Anak Kecil yang Tak Merajuk

Anak Kecil yang Tak Merajuk. Foto/canva.com

Pitu termangu, anak berumur 6 tahun itu menunggu. Alih-alih merajuk. Di ruang Cemara ia duduk membaca. “Lho, belum tidur?” tanya Pitu, tanpa merasa bersalah, apalagi berdosa. Pitu sudah lama kebas. Ia masuk rumah pukul 22.00 WIB. Mata bocah itu berkilat.

Baca juga: Tato Kecoak di Punggung Telapak Tangan

Anak yang berniat menginap untuk menjumpai Pitu, sejak selumbari merayu ibunya untuk pergi menginap di rumah beratap jalinan bambu berselimut kabut saat pagi. Sedangkan sore itu Pitu meninggalkan mereka untuk memenuhi agenda di timur desa.

Pitu pulang terlambat dua jam lebih seperempat dari janji. Pitu masuk rumah ngomel-ngomel karena kepanikan yang tak penting. Baru kali ini Pitu pulang dan dinanti Liyan, anak berumur enam.

“Dia sudah menunggumu sejak tadi dan tak mau masuk ke kamar, Pi,” seru ibu Liyan, dengan tatapan menelaga.

Pitu menoleh mendengarkan bisikan Liyan, “Pi, katamu tadi kita akan menulis surat untuk Rindu. Apakah tidak jadi?”

“Jadi, Li. Besok pagi-pagi kita menulis surat dan kita kirim lewat rumah Merpati tak jauh dari sini,” sambut Pitu.

Setelah ke toilet, Liyan masuk kamar, melirik Pitu. Pitu belum sadar atas apa yang ia sudah buat, “selamat tidur, Li,” pekik Pitu tanpa maaf, tanpa pelukan.

Baca juga: Pohon Ficus di Hutan Buraku

Wajah Liyan seperti mega-mega di puncak Semeru. Diam dan dingin. Menghilang di balik pintu.

Pagi yang terbangun karena Pitu mendengar Ibu Liyan mengarak piring kotor. Ia duduk di anak tangga paling atas, mengumpulkan nyawa, dari belakang Liyan menyusul bangun.

“Kapan?” tanya Liyan.

“Jam delapan,” sambut Pitu.

Ibu Liyan mendengarkan dengan tengkuk. Liyan memandang Pitu dan Pitu cengengesan, “sudah lebih tujuh belas menit.”

Mereka beranjak ke ruang studi untuk merangkai kata-kata, menghidupkan rasa, dan merawat anjangsana ketika dua tangan belum sanggup meraih. Liyan menyelesaikan tugas kemanusiaan dan mengantarnya sampai ke rumah Merpati.

Tiga hari lagi akan sampai pada Rindu, Pitu mengatakan pada Liyan, memastikan semua oke.

Kembali ke rumah yang sudah menanggalkan kabut pagi, Pitu mandi. Dan di kamar mandi mendengar Ibu Liyan menjerit. Apalagi? Batin Pitu. Surat lupa diselipkan ke dalam bingkisan buku untuk Rindu. Liyan dengan tenang memandangi dua perempuan gedabikan menyusulkan dua carik surat yang tergeletak di meja pustaka. Yang utama malah terlupa.

Baca juga: Terkenang India pada Serakan Puisi Sunyi

Liyan menginjak usia enam, tahun ini. Liyan memberikan peringatan atas keteledoran, dengan menolak pelukan. Ia memperingatkan Pitu. Pitu pun membaca gelagat Liyan lekas. Ibunya tak Liyan perkenankan ikut campur. Liyan sudah menghilangkan kata merajuk di kamusnya.

Pitu terjaga.

Turen, 12 Februari 2025

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *