
Pada larik-larik tayangan sebelumnya, perbedaan perlakuan pada Mee dan pada adik-adik (laki-laki)-nya. Kelanjutanya, di tayangan berikut. Baca juga: Mee, Namaku (8)
Bagian 2
Perempuan Tiada Guna
9
lebam, lecet, berdarah dan membiru
kalau aku berkaca hilang paras ayu
mereka tak menunjukkan wajah haru
sehari-hari aku menjadi anak pilu
Baca juga: Sajak Lima Belas Januari
adik-adik diajari untuk mencemooh
kebahagiaannya tiada tara
ketika aku mendapat sengsara
ketika dihadapannya aku tampak bodoh
dua adikku suka main keroyok
satu menjambak rambutku
satu mencubit lenganku
satu mencengkeram leherku
satu menggigit punggungku
aku tersudut di pojok lemari
persis, seperti tikus menghadapi kucing
aku selalu kalah
aku selalu mengalah
dan aku harus kalah
pada saatnya aku marah
aku melawan mereka
aku kalap, membabi buta
tamparanku mendarat di muka
wajahnya membekas telapak, memerah
yang satu berhasil kuangkat, kulempar
tubuhnya sampai terkapar
mereka meraung
raungnya seperti tanda kematian
tangisnya mendengung
dengungnya memenuhi ruangan
Baca juga: Setyawati Sulaiman, Arkeolog yang Ungkap Kejayaan Sriwijaya
Mama datang tergopoh
mencengkeram lenganku
mataku masih sengit melotot
otot Mama membuat ototku kelu
adik-adikku
yang dilatih menghinaku
menyerang seperti kawanan srigala
segala kekuatan, segala daya
mereka menerkam
dengan kuku-kuku yang tajam
dan gigi-gigi menggigit, sampai kulit membekas rahang
aku sakit
lenganku sakit
punggungku sakit
kepalaku sakit
hatiku sakit
kompak, seluruh isi rumah membuatku sakit
nyeri tak tertahan
membuatku menggigil
di sudut kamar
semalaman
rasanya wajahku pasi
*
aku bukan anak pemalas
tetapi aku tidak boleh
memegang barang-barang
yang dijual di toko Papa
mereka bilang aku ceroboh
aku tak punya tenaga
beda dengan adik-adikku
mereka boleh masuk toko
mereka boleh menata kaleng-kaleng kue
mereka boleh menumpuk gula
mereka boleh menimbang beras
mereka boleh menambal uang robek
mereka boleh menyentuh seluruh isi toko
mereka mendapat pujian
mereka diajari cara berhitung uang
mereka diperkenalkan sebagai anak Papa
mereka mendapat hadiah
mereka membuatku iri
Baca juga: Terkenang India pada Serakan Puisi Sunyi
mereka bilang aku pengganggu
dan penghambat rejeki
hadiahnya tak lain adalah cemeti
peristiwa yang sial!
aku tanpa sengaja
menyenggol barang dagangan
tumpah, berserakan
gemetar aku menata ulang
barang-barang tak terbilang
di rak-rak yang tidak pernah aku hafal
sekalipun salah tidak fatal
punggungku disabet dengan sandal
*
oh! dunia
masih adakah tempat di sana
yang memperlakukan orang tanpa hina
dimana?
di sini aku hanya tak berguna
di sini aku hanya bodoh
di sini aku hanya pengganggu
di sini aku hanya penolak rejeki
aku bukan seperti adik-adikku
aku tak punya masa depan
aku hanya akan menjadi beban
aku tak ada untung
Baca juga: Angin Januari
karena itukah Papa kejam?
karena itukah Mama kasar?
karena aku anak perempuan?
bukankah Mama juga perempuan?
aku lemah?
mengapa Mama kuat?
bukankah Mama bekerja sampai larut malam?
mereka anggap aku tak bisa bekerja?
ketika bulan menyusup pada bunga kertas
ia membuatku mengerti
Mama bekerja tanpa arti
sekalipun sampai pagi
sekalipun sampai mati.
