa mengantarku sekolah naik sepeda
Kepada Papa aku akan bilang
Anakmu bintang di sekolah

Tetapi ketika pagi sudah di depan mata
Tak ada Papa dengan sepeda

Baca juga: Clurit Sakerah

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *