
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, tak ada pembelaan bagi Mee. Kelanjutanya, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (9)
Bagian 2
Perempuan Tiada Guna
10
hujan menderas
airnya tempias ke teras
tidak menghalangi para pekerja keras
rumah dan toko-toko dihias
Baca juga: Sajak Lima Belas Januari
sudut perempatan ini rasanya menyala
dominan warna-warna merah
di atap
di teras
di lorong
di pinggir jalan
lampion-lampion bergantungan
kala malam tiba
lampu-lampunya menyala
benderang
begitulah, katanya
makhluk ganas yang gelap
harus dilawan dengan terang
dengan cahaya dan warna-warna benderang
memandangi kerlap-kerlip
langit seperti sedang berpesta
aku ingin terbang jauh ke sana
katanya, esok para dewa juga akan pergi ke angkasa tinggi
kalau aku esok pergi ke tempat
persemayaman para dewa-dewi
aku akan berbisik
untuk ikut terbang ke langit tertinggi
kalau boleh, akan tinggal di sana
tidak akan kembali
di langit katanya tinggal mengucap
tinggal berharap
segera terwujud segala pinta
di depan mata
pakaian yang indah
makanan yang enak
teman yang ramah
tak ada yang tamak
di langit aku akan bertanya
mengapa namaku yang cantik
hanya sekedar nama
tak pernah dapat perlakuan apik
Baca juga: The Scarlet Letter: Sebuah Kisah Tentang Dosa, Penebusan, dan Pilihan Hidup
aku tidur di kamar gelap
jendela terbuka, langit aku tatap
malam ini
sekalipun aku tertidur akan aku bawa dalam mimpi
*
tahun baru tinggal menunggu hari
tahun baru dari leluhur kami
tulisan-tulisan melafal gong xi fa cai
mereka segera akan pergi
bertemu dewa-dewi
di sebuah klenteng
berjalan gandeng renteng
aku harus tetap di rumah
bajuku masih baju lama
tak dapat ganti dari Mama
jadi, apa bedanya kemarin dan hari ini
tahun lama yang berganti tahun baru
tidak ada
aku tak boleh bermimpi
karena akan sia-sia
Baca juga: Setyawati Sulaiman, Arkeolog yang Ungkap Kejayaan Sriwijaya
ketika aku bertanya dalam hati
apakah para dewa dan dewi
masih bisa mengerti?
mataku berkaca
tanpa kata-kata
tetapi, kali ini tanpa aku duga
Pak De menemukanku di balik jendela
ia menuntunku ke rumahnya
mengganti bajuku dengan warna bunga-bunga
dewa datang padaku
berwujud Pak De, kakak Mamaku
“kamu ikut aku
bersama budemu
kakak-kakakmu
merayakan tahun baru”
kata Pak De
rasanya cahaya dan warna-warna terang itu
menyinari aku
aku terhindar dari makhluk gelap
yang akan memangsaku
aku dan anak-anak Pak De bergandeng tangan
sambil bernyanyi sepanjang jalan
sebentar lagi aku elus punggung dewa
aku pijat tengkuk dewi
aku akan mengaduh kepadanya
tentang Papa, Mama, dan adik-adikku
“tidak boleh
mintalah yang baik-baik
agar dewa pergi tidak membawa susah
agar dewi pergi tidak memendam sedih
mereka kembali membawa berkah
mereka kembali membawa rejeki”
kata sorot mata Pak De
Baca juga: Angin Januari
di depan patung dewa dewi
aku mematung seorang diri
memandangi wajahnya satu demi satu
rasanya aku telah melintasi waktu
“suatu saat aku akan berurusan denganmu”
bisikku
sebuah tangan memegang lenganku
“hui jia,” katanya
pulang ke rumah?
bisikku, nyaris tanpa makna.
