Mee, Namaku (11)

Mee, Namaku (11). Foto/canva.com

Pada larik-larik tayangan sebelumnya, tahun baru melaju, menyisakan renungan membelenggu. Kelanjutanya, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (10)

Bagian 2

Perempuan Tiada Guna

11

aku termangu
di sudut dipan tak berkelambu
pikiranku mengembara
di antara wajah dewa-dewa
pertanyaan demi pertanyaan belum terjawab
bagiku, tak ada soal tanpa sebab

dewa-dewa apa sudah kembali
setelah terbang tinggi
membawa mimpi
terberkati

Baca juga: Soesilo Toer: Pram Itu Ideologinya Kebebasan

aku juga ingin bertanya
apakah doa Papaku didengar
apa titipan harapannya tidak nyasar
hidupnya makin sejahtera

aku harap dewa-dewa tidak membuka telinga, tidak mendengar, tidak hirau, dianggap sedang tidak ada siapa-siapa!
aku harap dewa-dewa tahu, Papa bukanlah orang yang taat, tidak ibadah, hanya bersua dengan dewa-dewa di hari raya!
aku harap dewa-dewa tahu, Papa tak punya agama, hanya tercatat di KTP karena kewajiban negara! agamanya tidak lain hanya kerja, kerja, dan kerja!

aku masih termangu
di kamar gelap tiada lampu
bagaimana kalau para dewa tidak mau mengerti?
apakah aku akan mengaduh pada para dewi?

dewa-dewi
apakah kalian sudah kembali?
kapan kita berjumpa lagi?
sebelum datang pagi

dewa-dewi
apakah kalian ajarkan pada Mama-Papa
tentang menghina
dan tentang membuang anaknya sendiri
apa kau ajarkan pula
antara perempuan dan laki-laki
yang satu tidak berguna
yang satu pewaris sejati
yang satu seonggok sampah
yang satu pundi-pundi
aku tidak sekedar bertanya
aku ingin mengerti

baiklah, kalau belum menjawab kali ini
tetapi, katakan padaku malam ini
sekalipun dalam mimpi

Baca juga: Sajak Lima Belas Januari

tadi aku mendengar
pertama kali sebagai kabar
sebelumnya tak terdengar
syair yang mirip namaku
nama kebanggaanku
bunga yang cantik rupa
Mei Hua

syair yang menggigit
membawa terbang jiwaku ke langit
bunga cantik yang gagah
tak sedikitpun memilih patah
sekalipun dingin membekukan
salju mengibaskan
badai hujan dan angin memporak-porandakan
ia tetap bermekaran
semakin banyak di sembarang lahan

aku termangu
namaku secantik namanya
tetapi tidak untuk kegigihannya
barangkali, aku hanya seperti
Mei Hua, pohon-pohon penghias mimpi
yang dipajang di sudut ruangan
warnanya pucat tak berdarah

Oh, Mei Hua
syair penuh makna
dan pohon hiasan belaka
akulah mimpi indah
yang terbuang di selokan

*

semalam adalah sisa-sisa hari raya
mengendap mewujud nelangsa

jawabanya nyata hari ini
matahari telah menyembul pagi
aku tak kuasa berdiri
dalam kamar yang lampunya mati
di luar, rumah sunyi sepi
mereka telah pergi
aku di dalam kamar, sendiri
terkunci!

Baca juga: Bilangan Fu; Pertarungan Nilai-Nilai Tradisional dan Modern

 

(Bersambung)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *