Mee, Namaku (18)

Mee, Namaku (18). Foto/Ilustrasi/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, Mee berprestasi di sekolah. Kelanjutanya, bagaimana kabar Papa Mee, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (17)

Bagian 3

Aku Bukan Anak Bodoh

18

katanya aku suka berlari
jalanan diguyur terik matahari
aku sekolah sudah beratus hari
pergi pulang aku sendiri

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

sudah biasa berjalan kaki
sering kali tidak memakai sepatu
kenapa beda dengan adik laki-laki
pulangnya dijemput oleh pembantu

pembantu datang pagi untuk memasak
membantu pekerjaan Mama
habis masak mengantar adik naik becak
pulangnya diantar sampai di depan rumah

bayangkan kamu menjadi diriku
apakah kamu tidak akan bersedih?
membedakan adik laki-laki dengan aku
membuat darahku sering mendidih

kesediahan yang aku simpan di dalam hati
tak pernah berani aku ungkapkan
sekalipun aku pengarang yang lihai
ceritanya tak pernah bisa aku tuangkan

kertas dan pena sudah di atas meja
tinggal memulai dari huruf pertama
rasanya jemari kaku untuk memulai mengeja
tak bisa disebut satu pun nama

*

siang itu, pulang sekolah
keluar kelas tidak ada tanda-tanda
di halaman sekolah aku terperangah
ada seseorang membawa sepeda

Baca juga: Laki-laki dalam Kamar

seseorang itu tak lain adalah Papa
aku ragu menghampirinya
apakah ia sedang bertemua ibu kepala
dapat panggilan karena masalah putrinya

Papa memanggil namaku
perlahan aku mendekatinya
kalau begini aku menjadi terharu
Papa menujukkan perhatiannya

Papa mengajakku pulang
seumur hidup baru kali ini aku dibonceng Papa
aku merasa bangga ternyata mendapat sayang
dari orang tua yang tak pernah menyapa

siang ini seperti sedang bermimpi
pada tidur yang tak pernah nyenyak
dijemput Papa dengan sepeda jengki
bis berpamer diri pada orang banyak

sudah lama berharap peristiwa seperti ini
seorang anak mendapat perhatian orang tuanya
barang kali setiap anak punya mimpi
perhatian dari orang tua juga kasih sayangnya

Baca juga: Sajak Lima Belas Januari

Papa membawaku pulang
tapi aneh sepanjang jalan
sepeda dibawa tidak ditunggang
Papa menuntunnya pelan-pelan

Papa menuntun dengan memegang setang
aku berjalan mengikuti berpegang boncengan
meskipun begitu kegembiraanku tiada terhalang
dari pada tiada penjemputan

begitupun sudah bergembira tiada tara
bagaimana kalau aku dibonceng
mungkin aku merasa dipucuk menara
berkabar kepada semua orang seperti bunyi lonceng

mungkin kamu sedang mencibir
kebahagiaanku kau anggap tidak ada nilai
cobalah kalau kau dibuang sampai jauh ke pinggir
pada suatu saat dipungut kembali

siang yang mengejutkan itu selalu kukenang
inci demi inci peristiwanya tak akan kulepas
suatu saat akan berguna bagiku sebagai pengarang
akan aku susun cerita dengan lugas

seorang Papa menjemput anak gadisnya
dengan sepeda RRT yang sudah tua
sungguh bagiku peristiwa menggemparkan dunia
sekalipun tak akan pernah dimuat koran berita

mengapa Papa menjemputku?
tiada seorangpun yang tahu
untuk apa pula ia membuang waktu?
barangkali ia masih punya rindu

Baca juga: Sastra Vs Penguasa


(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *